Captain's Pasta, One-meal Pasta

[Mix Drabble] Semangat Ya, Sayang!

semangat ya sayangfgh

 

Ngasih semangat nggak harus melulu pake “Semangat ya, Sayang!” yang udah basi

Semangat Ya, Sayang!

Storyline © Nuevelavhasta. Standard disclaimer apllied.

 

Starring : EXO OT12 and OCs | Rate : T | Genre : Fluff, Romance, Marriage-life, Work-life

Special thanks to Kak Ber for the poster XD

 

WARNING!

AU, possibly OOC, typo(s), fluff yang nggak nge-fluff, beware of ‘butterfly effect in your stomach’, bahasa baku dan nggak baku yang jadi satu, author tidak bertanggung jawab jika reader(s) tiba-tiba senyum-senyum gaje, ketawa-tiwi macem kunti, ber-kyaaa ber-awwww dan ber-ber lainnya ketika membaca fanfiksi ini

.

[Kim Minseok|Xiumin]

Langit sudah pekat betul sekarang. Digit jam di sudut kanan bawah monitor komputer di meja kerja Minseok sudah memamerkan angka sebelas dan nol-delapan yang bersisian. Harusnya sekarang Minseok sudah pulang. Menikmati malam dengan berduaan dengan Mikyung di ruang tengah sambil ngemil makanan buatan sendiri dan nonton televisi. Bercanda-canda sambil pamer afeksi dalam bentuk apapun.

Tapi kenyataannya sekarang? Semua itu hanyalah mitos. Boro-boro pulang, Minseok mau nggak mau harus ngerampungin desain yang ia bikin bareng timnya. Kalau biasanya Minseok bisa gelendotan manja ke Mikyung, sekarang Minseok harus membuang jauh-jauh nikmat itu. Nggak mungkin juga dia gelendotan manja ke komputernya atau bersandar di meja kerjanya atau yang ekstrim; pelukin gulungan kertas yang teronggok manis di bawah mejanya.

Salahkan klien yang minta perubahan desain secara mendadak di saat-saat mendekati deadline. Salahkan dia, Minseok nggak salah kali ini.

Ini klien dan proyek yang penting. Saya nggak mau tahu pokoknya desainnya harus jadi sebelum deadline. Malam ini juga desain baru sudah harus jadi tujuh puluh persen. Ingat, ini proyek dan klien yang penting. Lebih penting dari hidup kalian. Itu yang dikoar-koar oleh bosnya sore tadi.

Lebih penting dari hidup kalian? Bah! Hiperbola sekali! Minseok dan rekan-rekan satu timnya tahu itu tapi mereka bisa apa sebagai bawahan kalo bos sudah bilang begitu? Haram hukumnya buat bilang ‘nggak sanggup’ di saat-saat seperti ini meski ini terdengar gila, amat gila. Mendesain itu nggak segampang gambar gunung dua-sawah-jalan-matahari-awan ala anak SD. Tapi yaaa pasrah sajalah.

Lagi bingung mikir campuran warna yang pas, tiba-tiba Minseok merasakan getaran kecil di mejanya yang berasal dari ponselnya. Nama Mikyung tertera sebagai pemanggil di sana. Dan sialnya, Minseok baru ingat kalau dia belum ngasih tahu Mikyung kalau malam ini dia lembur. Setelah menguatkan hati dan menata ketenangan sedemikian rupa, barulah Minseok mengangkat telepon.

“Ya, Mikyung?”

Kok kamu belum pulang?” tanpa tedeng aling-aling, Mikyung langsung tanya.

“Ah, iya. Terpaksa lembur nih. Klien minta perubahan desain. Maaf ya, tadi belum sempet ngabarin kamu. Pusing nih mikirin desain.” Minseok senyum semanis mungkin meski dia tahu Mikyung nggak bisa lihat. Hatinya ketar-ketir supaya Mikyung nggak ngamuk.

Oh.” Mikyung ber-oh.

Sejenak, Minseok merasa lega sekaligus bingung dengan reaksi Mikyung. Dia udah minta maaf lebih dahulu tadi; itu hal wajib yang nggak boleh dilupakan. Tapi reaksi Mikyung tadi terlalu ambigu buat Minseok. Nggak jelas apa Mikyung ini marah atau maklum.

Ya udah…” lanjutan dari Mikyung membuat Minseok berantisipasi tinggi. “Kamu yang semangat ya lemburnya. Itung-itung buat uang tambahan juga, asal jangan keseringan ya? Nggak baik buat kesehatan.”

Dan Minseok nggak bisa nahan senyum lebarnya pas denger ini.

.

.

