Captain's Pasta, One-meal Pasta

[Original Fiction] Satu Sisi

BOYGIRL

 

 

“…apa kau tetap mau membaca cerita yang tidak sempurna ini? Cerita yang hanya mempunyai satu sisi…”

By Nuevelavhasta

 

 

Malam Minggu yang disebut-sebut sebagai ‘malam keramat’ bagi mereka yang belum punya kekasih ini, aku habiskan bersama Josephine, atau nanti lebih akrab kupanggil Jose. Apa? Bukan. Dia bukan kekasihku. Ya, dia dan aku sama-sama sendiri tapi hubungan kami hanyalah sebatas sahabat. Tidak lebih dari itu. Dan aku berani menjamin itu.

“Jadi … nggak jadi cerita nih?” aku merasakan lega ketika bandrek yang kuminum membasahi kerongkonganku.

Bisa saja aku dan Jose pergi ke klub malam malam ini. Toh, usia kami juga sudah legal. Tidak akan ada omelan orang tua yang akan kami terima jika kami baru pulang subuh. Tapi rupanya bagi kami, pesona angkringan di pinggir jalan pada malam hari di Kota Pelajar jauh lebih menggoda. Dan alih-alih minum bir atau minuman sejenis yang biasa tersaji di bar-bar, kami memilih untuk meminum bandrek yang sering disebut sebagai bir-nya Jawa.

Jose tersenyum. “Gimana ya?” gumamnya menimbang-nimbang.

“Oke fine kalo kamu nggak mau cerita. Makasih udah di-PHP-in,” balasku setengah kesal.

Jose tertawa. Tapi tawanya teredam oleh suara pemilik angkringan yang sedang membuat teh tarik untuk pengunjung lain.

“Bukan gitu, Nathan,” kata Jose.

Aku mencomot tempe goreng yang tersaji sebelum menyahut. “Ya udah, kalo gitu cerita aja. Cerita pake gayamu yang ceriwis kayak biasanya itu lho.”

“Yakin masih mau denger? Cerita ini bukan cerita yang sempurna lho. Cuma kelihatan dari satu sisi aja.”

That doesn’t matter, Jo,” balasku dengan penekanan berarti. Cukup keras sih. Tapi dengan suasana angkringan yang ramai begini, kurasa itu bukan masalah. “Kita kayak baru kenal kemarin sore aja. Udah berapa lama kita kenal? Dan udah berapa banyak obrolan nonsense yang kita obrolin?”

Lagi-lagi Jose tertawa. “Iya, iya. Kalo gitu aku bakal cerita.”

“Nah, gitu dong!”

Jose sengaja memberi jeda untuk memakan sebiji-dua biji kacang goreng yang dikemas dalam plastik klip kecil-kecil. “Jadi … ini cerita soal … cerita cintaku … waktu aku umur tiga belas tahun.” Jose mulai bercerita di sela-sela kunyahan kacangnya.

Dan entah kenapa aku juga ikut menikmati kacang seperti dia. “Oke. Lanjutin.”

So, waktu itu aku yang masih kelas dua SMP lagi keluar buat cari jajan―soalnya lagi jam istirahat―ke belakang sekolah. Waktu itu jugalah aku ketemu sama kakak kelas yang bakal jadi pemeran utama pria di cerita ini. Kalo diinget-inget lagi, gimana aku bisa naksir dia tuh … so damn simple. I mean it. Aku dengan niat mau cari makan, tiba-tiba langkahku harus berhenti cuma karena aku lihat sesosok kakak kelas yang masuk ke parkiran sepeda. Asumsiku waktu itu dia lupa bawa buku dan itu didukung sama buku yang ada di setang sepedanya. Waktu itu rasanya waktu bener-bener melambat. Aku ngerasa ada di dalam adegan slow motion.”

Aku bersiul. “Wow, simple banget ya?”

“Yup. Se-simple kamu yang langsung demen sama SISTAR waktu liat video mereka yang Alone.” Tawa renyah Jose di akhir tidak membuatku kesal. Justru aku ikut tertawa. Sindiran itu benar apa adanya.

So, the point is … kamu mulai naksir sama itu kakak kelas?” tanyaku sekedar meminta konfirmasi langsung.

