Captain's Pasta, One-meal Pasta

FORGIVENESS

forgiveness-for-nuevelavhasta

 

“You can do something about your future, but not with your past. Because the past is something we will never able to change”

Kris yang dulunya adalah pembunuh berdarah dingin yang terkenal, kini meninggalkan masa lalunya yang kelam dan memilih untuk menjadi misionaris gereja. Mengabdikan dirinya pada gereja dan Tuhan sebagai bentuk upaya untuk menghapus dosa-dosa yang telah ia perbuat.

FORGIVENESS

Nuevelavhasta’s work. Standard disclaimer applied. No profit taken from this fiction

 

Starring : Kris Wu, Emma Lavoie (OC) | Rate : T, PG-15 | Genre : Spiritual, Western, Tragedy

Big thanks to Dek Beby for the poster. Also for Kak Liana for being beta-reader bahkan waktu epep ini belum kelar.

 

WARNING! Typo(s), rush, etc

.

[FORGIVENESS]

.

                La Loche. Sebuah kota kecil di Negeri Daun Maple dengan populasi berjumlah dua ribuan orang yang masuk dalam wilayah administratif provinsi Saskatchewan. Di salah satu sudut kota, terdapat sebuah gereja yang tidak begitu besar namun selalu didatangi oleh jemaat-jemaatnya.

Minggu siang ini, halaman gereja tersebut nampak ramai. Acara kebaktian rutin baru saja rampung digelar. Beberapa jemaat terlihat mengobrol, berdiskusi mengenai banyak hal. Dari hal-hal ringan sampai berat, dari yang berhubungan dengan gereja atau agama atau bahkan tidak berhubungan sama sekali. Beberapa anak yang kegiatan Sekolah Minggu-nya juga baru saja selesai nampak asyik sendiri-sendiri di halaman gereja. Ada yang berlarian, bercanda, merajuk pada orang tuanya untuk segera pulang, atau memilih untuk duduk-duduk di bawah pohon maple yang daunnya berguguran dengan apiknya.

Cuaca siang hari di musim gugur ini terbilang dingin―semakin dingin. Pertanda sebentar lagi musim dingin akan tiba dalam hitungan minggu. Tapi kehangatan di area gereja seolah dapat mencairkan suhu yang menyentuh lima belas derajat celcius. Sungguh, Kris tidak pernah menyangka jika dirinya bisa terdampar di kota kecil yang menyenangkan dan menangkan ini.

“Mr. Kris! Mr. Kris! Taylor mendorongku hingga aku terjatuh! Lihat, lihat, lututku lecet dan berdarah semua!” Liam, anak laki-laki dengan rambut coklat dan wajah dipenuhi bintik menarik-narik baju Kris. Menginterupsi obrolan si misionaris dengan Pendeta Atkinson.

Belum sempat Kris memberikan respon apapun, seorang bocah laki-laki lain yang bertubuh bongsor dan berambut hitam ikal menyela, “Aku kan sudah bilang kalau aku tidak sengaja! Mr. Kris, sungguh aku tidak sengaja!”

“Bohong! Kau pasti sengaja!”

“Tidak! Aku tidak mungkin bohong!”

Kris tersenyum kecil melihat pertengkaran itu. Setelah Pendeta Atkinson ikut terkekeh, menepuk pundak Kris, lalu ikut mengobrol bersama Mr. Harold, Kris berjongkok guna mensejajarkan tubuh jangkungnya dengan tinggi dua bocah yang tengah berseteru itu.

“Oke, aku minta maaf!” ucap Taylor setengah membentak. Kesal karena ia dituduh berbohong padahal kenyataannya tidak begitu.

“Tidak mau! Akan kubalas kau nanti! Awas, lihat saja!” telunjuk Liam terhunus pada Taylor.

“Hei, hei, tidak boleh seperti itu, Liam.” Suara rendah Kris terdengar.

“Tapi Taylor―”

“Apa kau masih ingat ayat hafalan kita tadi?” potong Kris.