[Xi Luhan|Luhan]

Meili langsung mengernyitkan dahinya waktu Luhan datang dengan muka ditekuk. Belum lagi helaan nafas panjang yang keluar dari mulut Luhan begitu Luhan duduk di depannya. Sengaja Meili diam dengan maksud supaya Luhan mau cerita, tapi Luhan masih diem.

“Aku udah pesen caramel macchiato kesukaanmu,” Meili buka suara.

“Oh, makasih,” bales Luhan singkat terus diem lagi. Nggak ada niatan juga dari Luhan buat liat Meili.

Dicuekin begini Meili gondok. Tapi dia masih berusaha buat sabar.

“Kamu kenapa sih kok kayaknya bete banget? Nggak suka ya ketemu sama aku?” tuduh Meili tanpa alasan kuat yang mendukung.

Baru deh Luhan gelagapan. Langsung dialihkannya pandangannya yang tadi ke luar jendela ke Meili yang sekarang mukanya udah cemberut dikit. Mati aku, batin Luhan.

“A-ah, nggak kok. Nggak. Mana mungkin Mas nggak suka ketemuan sama kamu, Dek.” Luhan ngeles pake senyum lebar.

“Terus kok dari tadi aku dicuekin?”

Luhan menghela nafas lagi. “Biasa. Masalah kerjaan.”

Meili senyum tipis. Akhirnya pancingannya berhasil. “Emang ada apa sama kerjaanmu, Mas? Cerita dong sama aku. Kan aku ada juga buat nampung keluh-kesahmu.” Meili ngegombal dikit.

Luhan nyengir dengernya.

Interaksi mereka berdua sedikit keganggu waktu seorang pelayan dateng bawain pesanan mereka. Baru Luhan jawab pertanyaan Meili pas pelayannya udah pergi.

“Yaaa biasalah, ada kisruh kecil sana-sini. Makin banjir pesenan juga. Tau sendiri kan kalo perusahaan start-up tempatku kerja itu masih kekurangan orang? Jadi yaaa kita sempet kelimpungan. Ada sih anak-anak baru, tapi belum banyak ngebantu,” jawab Luhan.

“Hm. Terus?”

“Tapi ada yang bikin aku makin kesel. Ada anak baru, namanya … siapa sih? Siapa ya?”

“Lho kok balik tanya? Ya mana kutahulah.” Meilin dan Luhan ketawa bareng.

“Oh ya! Namanya Winwin.” Luhan menjentikkan jarinya pas inget. “Gila, nyebelin banget tuh anak. Okelah, kemampuan coding dia emang terbilang lebih tinggi dibanding anak-anak baru lainnya. Tapi kadang―nggak―seringnya dia tuh ngenyel. Keukeuh kalo dia yang paling bener. Saran-saran dari senior-senior udah angin lalu buat dia. Dan kemaren karena nyolotnya dia itu, dia salah ngerjain proyek. Oke, emang dia yang dimarahin. Tapi aku sebagai senior yang bimbing dia langsung mau nggak mau juga kena marah lah. Gimana nggak kesel coba? Bikin males kerja aja.” Luhan mengakhiri curhatnya dengan minum caramel macchiato-nya dengan semangat.

Meili senyum lagi. “Hush, nggak boleh gitu. Pantang namanya ‘males kerja’.”

“Ya tapi kan―”

“Nggak ada ‘tapi’!” potong Meili. “Demi rumah impian sama dream wedding, yuk kita sama-sama semangat, Mas!” kedua tangan Meili terkepal di udara plus bonus senyum ceria.

Luhan ketawa.

Siapa coba yang nggak langsung semangat coba kalo diginiin?

.

.

[Wu Yifan|Kris]

Tangan Kris belum berhenti mencoret-coret buku sketsa A3 di mejanya meski sesekali Kris membenahi kacamata yang bertengger di hidungnya. Yang dikerjakannya emang masih berupa sketsa, tapi makan waktu. Ini udah lewat tengah malam dan udah separuh buku sketsanya penuh ama coretannya.

Yah, beginilah nasib bekerja sebagai ilustrator di salah satu studio animasi kenamaan di Negeri Paman Sam. Selain itu Kris juga bekerja sebagai ilustrator untuk beberapa perusahaan game. Ini sih belum seberapa jika dibandingkan deadline dan proyek besar yang digabung menjadi satu. Belum lagi revisi-revisi yang menyiksa. Tidur dua-tiga jam dalam sehari itu hal yang lumrah. Kopi hitam pekat lebih setia menemaninya tiap malam ketimbang Jennnifer, kekasihnya yang sekarang ada di Prancis buat mengejar gelar di S2 sembari berkarir sebagai model.