Jose mengangguk. “Iya. Terus besoknya pas jam olahraga, aku baru sadar kalo selama ini kelasku selalu bareng sama kelas si kakak kelas ini. Bego banget kan? Aku baru sadar masa!”

Aku tertawa renyah. Tidak kalah dengan kacang goreng yang masih kumakan. “Memang kapan kamu pinter masalah begituan?” cibirku dibalas leletan lidah oleh Jose. “Oke, go on, Girl. Sehabis kamu sadar kalo si kakak kelas ini ternyata jam olahraganya barengan sama kelasmu…”

“Ya otomatis aku jadi nggak sabar setiap kali jam olahraga mau dateng!” lanjut Jose. “Daaannn … aku beraniin diri buat PDKT duluan ke dia.” Jose nyengir.

Nope, that’s good! Itu namanya usaha dan nggak ada yang salah sama itu!” belaku. Hei, aku memang benar bukan? “Tapi by the way, nama kakak kelas yang kamu taksir ini siapa sih? Kurang enak aja kalo sepanjang cerita kita bakal nyebut dia pake sebutan ‘si kakak kelas ini’ padahal dia punya nama.”

Satu sesapan pada bandreknya dan Jose menjawab, disertai senyum tipis. “Namanya Rama.” Aku mengangguk paham dan tanpa diminta Jose sudah melanjutkan ceritanya. “Dan kamu tahu nggak, Nat? Aku minta nomer hapenya Rama ini lewat kenalanku di kelasnya. Dan kamu tahu aku bilang apa ke kenalanku itu waktu minta nomer hapenya Rama?” kini aku menggeleng sebagai jawaban. “Aku bilang kalo aku minta nomer hapenya Rama soalnya ada temenku yang naksir Rama ini tapi dia nggak berani buat maju.”

Sedetik, aku jawdrop. Lalu sedetik kemudian tawaku langsung pecah. Tawa yang keras sampai aku harus memegangi perutku dan tidak begitu dipedulikan oleh pengunjung lain.

What a bullshit!” ujarku, masih dalam tawa. “Kamu bilang kamu temenmu yang naksir? Padahal kamu sendiri yang naksir! Terus, apa? Si ‘temen’mu ini nggak berani maju?! What the heck! Nyatanya kamu beneran berani maju! Ya ampun, ya ampun, Jose … Jose … you know what? You’re quite bold, Girl!”

Jose tertawa kecil seraya mengangkat bahu tidak peduli. “Aku nggak akan mengelak soalnya kenyataannya yaaa emang gitu.”

Akhirnya aku bisa menguasai tawaku. Meski tidak sepenuhnya hilang. Jose selalu bisa membuatku terkejut dengan tingkahnya yang kadang―cukup sering sebenarnya―ajaib. “Terus? Dikasih nomernya?” Jose mengangguk. “Terus kamu apain tuh nomer? Cuma disimpen aja atau kamu langsung melancarkan aksi berikutnya?”

“Aku langsung sms dia,” jawab Jose.

Aku mengangguk, isyarat supaya Jose melanjutkan ceritanya, karena aku kembali meminum bandrekku dan meminta tambah.

“Kamu pasti bakal ketawa lagi kalo aku lanjut.”

Nah kan? “Nggak apa-apa, lanjut aja. Aku udah maklum sama semua tingkah ajaibmu kok. Tapi kalo terbiasa kayaknya belum.”

Jose menarik nafas lalu menghembuskannya dengan keras. “Waktu aku sms dia … aku … aku ngaku ke Rama kalo aku ini …” alisku naik karena jedanya tak kunjung berhenti. “Aku ngaku ke Rama kalo aku ini … agen CIA,” desis Jose di akhir.

What?! Aku benar-benar tidak sanggup berkata-kata dan sedetik kemudian sudah kembali terlempar dalam lembah tawa yang luas. Jose, Jose, kapan kau bisa berhenti mengejutkanku?

“Tunggu, tunggu, cewek macem apa yang sms ke gebetannya kalo dia ini agen CIA?”

“Cewek macem aku.” Jose menunjuk dirinya sendiri.

