Captain's Pasta, One-meal Pasta

Aku, Kamu, Bus, dan Kemungkinan Adanya ‘Kita’

akb

 

 

“Kali ini Jaehyun tidak merutuki culture-shock yang didapatnya”

Aku, Kamu, Bus, dan Kemungkinan Adanya ‘Kita’

By Nuevelavhasta

Jung Jaehyun NCT-U, Aksara Nitya (OC) | Slice of life, School-life, a lil bit of romance | T |

“Aku, Kamu, Bus, dan Kemungkinan Adanya ‘Kita’” is Nuevelavhasta’s work. Standard disclaimer applied. No profit taken from this fiction

 

Poster by ravenclaw

 

WARNING! AU, Typo(s), bahasa tidak baku, possibly OOC. I decided to use Jaehyun’s stage name instead of his real name.

.

.

 

Jaehyun masih bertanya-tanya, kenapa ayahnya yang seorang dokter dan guru besar itu harus memboyong keluarganya untuk sebuah penelitian yang Jaehyun sendiri tidak mau repot-repot berpikir tentang apa penelitian itu. Dan kenapa pula penelitian ayahnya mengharuskan ia sekeluarga pindah ke kota kecil di kaki gunung dan bukannya Jakarta, Surabaya, Bandung, Jogja, atau kota-kota besar lainnya yang lebih wajar ditinggali oleh orang asing sepertinya.

Sudah tiga bulan disini dan Jaehyun belum sembuh betul dari serangan culture-shock beruntun yang ia dapat, juga belum bisa membaur sempurna dengan lingkungannya. Dan dari banyak serta beragamnya culture-shock yang ia dapatkan, ada satu yang benar-benar membuat Jaehyun kaget sekaget-kagetnya―selain menemukan lagu All Of Me milik John Legend yang berubah genre menjadi dangdut―yaitu, naik bus.

Tidak. Itu bukan berarti Jaehyun tidak pernah naik bus selama ia tinggal di Korea atau Amerika. Bukan seperti itu. Hanya saja bus-bus disini benar-benar berbeda jauh dengan bus-bus yang pernah ia lihat dan tumpangi di Korea dan Amerika. Coret kata ‘nyaman’ dari kamusnya tiap kali ia naik bus karena eksistensinya hanyalah semu belaka.

Jangan bayangkan bus besar ber-AC dengan tempat duduk empuk yang bisa diatur. Karena nyatanya yang ada adalah bus kecil dengan tempat duduk yang sudah banyak reyot dan―beberapa―busanya sudah melesak keluar. Jangan bayangkan bus dengan warna mentereng berbodi gagah nan kokoh. Karena nyatanya, bus-bus yang ada disini mayoritas adalah bus tua yang harusnya dikandangkan dan tidak layak jalan. Memang ada yang terlihat lebih baik dari bus lainnya. Tapi itu termasuk golongan minoritas. Belum lagi asap knalpot yang hitam dan bau serta suara mesin yang berisik.

Ah, masih ada lagi.

Bukan sekali-dua kali Jaehyun terpaksa bergelantungan di pintu bus, lalu berdoa supaya dia tidak terlempar dari bus tiap ada tikungan. Ada kalanya Jaehyun berhasil masuk ke dalam bus. Tapi bukan berarti keadaan menjadi lebih baik. Jaehyun lebih sering berdiri jika di dalam. Berhimpitan dengan penumpang lain sampai dia kesulitan mengambil uang untuk ongkos di sakunya―Jaehyun juga sempat ditipu masalah ongkos di awal-awal naik bus. Meski bibirnya tidak komat-kamit, Jaehyun berharap tidak ada skinship yang bisa membuatnya dituduh sebagai pelaku kejahatan seksual. Belum lagi kalau barang dagangan para pedagang masuk. Seperti sayur, buah, perkakas, hingga hewan seperti ayam.

Nah, dimana nyamannya?

Lebih sial lagi, sudah seminggu Jaehyun mengalami itu semua. Berangkat dan pulang sekolah ia terpaksa naik bus karena ayahnya tidak bisa mengantar-jemputnya karena disibukkan dengan penelitiannya. Sedangkan ibunya lebih memilih untuk mengurus kebun barunya di rumah yang penuh dengan bunga dan tanaman obat ataupun tanaman rempah-rempah. Belum lagi, semenjak naik bus Jaehyun selalu nyaris terlambat atau benar-benar terlambat.

“Hai, Tuan Nyaris-Terlambat-Bahkan-Terlambat-Betulan.” Satu tepukan di pundak dan Jaehyun yang tengah makan roti di taman sekolah saat jam istirahat menoleh.

Didapatinya Nitya, karibnya, yang kini sudah duduk di sampingnya dengan tiga roti dan sebotol air. Nama lengkapnya Aksara Nitya, dipanggil Nitya. Doyan makan makanan tapi tidak pernah gemuk, juga doyan makan buku. Jaehyun memanggilnya Sara karena lebih mudah dilafalkan oleh lidah Korea-nya. Kefasihannya dalam bahasa Inggris membuat Nitya dekat dengan Jaehyun sejak kemunculan perdana Jaehyun. Menjadikannya penerjemah sekaligus guide Jaehyun dan belakangan dijuluki ‘asisten pribadi Jaehyun’ oleh anak-anak lain.