Kegiatan Kris berhenti ketika telepon di sampingnya berbunyi. Melihat nama Jennifer, Kris langsung mengangkatnya dan kemudian ia sudah ber-multitasking antara menelepon dan menggambar. Kris berani sumpah, kalau Jenn tahu ini ia akan marah. Jenn nggak suka diduain. Dengan apapun atau siapapun.

Hello, Babe.” Kris nyengir waktu menyapa. Ia berani taruhan kalau di sana Jennifer juga nyengir. Kris nggak salah kalau soal itu.

Hai. Selamat lewat tengah malam buat kamu di seberang sana.

“Hm. Yaa.”

Lagi ngapain sekarang?

“Hm? Yaaaa kayak biasanyalah. Ngegambar. Apa lagi? Tapi sekarang masih tahap sketsa sih. Besok―ah, ralat―nanti pagi harus langsung diserahin ke Mr. Barrymore. Semoga nggak ada revisi, kalopun ada semoga nggak banyak. Kamu sendiri lagi ngapain di sana? Gimana kuliah ama kerjaan?”

Dih, macem mau skripsi aja,” kelakar Jenn dan keduanya ketawa. “Aku habis pulang kuliah. Kuliah ama kerja … lancar-lancar aja sih dua-duanya. Udah mulai terbiasa sama sibuknya.

“Hati-hati. Kesehatan wajib dijaga.”

Iya. Kamu sendiri? Pasti lagi-lagi begadang.

Lagi. Kris nyengir lebar. “Yaaa gitu deh. Kayak nggak tahu aja.”

“Dear, dunia emang selalu terbagi dua. Bagi waktumu, jangan lupa istirahat.

Nyessss. Hatinya Kris langsung berasa adem. Tangannya otomatis berhenti nggambar dan dia langsung bilang, “Beb, sumpah aku kangen kamu.”

.

.

[Kim Junmyeon|Suho]

Junmyeon yang sekarang statusnya berubah dari ‘jomblo’ ke ‘menjalin hubungan’ menjadi mahasiswa strata dua bingung liat Minrin, pacarnya, yang dateng-dateng ke rumahnya dengan wajah ketekuk macem kertas contekan. Sebagai cowok yang pengertian-peka-sabar-penuh perhatian, Junmyeon tanpa diminta langsung nutup buku yang lagi dibacanya dan duduk di sampingnya Minrin.

“Idih, yang cemberut cantik deh,” goda Junmyeon sambil cubit pipinya Minrin.

“Basi!” Minrin menepis tangan Junmyeon.

Junmyeon ketawa. Godain orang lagi bad mood itu emang seru. “Kenapa sih kok cemberut gitu? Sampe Abang aja nggak disenyumin. Kan Abang kecewa.”

“Skripsiku disuruh revisi lagi,” jawab Minrin yang masih cemberut.

“Ya udah, tinggal direvisi lagi dong,” bales Junmyeon enteng.

“Tinggal revisi gundhulmu!” bales Minrin ketus. “Enteng banget kamu yang bilang. Revisi lagi, revisi lagi. Kalo gini kapan kelarnya? Ya emang sih, Profesor Byungwoo itu dosen pembimbing yang enak, tapi yaaa itu lhoooo sukanya ngasih revisi mulu. Detil banget sih. Bikin susah aja!”

Junmyeon senyum simpul. “Masih lebih susah tesisnya Abang besok lho, Say.” Dan Junmyeon teringat akan tesis yang harus dia garap mulai semester depan.

“Ya tau. Tapi kan tetep, Myeon … capek, kesel akunya!”

“Iya, aku paham kok. Tapi kalo kejadiannya udah kayak gini mau gimana lagi? Nggak kamu revisi? Yang ada malah nggak kelar-kelar entar kuliahmu. Katanya pengen cepet-cepet nyusul aku ke strata dua?” goda Junmyeon lagi.

Tapi sayang nggak ngefek ke Minrin.

Junmyeon muter duduknya kesamping supaya dia bisa ngadep Minrin. “Tahu nggak?” kata Junmyeon dan sukses mencuri perhatian Minrin. “Semua doaku itu bakal bermuara di kamu. Semoga pula semua peluhmu bermuara di aku. Udah dong, jangan ditekuk terus gitu mukanya,” lanjut Junmyeon sambil nyubit pipi Minrin lagi di akhir.

Minrin nggak jawab apa-apa. Tapi dia langsung nubrukin mukanya yang merah ke dada Junmyeon.

.

.