Liam diam dengan bibir mengerucut. Alisnya berkedut berusaha mengingat. “Efesus pasal empat ayat tiga puluh dua: Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

“Bagus. Kau masih mengingatnya,” puji Kris. “Apakah sikapmu tadi sudah mencerminkan kasih terhadap sesama dan saling mengampuni?” tanya Kris yang dibalas gelengan oleh Liam. “Aku yakin Taylor tidak bermaksud untuk melukai atau mencelakaimu. Tapi dia sudah meminta maaf. Dan apa kau tahu apa yang harus kau lakukan sesuai ayat hafalan tadi?”

“Memaafkannya,” jawab Liam lirih. Sangat lirih hingga terdengar seperti bisikan.

“Nah, sekarang kalian berdua… ayo saling berjabat tangan,” perintah Kris lembut. “Ayo. Tunggu apa lagi?”

Akhirnya dua sahabat itu saling berjabat tangan dengan canggung. Melihatnya, Kris merasa lega sekaligus geli. “Nah, bagus. Seperti itu. Dan sekarang… sepertinya kalian harus pulang. Lihat, orang tua kalian sudah menunggu kalian.” Kris mengedikkan dagunya ke belakang dua bocah itu. Kedua orang tua bocah itu sudah menanti putra mereka.

“Baiklah. Sampai jumpa lagi, Mr. Kris!”

Pada akhirnya dua bocah itu kembali akur, dibuktikan dengan memberi salam perpisahan yang kompak untuk Kris, sama-sama melambaikan tangan pada Kris, dan sudah tertawa-tawa ketika berlari menuju kedua orang tua mereka. Kris tersenyum senang melihatnya sebelum kembali bergabung bersama Pendeta Atkinson.

Selama dua tahun belakangan ini hidup Kris berubah seratus delapan puluh derajat.

Sejak usia belasan, Kris sudah mulai meniti karirnya sebagai pembunuh bayaran. Seiring berjalannya waktu, namanya semakin melambung. Kesuksesannya dalam setiap misi selalu sempurna, tanpa cela. Orang-orang rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk jasanya.

Kris juga tidak pernah tinggal di satu tempat dalam kurun waktu yang lama. Selalu berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain, negara satu ke negara lain. Ia punya lebih dari satu identitas dan keahliannya dalam membaur dengan sekitar membuatnya sama sekali tidak dicurigai sebagai pembunuh. Jejaknya sulit untuk diendus.

Namun kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Pun dengan rencana Tuhan. Kris juga begitu. Rasanya masih sulit mempercayai jika sekarang ia bisa menetap di satu tempat hingga setahun lebih. Sulit percaya jika dia lebih memilih mengakhiri karirnya yang menjanjikan pundi-pundi berlebih dan memilih untuk mengabdi pada gereja secara sukarela. Tapi Kris mensyukuri semuanya.

Tangannya sudah terlanjur berlumur darah dan dosa. Dan Kris sendiri tidak yakin apakah semua yang dilakukannya sekarang ini bisa menebus semua dosa-dosanya. Dirinya sudah jatuh terlalu dalam di lembah kegelapan dan dosa, dan selalu merasa sangsi. Namun perkataan Pendeta Atkinson selalu terngiang di kepalanya, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan[1].

Yah, setidaknya… Kris bisa memulai hidup barunya.

***

Sedan tua yang dikemudikan Kris memasuki pekarangan gereja yang sudah sepi. Tentu saja, ini sudah hampir tengah malam. Kris sendiri baru pulang dari tugasnya sebagai misionaris. Diarahkannya kemudi sehingga sedan tua itu masuk dengan pas di garasi gereja.

Sedan itu tidak Kris beli di showroom, melainkan ia dapatkan dari Mr. White, seorang pensiunan guru yang tinggal dua blok dari gereja. Sebagai bentuk balas budi karena Kris cukup sering membantu Pak Tua itu. Dari memperbaiki ledeng, atap rumah, atau hanya sekedar menemaninya.

Tapi ada alasan lain juga. “Mobil itu mobil kesayangan putraku. Ia ada di Spanyol sekarang. Dia bilang akan sangat disayangkan jika mobil ini teronggok begitu saja lalu rusak. Aku tahu mobil ini mungkin sedikit ketinggalan jaman tapi mesinnya masih bagus. Jadi kalau kau mau, kau bisa memilikinya. Putraku juga sudah setuju mengenai hal ini.” Begitu yang dikatakan Mr. White.