Nitya sendiri tidak berkomentar apapun soal itu. Sedangkan julukan itu membuat Jaehyun benar-benar menginginkan Nitya menjadi asisten pribadinya bahkan lebih dari itu. Gagasan ngawur yang datang kala getaran asing itu dirasakan Jaehyun belakangan ini. Imajinasinya kadang berandai dia ini atasan yang kaku-keras-tipikal alpha, yang punya asisten cantik-cerdas-keras lalu keduanya jatuh hati. Bah! Drama sekali.

Tapi kalau dipikir-pikir, peran itu tidak cocok buatnya. Juga Nitya. Hingga pernah waktu dia tidak ada kerjaan, Jaehyun iseng menerka-nerka, kira-kira semesta macam apa yang pantas dihuni olehnya dan Nitya? Apa semesta Romeo-Juliet? Sampek-Engtay? Layla-Majnun? Napoleon-Josephine? Odysseus-Penelope? Atau Tristan-Isolde? Ah, tapi kalau dipikir lebih jauh, tidak ada semesta yang cocok baginya dan Nitya. Tidak peduli seberapa manis kisah-kisah di atas, tetap saja terlalu banyak tragedi, ironi, serta kesedihan. Pada akhirnya Jaehyunpun bertekad menciptakan semestanya sendiri bersama Nitya. Duh, kalau mengingatnya Jaehyun bisa senyum-senyum konyol seorang diri.

Are you mocking me?” tanya Jaehyun.

No, I’m not. I was just saying the truth,” elak Nitya seraya mengunyah rotinya.

Oke, Jaehyun kalah.

“Baumu kayak rokok, ya?” Tanpa canggung, Nitya menarik lengan seragam Jaehyun dan mengendusnya hingga ke kerah seragam Jaehyun. Membuat bulu kuduk di sekitar sana berdiri karena gugup.

“Tapi bukan berarti aku ngerokok,” kilah Jaehyun. “Tadi di bus aku sebelahan sama orang yang kerjanya cuma ngerokok. Dia lebih mirip lokomotif daripada orang. Empat batang rokok habis dihisapnya.”

Nitya yang mendengarnya tertawa kecil lalu tersenyum maklum. Dari baunya Nitya tahu kalau itu rokok racikan sendiri. Bukan berarti Nitya merokok. Tapi Pak Darmono tetangga sebelahnya itu juga pecandu rokok tingkat akut. Tipe orang yang lebih memilih merokok ketimbang makan.

I can’t stand it,” keluh Jaehyun. “Di Amerika dan Korea juga ada bus. Tapi jaaaaaaaaauuuuuhhhhhh lebih nyaman dan layak. Nggak ada penumpang sampe keluar-keluar, nggak ada sayur-buah-hewan, baunya juga nggak bikin mual. Dan aku nggak bakal bau rokok.”

Nitya tertawa. “Tapi mau nggak mau harus mau dong. Nggak mungkin kan, kamu berangkat ke sekolah subuh-subuh bareng Abeoji-mu. Mau jadi penjaga sekolah kamu?”

Dalam diam Jaehyun setuju.

“Gini aja,” kata Nitya. “Mulai besok kamu ngebis bareng aku aja, gimana? Tapi jam enam kamu udah harus stand-by. Lebih pagi biasanya nggak rame. Entar aku dadah-dadah di jendela buat kode. Kan aku nanti ngelewatin rumahmu pas naik bus. Gimana?”

Baru Jaehyun merasa kalau peribahasa ‘pucuk dicinta ulampun tiba’ yang ia baca kemarin bisa teraplikasikan sekarang.

Tanpa pikir panjang, Jaehyun langsung menjawab, “Oke!”

 

***

 

Sebulan berikutnya, Jaehyun sudah memiliki motor bebek tapi belum punya SIM. Namun Jaehyun masih setia ngebis bersama Nitya. Jelas, ini hanya akal-akalannya saja. Modus besar. Supaya bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan pujaan hatinya itu.

Jaehyun suka mengobrol banyak dengan Nitya dan tidak akan pernah bosan. Ikut diam saat Nitya juga diam melihat pemandangan yang sama di luar jendela. Atau menggoda dan mengusili Nitya kala Nitya fokus pada buku-buku yang dibacanya.

“Kalau fokusmu selalu buku, kapan kamu fokus ke aku?”

Tidak jelas darimana Jaehyun belajar menggombal, yang jelas Nitya geli mendengarnya sampai memukul Jaehyun. Yang dipukul juga jelas tertawa senang. Senang karena melihat ekspresi Nitya yang tersipu-malu-tapi-segan itu.