[Zhang Yixing|Lay]

Kesibukan Yixing sebagai detektif di kepolisian membuat waktu luangnya tersita banyak. Kalau orang-orang kebanyakan seringnya tidur di kasur favorit berselimut tebal-hangat dan nyaman, maka Yixing justru lebih sering menghabiskan waktu tidurnya di mobil berselimut jaket parka warna coklat favoritnya. Belum lagi kalau kasus satu belum selesai, sudah ada kasus lain yang harus dia tangani.

Tapi sekarang Yixing lagi bahagia. Bahagia soalnya mulai besok dia dapet jatah libur tiga minggu. Lumayan tuh buat penebusan atas empat bulan kerja tanpa libur. Empat bulan mi instan jadi penghuni terbesar perutnya. Empat bulan jok mobil gantiin kasur empuk di rumah. Dan empat bulan-empat bulan lainnya.

Yixing nyetir mobilnya dengan hati gembira ke rumahnya dan nggak butuh waktu lama buat sampe kesana. Sepi, pikir Yixing. Jelas aja sih, ini udah malem dan pasti Xue udah sibuk sendiri. Entah itu baca buku, ngerjain kerjaan yang dibawa pulang, atau udah tidur.

Tapi pas Yixing ke kamarnya, Xue nggak ada di tempat tidur. Yah, singkirkan Xue sejenak. Yixing mau mandi. Badannya udah lengket dan baunya udah nggak sedep lagi. Tapi nggak mengurangi gantengnya.

Selesai mandi Yixing langsung naik ke tempat tidur tapi nggak mau tidur. Dia malah buka laptop dan berniat ngerampungin beberapa laporan dulu sebelum bobo ganteng. Tapi di tengah khidmatnya Yixing yang berduaan sama laporannya, Xue masuk.

“Baru pulang?” Xue duduk di samping Yixing.

“Iya,” jawab Yixing sambil terus mantengin monitor. “Habis dari mana?”

“Baca buku. Emang dari mana sih malem-malem gini? Oh ya, besok masuk jam berapa?”

“Besok libur.”

“Beneran? Lama nggak?” tanya Xue antusias.

“Hmmmm … tiga minggu.”

“Wah, lumayan tuh! Terus ini lagi ngapain?” Xue mencuri lihat ke monitor. “Kok masih ngerjain laporan sih?” protesnya.

“Dikit aja kok. Bentar lagi juga tidur.”

Nggak tahu Yixing lagi asyik, Xue dengan lempengnya nutup laptop Yixing dan erangan protes Yixing keluar. Tapi Xue balas itu dengan senyuman sambil bilang, “Rezeki itu bukan cuma soal uang, Sayang. Waktu luang juga merupakan rezeki. Nah, sekarang tidur aja, istirahat, oke?”

Yixing speechless dan nurut aja. Ya siapa yang nggak nggak bisa ngomong kalo dibilangin begituan? Dan Yixing pasrah waktu Xue nidurin dia dan masang selimut.

“Selamat istirahat, Sayang.” Xue mengecup kepala Yixing penuh sayang.

.

.

[Byun Baekhyun|Baekhyun]

Baekhyun gondok segondok-gondoknya. Kalau bagi orang lain akhir tahun itu identik sama seneng-seneng, dalam kasusnya; beda. Akhir tahun buat Baekhyun itu saat-saat paling sibuk yang ia benci sebenci-bencinya. Karena apa? Karena tiap akhir tahun setiap bank di dunia ini pasti tutup buku tahunan. Which means, kerjaan bukan menumpuk lagi. Tapi menggunung.

Dan yang lebih nyebelin dari itu adalah … waktu Baekhyun buat malam Mingguan bareng Yewon menipis dan nyaris nggak ada. Kayak sekarang ini. Di saat pasangan lain keluar berdua, Baekhyun harus menerima nasib buat keluar bareng rekan-rekan kerjanya. Sekedar ngaso sebentar sebelum balik kerja lagi. Dan udah pasti, Baekhyun teleponan sama Yewon dan ngeluh soal waktu malam Minggu mereka yang sekedar mitos.

Ya kan kamu lagi kerja, Baek. Mana bisa malam mingguan…” suara Yewon di seberang sana masuk ke telinga Baekhyun.

“Ya tapi kan kita udah lama nggak malam mingguan.” Baekhyun ngotot. “Kita juga jarang ketemu akhir-akhir ini. Masak cuma aku doang yang punya rasa kangen?”

Aku kangen kamu juga, Baek

“Ya ayo ketemuan!”

Nggak bisa lah, Baek. Kan kamu lagi kerja sekarang.

“Salah ya kalo aku pengen malam mingguan bareng pacar?”

Terdengar helaan nafas di seberang. “Baek,” panggil Yewon.