Deru sedan yang dikemudikan Kris berhenti lalu beberapa saat kemudian pria bertubuh jangkung itu keluar. Setelah berkeliling di tiga kota untuk melaksanakan salah satu tugasnya sebagai misionaris, yaitu menyebarkan ajaran Alkitab, menemani beberapa pendeta, ataupun membaptis orang, harus Kris akui jika tubuhnya minta istirahat.

Tapi Kris justru menuju ke gereja dan bukan kamarnya yang ada di kompleks gereja.

Kala Kris membuka pintu gereja, kesunyian dan kekosongan segera menyambutnya ramah. Kris lalu berjalan ke depan, duduk di kursi nomor tiga dari depan di barisan kiri dan mulai berdoa. Sebuah ritual rutin yang tidak bisa tidak dilakukannya. Salah satu manifestasi atas penebusan dosa-dosanya di masa lalu. Mozaik Bunda Maria dan Tuhan Yesus yang berwarna-warni dan berukuran besar di depan sana terlihat bercahaya karena pantulan sinar rembulan. Bukan hanya itu, sinar sang dewi malam juga merayap masuk melalui jendela kaca dan celah-celah yang ada. Semakin menambah khidmat suasana.

Kris membuka Alkitab di tangannya. Membaca beberapa ayat sebelum melipat tangannya untuk berdoa. Selesai berdoa, ia juga belum beranjak dari tempatnya. Pikirannya masih mengajaknya untuk berkelana sebentar.

“Apa gereja ini masih buka?” suara lembut seorang gadis mendistraksi Kris dan pikirannya. Datang dua sekon lebih lambat daripada suara pintu dibuka.

Kris menoleh ke belakang. “Rumah Tuhan selalu terbuka kapanpun, untuk siapapun,” jawab Kris ramah. Kris bisa melihat gadis itu tersenyum.

Kemudian gadis itu berjalan ke depan. Kris bisa melihat betapa cantiknya gadis itu dalam balutan pakaian yang lumayan tebal untuk musim gugur. Tubuhnya tinggi semampai layaknya model. Rambut pirang platinanya seperti bersinar keperakan karena tersepuh sinar rembulan. Netra birunya menyejukkan. Belum lagi hidung mancung dan bibir tipisnya. Sungguh, perpaduan yang sempurna!

Gadis itu lalu duduk berseberangan dengan Kris dalam baris yang sama.

“Tidak banyak orang yang mau datang ke gereja malam-malam begini.” Kris membuka pembicaraan.

Gadis itu melempar senyum tipis pada Kris. “Tentu saja. Mereka lebih memilih untuk beristirahat atau pergi ke klub malam di saat-saat seperti ini.”

“Kau benar.” Kris terkekeh pelan.

“Kau pendeta di sini?”

“A, bukan. Aku masih seorang misionaris.”

“Ah, begitu rupanya,” gadis itu mengangguk, “lalu aku harus memanggilmu apa?”

“Kris. Kris Wu. Itu namaku. Tapi kau bisa memanggilku Kris saja.” Jawaban Kris dibalas ‘oh’ kecil oleh gadis itu. “Dan siapa namamu, Nona?”

Lagi, senyum tipis gadis itu tertuju pada Kris. “Emma Lavoie.”

“Keturunan Prancis?” tebak Kris ketika mendengar nama belakang gadis itu dan aksen Prancis yang kental tiba-tiba menyeruak.

Emma mengedikkan bahunya. “Ya. Setengah. Ayahku orang Prancis dan ibuku orang Kanada.”

“Jadi kalau boleh tahu, apa yang kau lakukan malam-malam begini di gereja, Nona Emma?”

“Emma saja tidak masalah,” koreksi Emma sebelum menjawab, “Aku sebenarnya bertanya-tanya… apa pengampunan Tuhan itu ada?” netra Emma menerawang pada patung salib besar di depan, tepat di tengah.

Kris tersenyum. “Tentu saja ada. Tuhan selalu siap dan menunggu untuk mengampuni siapa saja yang meminta. Ada dalam Alkitab, ‘Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru pada-Mu[2]’.”

“Bahkan meski kita telah melakukan banyak dosa dan menjadi begitu kotor?”