Aku masih tertawa, sedikit. “Tapi pastinya Rama nggak sebego itu buat percaya.”

“Jelaslah, Nat.” Jose memutar kedua bola matanya. “Dia terus bersikukuh buat menguak identitasku. Akhirnya, akupun ngalah. Tapi aku nggak beberin identitasku gitu aja. Aku masih main teka-teki sama Rama.”

“Teka-teki gimana?”

“Aku nggak ngasih tahu dia namaku. Aku cuma bilang ke dia kalau namaku itu ada empat huruf, diawali dengan ‘J’ dan diakhiri dengan ‘E’. And guess what?” tanya Jose. Aku menaikkan alis sebagai respon. “Rama langsung bisa nebak namaku dan langsung bener!” Jose histeris. “Dengan entengnya dia bales ‘Jose?’ dan aku menggila waktu itu. Edan! Kok dia bisa tahu coba? Yaaa … I mean, I’m not a popular girl, you kow? Aku bukan tipe-tipe anak famous yang noticeable!”

Dengusanku keluar. “Jose, Jose … siapa bilang kamu nggak populer? Kamu itu populer tahu. But you’re popular in your way. Kamu populer dengan gaya dan caramu sendiri? Sekarang coba tebak, siapa yang nggak kenal sama bocah yang selalu nongkrong di perpustakaan yang kalo jalan seringnya nunduk karena dia baca buku, yang kalo jajan buku setebel sepuluh senti masih digotong-gotong, siapa yang nggak kenal coba?”

“Yaaa tapi kan tetep aja, Nathan …” rengek Jose.

“Nggak ada ‘tapi’, adanya lanjuuuttt! Terus habis itu? Kamu sama Rama mulai deket?”

Jose menganggukkan kepalanya. “Iya. Kita jadi sering sms-an. Tapi terus Rama pernah sms aku, bilang kalo jangan sampe ada orang yang tahu kalo aku sama dia tuh contact-an―”

“Wahhh! Nggak bener ini!” selaku cepat. “Jo, dia nggak worth it. Kenapa juga orang-orang nggak boleh tahu kalo kamu berhubungan sama dia? Kok aneh banget? Mencurigakan tahu nggak?”

“Yaaaa … karena dulu aku tuh lugu dan polos banget, aku jawab ‘iya’,” jawab Jose lirih. “Aku baru mikir soal omongannya itu waktu aku udah lebih gede. Tapi anyway, sekarang aku juga masih polos kok!”

Aku mencebikkan bibir. “Polos apanya? Polos gundhulmu!”

Jose tertawa pelan. “Tapi terus Nat, aku juga baru tahu kalo ada temen satu angkatanku yang juga lagi deket sama Rama. Bisa dibilang dia lebih deket duluan sama Rama. Terus nih ya, waktu aku nungguin temen aku pulang di depan Ruang Kesenian, temen seangkatanku yang deket sama Rama ini nggak mau lepasin pandangannya dari aku. Pandangannya itu juga nggak mengenakkan banget!”

She was jealous,” jawabku seraya bertopang dagu.

Exactly!”

“Dan kamu? Mundur atau maju?”

“Tetep maju.” Jose nyengir lagi.

Dan lagi-lagi aku dibuat terkejut olehnya. “Jose, somehow I like your brave attitude. Kamu nggak takut nantinya bakal dilabrak sama temenmu itu terus dicakar-cakar, dijambak-jambak?”

“Aku bisa tendang atau tinju mereka,” sahut Jose enteng.

Yeah, aku lupa. Sorry. Terus gimana? Kamu sama Rama, kamu sama temen seangkatanmu yang juga naksir Rama?”

“Singkirin si temen seangkatan ini. Soalnya dia selalu sukses bikin aku cemburu dan iri.” Jose terkekeh. “Kita balik bahas Rama dan … aku aja.” Aku mengangguk tanda tidak keberatan. “Jadi intinya aku sama Rama jadi sering sms-an. Dan dulu jaman segitu itu kan, lagi jamannya tuh sms-sms alay yang semacem ‘permen/coklat apa yang bakal kamu kasih ke aku?’ terus di tiap permen atau coklat itu ada artinya kayak temen, pacar, sahabat, kakak…”

“Oke, aku tahu itu. Dulu aku juga pernah alay soalnya,” selaku dibubuhi tawa. “Pasti kamu juga ngirim gituan ke Rama?” dan Jose mengangguk sambil tertawa. “Terus kamu dapet balesan apa?”