“Hng?”

Katanya seserahan itu mahal lho. Kira-kira bisa ngabisin gaji berapa bulan ya? Jarang malam mingguan sekarang nggak apa-apa, yang penting kamu cepet halalin aku buat malam-malam selanjutnya.

“OKE!” Seketika Baekhyun langsung semangat ’45.

.

.

[Kim Jongdae|Chen]

Dari dulu, Jongdae udah sadar dari konsekuensi pekerjaannya yang ada di bidang pelayaran sebagai teknisi kapal pesiar. Ya apa lagi kalau bukan ‘jarang pulang’? Dalam setahun, bisa dihitung jari berapa kali Jongdae pulang ke rumahnya. Makin lama, kapal lebih terasa kayak rumahnya ketimbang rumahnya sendiri.

Dan konsekuensi lain yang harus ditanggung Jongdae adalah long-distance relationship. Meski jama makin maju dan teknologi makin canggih, ngejalanin hubungan LDR itu nggak semudah neriakin nama bias waktu spazzing. Yang namanya kandas di tengah jalan juga pernah Jongdae alamin. Sakit emang, tapi Jongdae kudu move on. Kalian sudah sepatutnya mencontoh Jongdae ini, wahai kaum yang masih terkekang kenangan masa lalu!

Sekarang, kapal Jongdae lagi merapat di salah satu pelabuhan di Prancis―salah satu negara yang masuk ke dalam daftar tur kapal pesiarnya. Beruntung, Si Kapten orangnya pengertian dan ngasih jam bebas buat anak buahnya jalan-jalan selama tiga hari. Padahal aslinya dua hari. Tapi Jongdae belum mood buat keluar dari kabinnya meski temen-temennya yang lain udah berusaha nyeret dia keluar.

Jongdae belum mood soalnya dia lagi kangen berat sama Chaeyoung.

Walhasil, Jongdae cuma tiduran di kasur putihnya yang sempit dan berusaha buat ngontak Chaeyoung lewat aplikasi pesan chat.

Yang, lagi ngapain?” Jongdae basa-basi-busuk dulu.

Nggak lama kemudian ada balesan masuk. “Habis pulang kerja nih. Capek. Kamu sendiri?

Dapet jatah jam bebas, baru aja. Tapi bingung mau ngapain. Kangen nih ma kamu. Video-call-an yuk.

Haduh, bukannya aku nggak mau, Dae. Tapi udah ngantuk plus capek banget ini. Besok pagi aja deh, gimana?

Besok pagimu itu berarti sore di sini. Sebentaaaaaaarrrr aja. Lima menit deh, nggak lebih. Janji. Ya? Ya? Ya? Lagian kita kan udah lama nggak ketemu, mukamu aja ampe samar-samar dalam ingatanku lho.

Wajarnya cewek bakal marah kan kalo pasangannya bilang ‘mukamu ampe samar-samar dalam ingatanku’? Tapi Chaeyoung nggak. Alih-alih marah, doi justru ngebales gini.

Kamu nggak apa-apa lupa wajahku karena udah lama nggak ketemu, yang penting kamu jangan lupa makan dan jaga kesehatan. Kerja itu butuh tenaga.

Dan Jongdae udah langsung ketawa-tawa sambil gulung-gulung ke kanan-kiri macem setrikaan di atas tempat tidurnya. Waras, Bang?

.

.

[Park Chanyeol|Chanyeol]

Acara makan plus nonton drama Haera keganggu sama datengnya Chanyeol yang ‘nggak rapi’. Belum apa-apa Chanyeol udah lepas sepatu terus ditendang, hentak-hentakin kaki ke lantai, lempar jaket sembarangan, dan duduk seenaknya di samping Haera. Ditambah mukanya Chanyeol yang nggak bersahabat buat Haera heran. Perasaan tadi pas telpon ceria aja tuh, batin Haera.

“Tumben nggak langsung pulang malah mampir kemari,” celetuk Haera sambil terus makan kentang goreng.

Nggak salah. Chanyeol emang belakangan jarang mampir ke rumahnya Haera.

“Jadi aku nggak boleh mampir, gitu?” bales Chanyeol sewot.

Haera sweatdrop. “Yaa yaaa bukan gitu juga kali. Kamu kenapa sih? Kayak cewek lagi PMS aja. Perasaan tadi juga nggak begini.”

Chanyeol menghela nafas. “Aku capek, Ay. Kerja rasanya diforsir terus. Tahu sendiri kan, ini lagi banyak proyek. Belum deadline yang berbaris rapi. Kadang juga klien rewel. Gimana nggak capek coba kalo kayak gini?”