“Ya, Tuhan itu pemurah dan penuh belas kasih… Emma.” Mendengar pertanyaan Emma tadi membuat Kris kembali berpikir mengenai masa lalunya. “Demikian besar kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita[3].”

“Lalu… apakah aku masih dapat diampuni jika aku mempunyai rasa marah dan atau dendam pada orang lain?” Emma bertanya lagi.

“Masih. Kau masih dapat diampuni, dengan catatan kau mengampuni orang itu juga.” Manik coklat gelap Kris bersirobok dengan manik biru Emma. “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang lain, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu[4[.”

“Begitu?”

“Ya,” Kris mengangguk, “sebab melalui pengampunan, Tuhan memberikan kelepasan penuh dari hukuman dosa. Menolak mengampuni seseorang menunjukkan kebencian, kepahitan, dan kemarahan. Menolak mengampuni juga sama saja menyakiti orang lain, dan menyakiti orang lain sama saja dengan menyakiti Tuhan sendiri. Dan kalau kau bertanya, kenapa kita memilih untuk mengampuni? Jawabannya adalah karena Tuhan sendiri telah mengampuni kita. Tugas kita adalah mengampuni dan biarkan Tuhan melakukan apa yang menjadi hak-Nya.”

Ada jeda yang menggantung sebentar. Emma yang mencerna setiap perkataan Kris, juga Kris yang lagi-lagi terseret dalam nostalgia masa lalunya.

“Sungguh…” Emma bersuara setelahnya, “perkataanmu tadi benar-benar mencerahkanku, Kris. Tidak kusangka, seorang pembunuh, ah, mantan pembunuh berdarah dingin bisa berkata seperti itu.”

Mendengar masa lalunya diungkit-ungkit membuat Kris kembali menemukan kendali penuh atas dirinya sendiri. Ketika ia menoleh ke samping, ia sudah mendapati Emma yang berdiri di hadapannya dengan pistol teracung tepat di depan wajahnya. Saking terkejutnya, Kris sampai kehilangan kata-kata dan hanya bisa diam membeku di tempat.

“Kau pasti bertanya-tanya bagaimana aku tahu soal masa lalumu, bukan?” seringai yang ditampilkan Emma terlihat begitu menawan dan mematikan di saat yang bersamaan.

Saat ini, bisa saja Kris melumpuhkan Emma. Toh, Emma hanya seorang gadis. Dan lebih dari itu, dulunya Kris adalah pembunuh bayaran yang keahliannya tak perlu diragukan lagi. Namun Kris tidak ingin kembali mengotori tangannya.

“Apa kau masih ingat pembunuhan yang kau lakukan di menara pelabuhan La Rochelle, Prancis, delapan tahun yang lalu?”

Prancis. La Rochelle. Menara pelabuhan.

Otak Kris berusaha menggali informasi yang mungkin sudah berdebu di sudut memorinya.

“Hhh. Tentu saja kau tidak mengingatnya,” cibir Emma, “kau sudah membunuh terlalu banyak orang hingga kau tidak bisa mengingatnya. Kau tidak akan pernah ingat ataupun tahu jika kau telah membunuh… ayahku.” Yang dikatakan Emma memang benar apa adanya dan Kris tidak berkutik lagi karenanya. “Kau berkata jika kita tidak mengampuni, maka kita tidak akan diampuni… begitu kan? Maka dari itu, inilah bentuk pengampunanku padamu.”

Dua tembakan yang bersarang di kepala dan dada Kris tidak terdengar memekakkan telinga berkat alat peredam suara yang terpasang di pistol Emma.

Dalam sekejap, tubuh Kris telah tumbang di lantai. Darah segar mengucur tanpa segan dari lubang di kepala dan hatinya.

Berdiri dan menatap rendah Kris, Emma berkata, “Dengan begini aku telah mengampunimu. Dan apabila Tuhan masih belum dapat mengampuniku dan menempatkanku di neraka, maka aku akan merangkak untuk menyeretmu ke neraka bersamaku.” Dan kemudian Emma berbalik pergi.

Kris bisa merasakan kesadarannya semakin menipis. Dia tahu waktunya tidak banyak lagi. Tapi anehnya Kris tidak merasakan apapun kecuali perasaan damai. Jika memang seperti inilah bentuk penebusan dosa-dosanya, Kris sama sekali tidak keberatan. Bahkan sebelum benar-benar pergi, Kris masih sempat berdoa dalam hati. Ia berdoa untuk Emma. Ia berdoa agar dendam dan rasa benci bisa enyah dari hati gadis itu.