“Aku ngirim sms begitu bukan cuma sekali-dua kali, dan jawaban yang aku dapet selalu sama; adek dan sahabat.”

“Uwwoooo!” tawaku lagi-lagi pecah “Cieee yang terjebak dalam ‘kakak-adek zone’ cieee.” Godaku sambil mengacak-acak rambut pendek Jose. “Nggak apa-apa Nak. Biasanya orang yang lagi PDKT juga sering begitu.”

Jose berhenti untuk mengambil sate usus di sana dan memberikan satu tusuk untukku. “Tapi aku masih inget … pengalaman konyol waktu aku sama Rama papasan di jalan.”

“Apa? Apa?” buruku antusias. Jangan lupa untuk minum bandrek lagi sebelum menyimak.

“Jadi gini …” Jose mulai menata kalimatnya. “Waktu itu aku habis ngambil uang kiriman Bapak dan mau ke supermarket buat beli titipan belanjaannya Ibu. Nah, pas aku selesai ngambil uang dan mau ke supermarket, aku lihat Rama dari kejauhan. Pake sepeda dan baju olahraga. My heart was beating so fast when I noticed him! Jadi aku nurunin topiku supaya dia nggak tahu aku … tapi gagal. Dia tahu kalo itu aku dan dia … lempar senyum ke aku.”

“Cieeeee…”

“Belum selesai.” Bukan telunjuk Jose yang teracung. Melainkan satu sunduk telor puyuh bacem. “Habis itu aku langsung sms Rama, ‘Eh bro, aku tadi lihat kamu lho’. Rama bales, ‘Iya, aku juga lihat kamu.’. ‘Aku juga lihat kamu senyum tadi. Emang kamu senyum sama siapa?’. Terus Rama bales gini, ‘Ya senyum sama kamu lah, Dodol!’.”

Ya ampun, Jose! Terima kasih sudah membuat malamku penuh tawa seperti ini. Terima kasih karena kamu, tanpa hadirnya pelawak kelas kakap maupun kelas teri, aku sudah bisa terpingkal-pingkal hingga hampir terjungkang ke belakang!

See? So ridiculous, isn’t it?

For the God’s sake, Jose! Aku sampe speechless! Aduh, aduh, kamu nih ya … bener-bener … bener-bener bego kalo urusan cinta!”

I won’t deny that.”

Jose berhenti sejenak dari ceritanya. Memberiku waktu untuk kembali mengambil nafas sementara dia memesan dua mie rebus untuk kami. Sembari menunggu mie rebus kami masak, kami memilih untuk mencicipi jajanan-jajanan yang ada di angkringan ini dan menyesap minuman kami kembali. Tenggorokan kami sama-sama keringnya sekarang. Sayup-sayup bisa kami dengar suara seniman jalanan yang sedang menyanyikan salah satu lagu campur sari di pinggir jalan sana.

Dan beruntung, mie rebus pesanan kami tiba kala perutku sudah mulai melancarkan aksi demo hariannya.

“Udah? Cuma segitu aja ceritanya?” pancingku dengan mulut penuh mie.

Jose yang mulutnya sama penuhnya denganku menggeleng. Baru setelah mie-nya ia telan betul, dia menjawab. “Nggak lah.”

“Terus?”

“Jadi yaaa intinya aku sama Rama makin deket. Dia kan jago matematika sementara aku nggak begitu jago. Dia nggak jago bahasa Inggris sementara aku nggak usah ditanya. Jadi yaaa meski aku kelas dua dan dia kelas tiga, aku kadang bantuin tugas bahasa Inggris dia dan kadang aku juga tanya soal matematika ke dia.”

“Aduh, kok so sweet banget sih?”

Cengiran Jose kembali muncul. “Ya gitu deh. Terus waktu acara perpisahannya dia, dia ikutan ngisi acara. Dia manggung sama temen-temennya.”

“Wuih! Jadi Rama ini anak band gitu?” well, aku benar-benar terkejut.