Haera manggut-manggut paham. Sejak pacarnya Chanyeol―dan timnya―menang di salah satu penghargaan di dunia arsitek, Chanyeol dan anak-anak lain di timnya emang kebanjiran kerjaan.

“Iya, aku tahu itu bikin capek. Tapi nggak boleh kayak gitu. Coba sekarang pikir, ada berapa banyak orang yang pengen ada di posisi kamu?”

Chanyeol nggak ngejawab. Dia malah benamin mukanya di pundak kanan Haera sambil melingkarkan tangan kanannya di pinggang Haera.

“Dan kamu harus tahu kalau orang-orang yang senasib sama aku itu banyak dan mereka pengen lepas dari semua ini,” gumam Chanyeol.

Ya!” Haera mukul kepala Chanyeol tapi yang dipukul malah ketawa. “Tapi kamu nggak lupa kan, Yang, kalo gaun, gedung, catering, dan semua list persiapan nikah kita harganya nggak murah? Yuk, let’s fight ‘till the end!”

Chanyeol buru-buru ngeratin pelukannya ke Haera dan nggak berusaha buat nyebunyiin senyumnya.

.

.

[Do Kyungsoo|D.O]

Pagi-pagi kayak gini emang toko roti punya Kyungsoo belum buka. Tapi si empunya udah sibuk berkutat di dapur bareng anak buahnya yang lain. Rutinitas yang udah lazim kejadian di toko rotinya.

Selesai masukin adonan pertama ke oven, Kyungsoo langsung sibuk lagi buat bikin adonan kedua. Dan waktu dia bikin adonan kedua, Kyungsoo curi-curi pandang ke arah jam. Harusnya jam segini, Jina, tunangannya udah dateng ke tokonya. Sambil bawa tas ransel yang hampir penuh nempel di punggung, dan seragam analis kesehatan yang nempel pas di badan, terus Jina bakal pesen roti atau kue rekomendasi hari itu.

Mungkin dia telat, pikir Kyungsoo.

“Pagi, semua!” seruan familiar terdengar dari depan.

Baru aja dipikirin, lagi-lagi Kyungsoo ngomong dalem ati.

Nggak lama kemudian Jina udah nongol di dapur. Dan sehabis kasih selamat pagi dan semangat ke yang lain, Jina langsung menghampiri Kyungsoo.

“Rekomendasi hari ini apa?” tanyanya langsung sambil comot-comot sedikit adonan kue yang masih mentah di tangan Kyungsoo. “Nggak enak,” komentarnya.

Kyungsoo ketawa. “Ya jelaslah, kan masih mentah. Salah sendiri.” Jina mendengus digituin. “Rekomendasi hari ini sachertorte. Kue coklat khas dari Austria yang diisi selai aprikot sama krim kocok. Gimana? Mau?”

Jina ngangguk-angguk cepet. “Mau, mau! Pesen itu dua ya?”

Kyungsoo berhenti bikin adonan dan pergi ke depan. Jina ngikut di belakangnya. Dan begitu etalase dibuka, bau roti langsung menguar. Menggoda siapa aja yang lewat.

“Ini, dua sachertorte buat kamu.” Kyungsoo menyerahkan kardus yang ada isi roti pesenan Jina ke orangnya sendiri.

“Makasih, Beb!” Jina nerima dengan senyum lebar. “Kerja yang rajin ya? Biar dapet uang yang banyak. Cicilan rumah makin kemari makin mahal soalnya. Dadah, Kyung!” Jina melambaikan tangannya terus pergi sehabis cubit-cubit pipinya Kyungsoo.

Kyungsoo senyum-senyum gaje. Nggak mungkin dia lupa, nggak.

.

.

[Hwang Zitao|Tao]

Satu lagi profesi yang menyebabkan orangnya bisa tak ubahnya kayak Bang Toyib adalah pilot. Dan Tao masuk ke dalam profesi itu. Meski doi tergolong sebagai pilot muda yang jam terbangnya belum sebanyak senior-seniornya, tapi kesibukannya udah terasa menyesakkan.

Pelan tapi pasti, Tao udah terbiasa sama jet-lag. Habis dari sini mencok ke sana, lalu kemari, dan kesitu. Tao udah biasa. Tapi sampe sekarang Tao belum terbiasa buat berjauhan sama Linwei, ayang beb-nya. Sampe-sampe fotonya Linwei selalu Tao bawa ke kokpit tiap kali dia tugas.

Sekarang, meski Tao lagi kumpul sama rekan-rekan seprofesinya di salah satu ruang tunggu bandara sebelum doi terbang ke Inggris, Tao lebih pilih buat video-call-an sama Linwei daripada makan. Maklum, udah lama nggak ketemu jadi kangennya kan numpuk-numpuk gitu jadinya.