Lalu Kris pergi dengan tersenyum setelahnya.

FIN

 

Notes :

Di sini Len ambil beberapa ayat Alkitab sebagai kutipan. Berikut rinciannya :

  • [1]Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan[1].” ― 1 Yohanes 1:9
  • [2] “Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru pada-Mu[2]” ― Mazmur 86:5
  • [3] “…Demikian besar kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita[3].” ― Mazmur 103:11-12
  • [4] “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang lain, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu[4[.” ― Matius 6:14-15

 

A/N        :

Gyagyagyagyagya, kelar juga akhirnya~~~~! XD Wow, fanfiksi ber-genre ‘spiritual’ pertama dari Len dan kedua buat ‘western’-nya. Cukup puas sih XD XD XD

Yah, karena Len mengutip beberapa ayat Alkitab dimari dan spiritual di sini berhubungan sama salah satu agama yang diakui di Indonesia, Len dengan amat sangat mengharapkan kedewasaan dari para pembaca sekalian 🙂 Tidak ada maksud apapun dengan adanya unsur agama di sini. Unsur agama di sini hanya untuk kepentingan fanfiksi semata karena fanfiksi ini ber-genre ‘Spiritual’. Syukur-syukur kalo isi fanfiksi ini bisa sedikit mencerahkan dan jadi bahan renungan /apadah/ XD

Fanfiksinya gimana woyyyy? Bikos ini penpik adalah penpik spiritual pertama Len, Len rasa masih banyak kekurangan. Inspirasinya dateng gitu aja, tiba-tiba banget kek si dia yang tiba-tiba juga ngilangnya :”) /WOIII/ Mungkin dateng karena terangsang sama gagasan Len yang bilang, “Duh, pengen nih bikin penpik spiritual”. Dan voila! Begitu inspirasi dateng, langsung deh research XD Bisa dibilang prompt buat penpik ini adalah kata “pengampunan”.

Terus awalnya sempet bingung mau pake siapa cast-nya. Tapi akhirnya Len putusin buat make Kris. Meski awalnya Suho sempet nyempil, kan Suho pernah tuh jadi cameo di salah satu drama as an oppa church gitu, tapi Len tetep pilih Kris. Gila aja, penpik Len yang ber-cast Suho udah mayan banyak ampe orang-orang pada nyangka bias Len ini Suho -_- Padahal bias Len ini pan si naga tonggos itu -_- Selain itu… ide si naga tonggos ini jadi misionaris itu kayak HELL YEAH! Anti-mainstream kan? XD /mulai narsis/

Dan nggak tahu kenapa juga Len suka sama ending dari penpik ini :”) Kesannya tuh kayak dendam dicampur aduk sama perasaan legowo, nrimo (yang orang Jawa pasti tahu), ikhlas, dan rada-rada nyesss gitu jadi satu /penjelasan macam apa ini?!/ Tapi nggak tahu gimana kesannya di benak readers sekalian XD

Maka dari itu, Len tunggu komentar-komentarnya 😉

Sorede, see you in the next fanfiction! Adios!

Advertisements

26 thoughts on “FORGIVENESS”

  1. Suka sekali dengan ff ini, mungkin pertama karena Kris dan yg kedua karena basicnya dari ajaran Katolik ya. Hihihi, aq Katolik,/gada yg nanya/ ditonjok bangt sama ayat-ayatnya. Tahun ini Paskah tidak mengaku dosa, semoga asa advent nanti bisa mengaku dosa. Yupkembali lg sama Kris, duh ga nyangka bangt kalau Emma akan membunuh Kris. Ya, agak ga rela juga dia mati begitu, but mungkin setimpal dengan masalalunya. Dia menuai hasil dari apa yg sudah di tanamnya. Tapi kalo dalam khasus ini, Kris seakan akan memberikan nyawanya sbg silih atas semua yg dia perbuat. Emma tidak salah, dia wajar punya dendam, meski itu menjadi bumerang buat dia. Dendam adalah benih neraka, sedangkan kris, dia sudah menyesali semua dosanya. Mendapat pengampunan, dan Yesus akan mengampuni semua dosanya. Ini berbanding terbalik. Tragis, Kris yg menjadikan Emma seorang pembunuh, pembunuh Kris.
    Manusia, mungkin beginilah dengan segala bentuk kekurangan dan kelebihan. Tapi Tuhan tetap menyayangi umatnya, dan selalu menunggu kapan sj manusia untuk datang padanya dan bertobat untuk jiwanya. Amin,