“Hm, gimana ya? Dibilang anak band kurang cocok sih. Soalnya setahuku Rama ini nggak punya band. Dia bisa main alat musik aja gitu.” Aku mengangguk-angguk mengerti. “Jadi di acara perpisahan, Rama ini manggung. Dia bisa main gitar sama bass. Tapi di acara perpisahan dia main bass. Nah, di acara perpisahan ini kan aku duduk di deretan paling kiri. Paling tepid eh. Pas Rama udah selesai manggung, temen-temennya itu pada turun ke sebelah kiri panggung which is my right side dan udah pasti jauh dari tempatku. Tapi Rama ini malah turun ke sebelah kanan panggung which is he passed me by! Dia beneran lewat di sampingku tapi begonya aku, aku malah sok asyik sama hapeku.”

“Bodo!” umpatku tanpa mempedulikan cipratan kuah yang mendarat di meja.

“Iya, Nat, iya. Bodo banget akunya,” balas Jose cuek dan langsung menyeruput mie-nya hingga mengeluarkan bunyi seruputan yang khas.

“Pasti waktu itu kamu salting banget ya?”

“Bukan banget lagi, Nat! Tapi udah salting bingitz!”

Aku kembali tergelak.

“Terus ya Nat, waktu itu kan aku anaknya masih labil-alay gila. Apa-apa media sosial, apa-apa media sosial. Kurang tahu mana yang bisa di-share di media sosial, mana yang nggak. Jadi aku tuh cukup sering update status facebook yang isinya tuh curahan hati ke Rama. Niatnya sih cuma pelampiasan aja. Aku juga nggak segamblang itu kok. Tapi nggak tahu akunya yang emang stupid atau Ramanya yang kelewat peka, Rama tuh bisa tahu kalo status-statusku itu buat dia. Kayaknya disini aku yang stupid deh…”

“Emang!” sahutku bersemangat.

“Makasih, Nat! Makasih!” Jose pura-pura kesal dan otomatis aku mencubit pipinya yang cukup chubby itu.

“Eh, tunggu. Tadi kan kamu nyinggung soal perpisahan … jadi gimana ceritamu sama Rama selepas dia udah nggak satu sekolah sama kamu?”

“Kita masih contact-contact-an kok. Masih sering sms. Kadang dia juga ngasih saran-saran ke aku yang mau ujian.”

Aku tersenyum mendengarnya.

“Terus someday, kita bikin taruhan…” aku menatap Jose dengan tatapan penasaran. Tapi Jose tidak langsung menjawab. Dilahapnya mienya dahulu. “Kita taruhan soal nilai UN. Kalo besok nilai UN-ku lebih tinggi dari dia, dia bakal beliin aku pulsa. Gitu juga sebaliknya, kalau nilai UN-ku justru dibawahnya, aku harus beliin dia pulsa. Dan kita sepakat.”

Girl, that’s so damn sweet!” ujarku sungguh-sungguh.

“Belom selesai.” Jose mengerling padaku. “Kayak yang aku bilang tadi, waktu itu aku anaknya masih labil dan alay dan aku juga masih suka update status yang ngode ke Rama. Singkatnya, suatu hari aku kambuh lagi nge-update status buat Rama. Dan sialnya, Rama baca status itu dan langsung sms aku. Dia tanya apa status barusan buat dia apa nggak? Otomatis aku jawab ‘nggak’lah! Malu banget akunya! Tapi setelah perdebatan alot dan lama, akhirnya aku nyerah. Aku ngaku kalo status barusan emang buat dia.”

Then?” alisku naik.

Then … Rama bilang kalo taruhannya diubah.”

“Diubah gimana?”

“Kalo nilai UN-ku bisa melampaui nilai UN dia, Rama bakal nraktir aku. Tapi….” Jose memberi penekana berarti pada kata ‘tapi’. “Kalo nilai UN-ku nggak bisa melampaui nilai UN-nya, aku harus beliin dia pulsa.”

“Lho? Kok berat sebelah gitu?” spontan aku bertanya.