Yang lain pada makan tuh. Kok kamunya nggak?” tanya Linwei perhatian.

“Ah, nggak ah. Nanti aja.” Tao senyum.

Lah, katanya kangen? Ya makan dong!

“Iya, banget. Emang apa hubungannya?”

Ada kalanya segala rasa tidak bisa ditulis maupun diungkapkan. Rindu itu emang berat dan melelahkan. Biar kamu kuat jangan lupa makan yang banyak. Tuh, diliat dari muka aja kamu udah kurusan lho.”

“Iya deh, iya.” Dan akhirnya Tao makan juga.

.

.

[Kim Jongin|Kai]

Yoonjung lagi-lagi geleng-geleng kepala begitu liat Jongin pulang dari festival anime dan manga tahunan. Bukan karena Jongin yang pulang kemaleman, bukan. Ini karena ‘oleh-oleh’ yang dibawa sama Jongin. Apa coba oleh-olehnya?

Jawabannya adalah action figure.

Yap, Jongin itu kolektor action figure garis keras. Lihat saja betapa banyaknya koleksi dia di lemari pajangan. Dia nggak segan buat merogoh koceknya dalam-dalam hanya demi sebuah action figure. Bahkan pernah Jongin puasa sebulan penuh demi mendapatkan a limited edition action figure. Totalitasnya nggak perlu diragukan lagi.

Dan tiap kali Yoonjung ngeluh soal hobinya ini, Jongin berdalih, “Ini investasi jangka panjang, Beb. Besok-besok harga action figures ini bakal naik.”. Kalo udah digituin, Yoonjung langsung diem. Bukan karena Yoonjung kalah tapi karena Yoonjung tahu, nggak guna kalo mau mendebat Jongin soal hobinya yan satu ini.

“Ya ampunnnn, lagi-lagi beli action figure?” tegur Yoonjung.

Jongin yang lagi bongkarin hasil perburuannya di karpet ruang tengah cuma nyengir. “Iya, Beb. Soalnya banyak yang bagus sama limited edition lho. Nih, liat. Yang Luffy ini masuk di rare item. Terus aku juga beli action figure beberapa tokoh di The Avengers. Yang Iron Man keren lho! Ini juga limited edition. Terus ya, tadi waktu diadain lelang … aku kalah. Gilak! Action figure-nya Goku Dragon Ball yang dilelang tadi tuh mahal banget! Aku bela-belain nawar ampe harganya tinggiiiiiii banget. Nggak tahunya ada yang lebih mampu dari aku dan aku harus merelakan si Goku nggak pulang bareng aku. Nyesek Beb, rasanya….” Cerocos Jongin.

Yoonjung menghela nafas di tempat duduknya.

“Kamu boros banget deh kalo soal action figure.”

“Beb, kan udah aku bilang kalo ini tuh termasuk investasi jangka panjang.”

“Iya tahu, Yang. Tapi kamu besok katanya pengen langsung punya anak? Biaya susu, popok, sama perlengkapan bayi yang lain itu nggak murah lho. Kalo kamu fokus ke hobimu mulu, kapan bisa nabung buat anak kita nanti?”

Jongin mati kutu di tempat seraya nyengir lebar.

.

.

[Oh Sehun|Sehun]

Sehun gondok berat. Dan Hyojin yang notabene adalah kekasihnya dan nggak salah apa-apa pun kena imbasnya.

Meski sekarang mereka berdua lagi ada di kafetaria rumah sakit dan duduk adep-adepan, tapi Sehun nggak mau liat Hyojin. Dokter muda itu malah sibuk minum es bubble-nya sambil liatin taman rumah sakit yang lagi rame-ramenya.

“Hun, ngambek ya?” tanya Hyojin yang juga merupakan dokter muda di sana.

Sehun diem. Masih asyik nyerot bubble.

“Gara-gara Jingoo sonsaengnim nuker aku sama Hongju ya?”

Sehun masih mingkem sejuta bahasa kalbu.

Kekesalan Sehun berawal dari pembagian tim magang. Sebagai dokter muda, udah pasti Sehun ama Hyojin wajib hukumnya buat ikutan magang di salah satu rumah sakit. Dari awal, apes udah menyertai mereka. Sehun ama Hyojin dapet jatah di IGD barengan sama lima dokter muda lain. Padahal, jaga IGD itu hal yang paling dihindari sama dokter magang. Nggak lain dan nggak bukan ya karena sibuk dan riweuhnya itu.