    Liked by 1 person

    1. Berjumpa lagi Kak Cino 😀 /halah, sok kenal lu Len XD / Well, sebenernya ane ambil ini dari Kristen sih. Tapi menurutku Kristen atau Katolik sama aja, tapi Katolik setauku lebih rumit dan banyak pelajarannya dibanding Kristen /pengalaman TK dan SD 2 tahun di yayasan Katolik/

      Idem deh sama Kakak. Tapi ane punya satu pov lagi soal “Kris yang menjadikan Emma seorang pembunuh”. Itu nggak salah, karena secara nggak langsung emang Kris yang jadi pemicunya. Tapi keputusan final tetap di tangan Emma kan? Dia yang mau jadi pembunuh atau nggak. Jadi yaaaa… 50-50 hahahaha

      Liked by 1 person

      1. bener banget, jadi kita serahkan sama Emma aja. Maalah Agama, aku ga akan berdebat, tapi di Katolik emang ribet. Hanya aja lebih longgar masalah alkitab. Aku juga memutuskan final menjadi katolik, meski dari kecil aku di didik secara hindu Bali. Nae eomma adalah orang Bali, so akhirnya keputusan iman tetep d aku.

        Liked by 1 person

      1. yuen karena nae appa itu keturunan tionghoa, lah jadi campur aduk. /gada yg nanya juga kalee/ informasi, sapa tau nanya.
        /sigh/

        Liked by 1 person

      2. jangan panggil Cik, oh ya rambutnya Kris udah numbuh lagi kok. Dia bertebaran di mana-mana dan ane ga kuat melihat wajah coolnya selalu menghiasai TLku di FB. setiap buka FB dia seorang aja yng muncul. eothokae, selalu loncat kalo buka FB.

        Liked by 1 person

  2. Len~ kamu kerasukan apaan Len, tetiba jadi bawabawa penpik spiritual? /dirajam.

    Aahhh, mari kita kesampingkan saja soal agamanya yah. kkkk
    tp yaa aslinya tiap agama punya aturan sendiri soal ‘pengampunan’ ini yah 😀 dan stauku juga intinya sama 🙂 /udah, sekip nad.

    Dan kyaaa… biarin ane ngumpatin bapak lu ya Len. Njay, preview2 doi yg betebaran d TL kok vangsath sekali yah. dan, itu lagi pas mediasi gugatan dia sma Luhan ke SM itu, kalo ga salah nnti, kalo mreka menang brrti SM yg bayar/tanggung jawab ke mereka atau apalah itu ane lupa, dan kalo SM yg menang, mereka mesti balik ke EXO. Hell yeah, utk opsi kedua itu ane antara seneng sama ‘tapi nanti gimana?’. Tetep bakal beda kan yah. semuanya gabakal sama lagi! gak kebayang bakal kek gimana parahnya mereka mesti ekting kek jaman showtime dlu. /lah? belum lagi reaksi publik khususnya Netizen koriyah! duh, tapi disisi lain ane juga kangen mereka yg lengkap kek dulu:”) /ini bahas apaan, malah kemana2. hemeeh:3

    Okeh, mari kembali ke penpiknya. operol, ane suka ini 🙂 deskripsi dri awal2 juga sweet bgt. kesan damainya nyampe 😀 ada rasa2 novel terjemahan gitu 😀

    dan endingnyaa… ane suka bgt, Len:)) seneng bgt keris nya metong/digampar
    bagian akhir dari hidup kan memang utk mencari kedamaian/kenyamanan hati yah:” entah dengan cara apa, sama siapa, dan gimana caranya, tergantung masing2 pribadinyaa. dan kris mendapatkan itu -berdasarkan deskripsi disini-

    Kerenlah~ eh, bdw bapak ane si junmen holkay masuk pertimbangan buat jadi maincast disini? wakakak. keknya lu bener2 bakal jatuh cintrong sama babe ane len:”) /serius digampar

    /drabble kah?