“Maka dari itu, Nat. Waktu aku tanya gitu, ‘apa nggak apa-apa taruhannya gini?’, ‘bukannya harusnya aku juga nraktir kamu?’ dan sebangsanya, Rama ini bilang nggak apa-apa. See? Pengertian banget dia kalo aku masih bokek di jaman segitu.” Jose tertawa pelan. “Tapi terus Rama sms gini, ‘Coba kamu nggak ngaku kalo status itu buat aku, taruhannya juga nggak bakal berubah’.”

Seketika itu, mataku membulat. Dan untung, mieku sudah tertelan. Aku menatap nanar Jose sementara yang ditatap malah memberiku tatapan heran.

“Jose! Dia mau nembak kamu ya?!” tanyaku.

“Pertanyaanmu sama kayak temen baikku yang aku ceritain masalah ini.” Jawaban Jose tidak berefek apapun padaku. “Awalnya aku juga mikir gitu. Tapi kemudian aku nggak mau terlalu berharap. Aku bilang ke diriku sendiri ‘mana mungkin?’. Rama ini demennya kan cewek-cewek yang kayak SNSD, SISTAR gitu. Nah, kalo aku? Mendekati SNSD, SISTAR aja nggak. Aku lebih mirip bocah lima tahun yang suka kelayaban di sawah.”

Dengan terburu, aku tandaskan mie di mangkokku hingga tidak bersisa. Sungguh berkebalikan dengan Jose yang masih tenang. Buru-buru pula kuhabiskan bandrekku dan kini memesan wedang jeruk jahe hangat.

“Terus hasil taruhannya?”

Jose mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf ‘v’. “Aku menang!”

Aku ternganga. “Jadi … kamu … beneran jadi ditraktir sama Rama?”

Jose meringis sambil mengangguk. “Iya. Dia nraktir aku di salah satu restoran. Bukan restoran mahal kok. Aku masih inget waktu itu traktirannya hampir ketunda soalnya dia ada jadwal remidi. Tapi aku mau nungguin―gila aja! Aku kan udah laper banget! Terus dia dateng bawa motor, aku masih inget pas dibonceng dia aku nggak denger apa yang dia omongin soalnya anginnya kenceng banget dan aku nggak bawa helm. Beruntung juga waktu itu ada polisi tapi kita nggak ketilang.”

Damn, Girl! Terus, terus?”

Gila! Menurutku itu manis sekali!

“Yaaa akhirnya kita makan, berdua. Aku nunjukin hasil UN-ku ke dia dan dia muji aku. Dia juga tanya darimana aku dapet nomer dia dulunya. Udah jelas aku nggak mau jawab lah. Tapi karena dia ngancem nggak bakal bayarin makanannnya sementara aku waktu itu cuma bawa uang sepuluh ribu, mau nggak mau aku jawab deh. Terus…” ada perubahan mimik di wajah Josephine. “Dia juga tanya agamaku apa…”

Bah, pertanyaan itu…

Pandangan Jose agak kosong dan tangannya tidak berhenti mengaduk-aduk bandreknya yang entah sejak kapan sudah masuk gelas ketiga.

“Kamu tahulah Nat, gimana keluargaku. Orang tuaku beda agama. Dan waktu itu aku beneran bingung mau ikut mana. Aku bener-bener ada di persimpangan. Jadi aku jawab jujur apa adanya ke Rama. Sehabis jawab itu, aku tahu kalo raut mukanya Rama langsung berubah. Dia jadi sering lempar pandangan ke jendela. Waktu kita selesai makan dan dia nganter aku ke halte juga kita lebih banyak diem. Dan aku juga benci Nat. Aku benci sama diriku sendiri yang cuma bisa lihat punggungnya yang menjauh tanpa bisa berbuat apa-apa.”

Tanganku bergerak untuk mengusap-usap pundak hingga punggung Jose.

“Aku tahu perasaan itu,” kataku penuh simpati.

“Habis itu hubunganku sama Rama jadi renggang bahkan bisa dibilang lost contact. Temen baikku yang aku kasih tahu soal ini malah bilang harusnya aku nggak jujur aja ke Rama masalah agama itu. Tapi … mana bisa Nat? Kamu tahu kan kadang aku bisa jadi manusia paling bodoh dan jujur sejujur-jujurnya. Terus aku mulai berpikir, apa bener Rama mau nembak aku di hari itu? Apa bener dia mundur karena tahu kalo aku bingung mau pegang keyakinan yang mana? Terlalu banyak spekulasi, Nat. Dan itu semua bikin aku capek.”