Hari ini bus cukup lengang. Jaehyun dan Nitya memilih untuk berdiri, merelakan kursi mereka ditempati oleh seorang ibu dengan dua anaknya yang masih kecil-kecil. Kalau kalian bertanya kenapa Jaehyun nyengir lebar sekarang, jawabnya sudah jelas karena jaraknya dengan Nitya berada dalam hitungan senti.

“Jadi gimana?” tanya Nitya.

“Gimana apanya?” Jaehyun balas bertanya.

Ngebis-nya lah. Kayaknya keluhanmu soal bus udah jadi sejarah. Mulai kerasan1 dan ngerasa nyaman ya?”

Jaehyun tertawa. “Bisa dibilang begitu. Rasa nyaman ada karena terbiasa kan?” Juga karena ada kamunya, imbuh Jaehyun dalam hati tapi tidak berani ia suarakan.

Nitya tersenyum tipis. “Well, itu bener, sih.”

Kenek bus yang bergelantungan di pintu menyerukan nama sekolah mereka sebagai pemberhentian selanjutnya. Nitya dan Jaehyun merangsek menuju pintu bus.

“Sara?” panggil Jaehyun. Terasa spesial karena tidak ada yang memanggil Nitya seperti itu. Dan Jaehyun jelas merasa bangga.

“Hm?”

“Ka-kalau … kalau …” gagapnya Jaehyun mengundang penasaran Nitya. Tumben Jaehyun gagap begitu. Sementara Jaehyun sendiri juga mengutuki dirinya dalam hati. “Kalau aku mulai nyaman sama kamu gimana?” lanjut Jaehyun cepat dalam satu helaan nafas.

Diam. Hening. Hanya ada suara bus melaju. Pandangan Jaehyun dan Nitya bersirobok.

Jaehyun harap-harap cemas dan Nitya tidak terbaca. Hingga kemudian bus memelan lajunya sampai berhenti tepat di depan gerbang sekolah mereka.

“Kalau kamu mulai nyaman sama aku…” Nitya memutus kalimatnya. Medekatkan diri pada Jaehyun, membawa bibirnya sedekat mungkin ke telinga Jaehyun. “Then… always stick with me,” bisik Nitya cepat lalu melompat turun dari bus.

Jaehyun melongo-cengo di tempat. Apa pernyataannya tadi kurang jelas? Haruskah Jaehyun berkata ‘I love you’, ‘saranghae’, atau pernyataan cinta gamblang sejenis seperti yang ada dalam drama-drama romantis? Untuk berkata seperti tadi saja Jaehyun sudah gugup setengah mati sebelum melakukannya dan harus latihan di depan cermin selama seminggu, apalagi kalau harus mengutarakan perasaannya secara gamblang ala scene drama-drama romantic! Lalu, jawaban macam apa tadi itu, hah?

“Mas, mudhun ora? Bis’e arep mlaku2,” kata kenek bus membuyarkan lamunan Jaehyun.

Jaehyun belum bisa menangkap seratus persen perkataan kenek bus tadi karena melamun, tapi intinya dia diusir, disuruh turun, begitu kan? Jaehyun hanya bisa mengumpat dalam hati, melompat turun dari bus, dan mengejar Nitya yang melenggang santai di halaman depan sekolah mereka.

“Sara!” seru Jaehyun. “What kind of answer was that?!”

Dan Nitya yang mendengarnya hanya tertawa puas sementara Jaehyun mulai gusar.

 

FIN

 

Note :

1Betah

2Mas, mau turun tidak? Busnya mau jalan

 

A/N        :

 

Ditulis saat WB menyerang dan mood nulis kembang-kempis. Menyebabkan epep ini mogok berkali-kali dan revisi berkali-kali pula. Jadi … jadi … maapkeun daku kalo epep ini terasa begitu kriuk-gaje-apabanget. Ha. Ide Jaehyun yang jadi bule nyasar di kaki gunung itu harus ane akui sungguh apabanget, hahaha. Beruntung pas lagi di jalan dapet wangsit, jadi langsung tancap gas buat lanjutin. Meski ujung-ujungnya masih revisi mulu macem skripsi. Akhirnya setelah sepuluh kali revisi di ms.word dan banyak kali di kepala, epep ini kelar XD

Dan All Of Me dangdut version itu benar adanya XD Kalo nggak percaya tanya gugel aja. Yang nyanyi Via Vallen XD Eh btw, lagu ‘Rude’ juga ada lho versi dangdutnya XD

Oke, kalo gitu adios! /ngebis bareng Jaehyun/

Advertisements

4 thoughts on “Aku, Kamu, Bus, dan Kemungkinan Adanya ‘Kita’”

    1. Seneng bijimane weh? Digantung gitu juga :3

      Iyaps. Sebenernya ini fic ane ikutin buat acara 2nd Oprec di NCTFFI. Ebuset dah, dapet prompt pas lagi webe. Anju nggak tuh? XD Tapi karena belom rejeki, belom kepilih, jadi aja ane publish dimari XD XD

      Like

      1. Ada kemungkinan itu lebih baik daripada enggak sama sekali °_°

        Belom rejeki ya xD
        Belom jodoh ama Jaehyun juga :v

        Like

Speak up now!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s