    Liked by 1 person

    1. Kerasukan demit taman lawang XD XD /GAK LAH YA GILAK AJA LU/
      PRREEEETTTT MANA MUNGKIN BALIK? Orang Tao yang kalah gugatan aja kagak balik ke EXO dan malah ngeksis ama Wiz Khalifa XD XD XD Bapak ane mana mau balik? Orang doi udah eksis ampe Hollywood sana, kemaren baru aja foto bareng Tante Paris Hiton. Kalo doi balik ke esem /juga ekso/ mana bisa dia sliweran cem gitu? HAHAHAHAHAHA

      Anjirrrrrr … kok kita samaan sih, seneng naga burik itu ko-it? XD XD
      I love the ‘nyesss nyesss'(?) feeling sumvah!

      Apa?! Ane?! Jatuh cintrong ke Junmen?! NGGAK. NG-GAK. Dih, om pedo macem dia bikin ane geli mah. Sok cakep gitu pengen nampol mukanya pake sepatu ane yang ukurannya 40. Kalo perlu ane tampol pake debog pisang ngambil dari sawah! /danyangnulisininyimpenfotojunmenpaslagitoplessdiexoluxionjapan/

      Like

  3. WAKAKAKAK~ ane ngakak setan ditengah malam buta :V pdhal tadi udh ngefeel bgt sma fenfik ini:”
    /dan momen delusi ane soal OT1* ancur/ 😀 😀 haruskah kau sebutkan sedetil itu, Len?:” /sadar, nad WOY.
    Yakali -_-
    keris yg skrg mainnya sama om Vin Diesel~ belom lagi dendam berkarat sama MinMan 😀 :V MANA BISA? /nampar diri /gak-_-
    dan pertanyaan ane knpa yg kesebut dluan di elu malah sih qingdao itu ye? udh sengaja ga nyebut2 dia tadi:’ HAHA
    Ntahlah, diri ini gasuka aja sama manusia satu itu. belom lagi acara mewek2an dia kmren. Anjir! ilfeel gue! :V :V HAHA:”

    Tossan cyuk :V wakakaka. ko-it gak malu2in soale 😀 nyess nyess feeling <– ini ambigu:"

    Kaki lu, Len~ /ane jdi nebak2 postur lu gimana aslinya :V /srius digampar :3

    Ohjadiorgitusukanyakalosibabelagitopless? yaudah nanti ane laporin sama si babe biar sering2 :V WAKAKAKA

    Like

    1. Ya maaf kalo jadinya imajinasi lu ancur, ane nggak maksud Nad. Cuma ngepasin aja XD XD /digampar/
      Iya kan? Belom lagi tuh dia maen di film luar yang judulnya Valerie itu dan jadi prajurit luar angkasa gitu! Maennya ama bule-bule mulu dah :v
      Gasuka? Dia pan babe lu, durhaka lu ntar XD Mewek-mewekan apa lagi elah? Ane baca aja udah ilfeel -_____-

      Kenapa kaki ane hah?! Ini mah kaki ane kecil sumvah /dusta/

      XD XD XD XD XD ANJIRRRRRR.Yalujangankejemkejemgitunapa?Kaloanejadigakkuatgitugimana?Maukamutanggungjawab?Maubabekamuitutanggungjawab?

      Like

  4. Iye. Gppa~ bagus sih–”
    Ho’oh si babe satu itu makin keren ajin. Rambut juga udah tumbuh lagi–”
    Gausah jauh2 yg ama bule2, bahkan di sweet sixteen aja ane udh jatuh cintrong ama si babe–” /dasar. Tapi lebih greget yg ama bule2 dong 😀

    APA? Babe ane? HUWEEKK :3
    Ya lu tau lah, die pan sensitip. Di acara promo konser solonya kalo gasalah. Pas di singgung soal SM sam hater gitu2, ane ga merhatiin, bosen. Intinya dia mewek disono. Njiirrrr~ pen ane sambit minjem sepatu lu tauk. HAHAHAHA /gimanapun jg dia mantan, nad–”

    Dusta kau, dusta :v

    Ya kalo lu mau nerima pertanggung jawaban si babe, hayuklah. Babe mah siap bertanggung jawab, katanya 😉 😀 😀 Huahahaha.