Oke. Sehun masih bisa nerima ini karena dia masih punya Hyojin di timnya. Jadi seenggaknya nanti penat waktu tugas bisa terobati sama kehadiran Hyojin di timnya. Orang terkasih emang bisa jadi obat mujarab.

Tapi apes belum mau ninggalin mereka. Tiba-tiba aja Jingoo sonsaengnim selalu atasan mereka mengumumkan kalo Hyojin dipindah ke bagian anak dan Hongju muncul sebagai penggantinya Hyojin. Dari sinilah gondoknya Sehun bermula.

“Hun, udah dong ngambeknya…” pinta Hyojin.

Tapi mana Sehun mau?

“Namanya juga resiko kerjaan Hun. Udah dong, jangan childish gitu. Kamu nyebelin kalo kayak gini, tahu nggak?”

Sehun memalingkan mukanya dan liat Hyojin. “Tapi keselnya itu lhooo … serasa nempel di ati, susah diilangin macem noda tinta bolpen yang udah kering seharian sebelum dicuci.”

“Aku tahu, Hun. Tapi kita bisa apa? Jingoo sonsaengnim itu orangnya susah diajak kompromi. Udah deh, trima aja. Kan kita cuma beda tim aja. Aslinya kan ikatan kita lebih kuat dari itu.”

“…”

“Hun, masa depan itu kita sendiri yang nentuin kan? Sama juga kayak kerjaan kita masing-masing. Yuk, sama-sama tanggung jawab sama mimpi-mimpi kita. Masak calon dokter spesialis bedah ngambek cuma gegara beda tim sama pacarnya pas magang sih?” goda Hyojin.

Nah, tuh Sehun undah senyum-senyum gaje.

FIN

 

A/N        :

Gosh! My first fic on fluff/marriage life/work life genre since my reincarnation(?)! XD XD XD Nggak yakin fluff-nya dimari nendang XD Soalnya ane tahu, ini bukan fluff pada umumnya! XD XD

Epep ini lahir karena ane cukup jenuh /jenuh banget tbh/ lmfao/ liat genre fluff/marriage life yang ceritanya gitu-gitu aja /no offense/. Ane emang maniak manis tapi kalo buat dua genre itu, ane pilih-pilih banget. Like, you know … too much sweet isn’t good for your health. Bahkan epep yang terlalu manis itu juga nggak bagus buat kesehatan. Yeah, kesehatan otak karena delusi berlebih yang ditimbulkan XD /halah/

Maka dari itu ane berusaha ngebuat epep dengan genre fluff/marriage-life yang serealistis mungkin /plis, ane ngakak pas ngetik ini XD / Karena haloooooo kehidupan pernikahan itu nggak sekedar manis-manis dimana lu bangun bisa nyium doi, bikin sarapan bareng, trus lu dipeluk atau meluk doi dari belakang, lalu dibumbui morning kiss, romantic honeymoon, dan sekawan-kawannya. Atau berkutat soal perselingkuhan, pengkhiatan cinta, bangkitnya cinta masa lalu, cerita Siti Nurbaya, dan kawan-kawannya. Nggak, men. Nggak. Kehidupan pernikahan nggak sesederhana itu dan nggak melulu soal cinta yang dipikirin. Ada banyak hal yang lebih worth it untuk dipikirin. Kalo boleh narsis, ane mau bilang kalo manis di epep ini adalah manis rasa mature /plis Len XD XD XD XD /

Untungnya, ane ketemu salah satu artikel di salah satu situs berita yang sangat membantu ane buat merealisasikan epep ini /yang udah lamaaaaaaa banget bercokol di otak/. Bisa dibilang, dari artikel itulah ane dapet prompt. Jadi yaaaa beginilah hasilnya XD XD

And tbh, ane GEBANG-GEli BANGet ampe ni badan uget-uget macem ulet keket waktu ngetik epep ini. Nggak lupa ngakak-ngakak edan gitu LOL XD Apalagi pas ngebuat para tokoh epep ini manggil pasangan mereka pake sebutan sayang, dimana ane cukup anti sama sebutan-sebutan semacam itu XD Ditambah, ada beberapa cerita di sini yang nggak Korean culture-oriented dan malah Indonesian culture-oriented. SEBODO TEUING ELAH! XD Ane harap jatohnya nggak aneh ye? XD Dan semoga epep ini bisa membuat kalian terhibur, wkwkwkwkwkwk.

K, silahkan ngerusuh di kolom komentar.

Ane Len mau cabut dulu, adios! /lari ke sawah/

Advertisements

3 thoughts on “[Mix Drabble] Semangat Ya, Sayang!”

Speak up now!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s