“Jadi … Rama ini tahu kalo kamu suka dia?”

“Tahu bangetlah, Nat.”

“Dan gimana perasaan Rama ke kamu, kamu belum tahu?”

Kepala Jose menggeleng pelan. Kemudian ia tersenyum miris. “Nggak adil ya, Nat? Dia tahu kalo aku suka dia sedangkan aku nggak tahu gimana perasaan dia ke aku. Aku nyesel waktu itu nggak bilang ‘suka’ ke dia.”

“Jose, listen…” aku membenahi posisi dudukku. “Andaikan aja waktu itu dia beneran mau nembak kamu, terus dia tahu soal orang tuamu yang beda agama … kalo dia beneran mau fight buat kamu, dia nggak masalah sama itu. Dia bakalan tetep nembak kamu.”

“Aku nggak berpikir bakal segampang itu deh, Nat. Agama bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Terlebih lagi, Rama ini agamanya juga terbilang kuat.”

Aku menghela nafas. “Ya udah, sederhana aja. Kalo dia nggak bisa nerima kekuranganmu yang satu itu, artinya dia nggak pantes buat kamu. Apa kamu juga lupa kalo dia pernah minta kamu nyembunyiin hubungan kamu sama dia? Dari itu aja udah kelihatan kalo dia nggak cukup serius dan nggak cukup baik buat kamu.”

Jose tersenyum getir. “Otakku juga bilang gitu.”

“Terus sekarang gimana? Kamu masih punya perasaan ke dia?”

“Nggak tahu, Nat,” gumam Jose. “Perasaanku ke dia lebih kayak hampa. Tapi selalu goyah tiap kali aku inget dia. Bodo banget ya aku? Udah selama ini tapi belum bisa lepas dari bayang-bayangnya. Lihat sendiri kan, Nat, kenapa cerita ini aku sebut sebagai cerita yang nggak sempurna? Cerita yang hadir cuma dari satu sisi aja. Itu karena gimana perasaan Rama ke aku belum jelas. Aku butuhnya kepastian, kejelasan, konfirmasi. Kalo aku dapet itu semua dari dia, cerita ini kemungkinan besar bakal jadi sempurna karena satu sisinya lagi sudah terungkap.”

“Kalau tiba-tiba Rama balik ke hidupmu dan ternyata dia suka kamu even pengen jadi pacarmu, kamu bakal terima dia apa nggak?”

“Aku bener-bener nggak tahu, Nat,” jawab Jose lesu. Sungguh, bukan Jose yang biasa aku lihat dan kenal. “Hahahaha, aku bodo banget ya? Udah ditinggl gitu aja, disembunyiin, tapi masih nyimpen rasa, meski secuil, ke dia…”

“Jo, nggak peduli seberapa bodoh atau nggak bisa dipahami, beberapa cinta nggak bisa dibuang gitu aja,” nasehatku.

Is that so?” senyum Jose kembali.

Sure, it is!”

“Hm, thank you so much, Nat…”

Anytime, Dear. That’s what friends are for, right?” aku mengedipkan sebelah mataku untuk menggoda Jose. Dan melihat Jose yang tertawa geli sudah cukup membuatku lega.

 

FIN

 

A/N        :

Apa.apa.an.ini? APA-APAAN INI? Heol, shoot me with your Chekov gun, Guys! XD XD XD

Ja ja ja, I won’t talk too much. Lebih baik ane baca komen-komen readers aja deh. Nah, guys, apa pendapatmu soal cerita ini dan cerita satu sisi-nya Jose sendiri? XD

Also published on : Blooming Into Words

Advertisements

5 thoughts on “[Original Fiction] Satu Sisi”

  1. Makasih, Len^
    ini sukses membuka kembali loker2 ingatan lama yg sudah kucoba tinggalkan berkilokilo meter dibelakang~ Hell yeah:’)
    /ya sape suruh lu baca, nad -_-

    Liked by 1 person

Speak up now!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s