    Like

    1. Makin tamvan sumvah :’ Tapi kok kesandung skandal mele :” Kan ane sebagai anak antara malu-sedih sama pengen nabok XD

      Wait, ini babe yg mana ya? Suho pan belom ada solo konser? :/
      Dan kenapa harus pinjem sepatu ane? Lu punyanya swallow ijo ye?

      ANJAAAAYYYYY ANE MERINDING SUMPAH BACA KOMENAN ITU! APA-APAAN ITU WEH? KOK ADA KESAN YG BEGONOH-ONOH YE? /merinding/

      Like

      1. Begitulah idup~ makin cakev makin banyak gerangan/? Yaudalah~ org kakek Jackie Chen aja gapeduli 😀 si babe agensi baru ciyeh.
        Ya lu sbg anak sering2 ngasih pencerahan lah–” lu tabok2 skalian juga silahkan 😀 😀

        ANZAAYY~ lu salah paham ternyata-”
        Yg ane mksd itu, si mantan yg ngatain babe lu pas keluar dulu, pdhal die nyusul kemudian~ Kan sue >_<
        Knp ane gasuka? Emg situ suka? Hwhwhwhw

        pake sepatu 'kecil' lu lah biar greget~ Sklipun cuma punya swallow ijo, ane ogah di pake nabok die 😀 :v

        NJEERRR~ YA ELU AJIN YG PIKIRANE KEMANA-MANA~ HUAHAHAHAH 😀

        Liked by 1 person

      2. EYAMPUN, EFEK NGANTUK ANE BACA ‘GERANGAN’ KOK YA BISA-BISANYA JADI ‘ERANGAN’ XD XD HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA XD XD XD
        Pencerahan bijimane kalo ane sendiri ada di sisi gelap? /tsah/ apaini?/
        OLAWAH… SI PANDA YANG MAU RILIS PILEMNYA NTU TOH :O
        XD XD XD XD XD
        Pikiran ane lagi kurang piknik, makanya…….. XD LOLOLOL

        Like

  5. Emang erangan itu apa qaqaa?–” :V

    Ya beliin lampu atau lilin elaah -_- apa perlu minjem superpowernya si cabai internasional buat nerangin jalan kalian? 😀

    IYA. YG LAGI NAIK RANTING ITU LOH-”
    NJEERRR~ LU PIKNIKNYA NGAPAIN EMANG??
    Nantilah~ skalian ane suruh si babe ngajak elu dipiknik keluarga 😀 😀
    /ini udh sampe mana sih? 😀

    Like

      1. Jangan nodai pikiran suciku kak, plis ;3;

        Ciyeh yg butuh kehangatan 😀 /ROFL

        Yaa daripada lu pemes sma kejelesanlu pan, mending piknik biar pikiranlu gak kemane mane lageeh -____- /tangkepkyungsu/? 😀 😀

        Like

      2. PRET, SUCI? Sejak kapan? Sejak kkamjong mandi pake bayclin?

        Njaaayyyyyy XD Sini butuhnya gula :3

        Hmmm, dengan atau tanpa piknik, pikiran ane kemana-mana kok XD

        Like

  6. Ih, qaqa ga percayaan 😥 sriusan aku masih volos qaqa /mati -____- 😀

    Gula = manis. WAT IS DIS? kode lagi kah? drisemuasuperpowerkeknyayangadamanismanisnyayacumapunyababeane~ water-le mineral-ada manis2nya^ Yaamvon 😀 😀 /ROFLOLOLOL

    pas banget dah^ :V

    Like

    1. Nad, puasa lho Nad. Nggak usah berdusta kamu ya? Inget Nad, jangan ada dusta di antara kita

      EH DASAR SETAN, YA NGGAK GITU JUGA KALIKKKKK! /table flip/ dan ini kenapa kok bisa ngepas gitu ye? AH KAMVRET ANJIRRRR!!/

      Like

      1. Bukannya dari awal kamu yg udah ngedustain aku, Len? 😦

        lmao~ :D: D
        Ya gatau. Kalo org bilang mah, jodoh ga kemana ya 😀 Buakakakak

        Like

Speak up now!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s