Captain's Pasta, One-meal Pasta

[Original Fiction] Elegi

Addiction-Isolation-and-the-Cycle-of-Loneliness

 

“…biar saya sendiri yang mengantar Ibu…”

by Nuevelavhasta

Keluar rumah bukan hal lumrah yang dilakukan Intan. Terlebih saat adzan subuh baru selesai dikumandangkan seperti ini. Tapi mau tidak mau ia harus melakukannya.

Pak Salihin yang baru saja menyelesaikan ibadah salat subuhnya dan bersiap pulang terpaksa urung ketika melihat siapa yang mencarinya. Intan, warga RT-nya yang tidak pernah keluar atau berinteraksi dengan warga satu desa. Bukan tidak pernah, tapi jarang yang teramat jarang.

“Ada apa Nak Intan?” tanya Pak Salihin.

“Ada kabar orang meninggal, Pak.”

“Siapa?”

“Ibu saya.”

Pak Salihin kaget. Karena berita ibu Intan, Bu Indri, yang meninggal. Juga karena ketenangan yang ditunjukkan oleh Intan.

 

 

Berita meninggalnya ibu Intan sudah dikumandangkan lewat masjid ba’da subuh tadi. Enam jam sudah berlalu dan dua jam lagi jenazah ibu Intan akan dikebumikan. Tapi Pak Salihin dan istrinya nampak gelisah. Sungguh kontras dengan Intan yang masih bersikap tenang. Ekspresi mukanya juga teramat tenang untuk ukuran seorang anak yang ditinggal ibunya dan akan jadi sebatang kara.

Kegelisahan Pak Salihin bukan tanpa alasan. Dua kali sudah berita duka itu ia kumandangkan, tapi belum ada satupun warga yang datang melayat. Beliau berserta istrinya serta Bu Aisyah dan dua anak gadisnya adalah pengecualian. Tentu saja Pak Salihin harus hadir. Dia ketua RT. Sementara Bu Aisyah adalah tetangga depan rumah Intan.

Kalau tidak ada yang datang, bagaimana jenazah Bu Indri akan dikebumikan? Siapa yang akan memanggul keranda mayat sampai ke kuburan?

 

 

Begitulah kalau kau hidup di desa. Kau dipaksa untuk bersosialisasi, dipaksa ‘peduli’ pada orang-orang satu desa. Kalau kau tidak mau melakukannya, kau akan tidak dianggap. Kau bisa dikucilkan. Dan berita-berita miring tentang dirimu akan bermunculan layaknya jamur di musim penghujan.

Tapi Intan tidak bisa seperti itu. Pikirnya, buat apa ia harus bermanis-manis pada orang yang menggunjingkanmu di belakang? Intan tahu, masyarakat desa tempatnya tinggal itu tidak begitu menyukainya. Bisa jadi karena ia yang mengisolasi diri atau karena masalah orangtuanya.

Dari apa yang ia dengar dari mendiang neneknya, ibunya kembali ke desa ini saat empat bulan mengandung dirinya. Tanpa ayahnya. Intan juga tidak pernah tahu sosok ayahnya. Hanya namanya saja yang ia tahu. Selain fakta bahwa ayahnya menjadikan ibunya sebagai istri simpanan lalu mencampakkannya begitu saja.

Dan aib merupaka sesuatu yang jadi bahan favorit untuk digunjingkan orang-orang. Akan lebih parah kejadiannya jika itu terjadi di desa. Sebuah komunitas masyarakat kecil yang tingkat kepeduliannya beda tipis dengan ikut campur urusan orang lain.

Entah hanya perasaan Intan saja atau tidak, tapi Intan selalu merasa orang-orang desa memandangnya dengan pandangan yang berbeda. Mungkin di depan ibunya atau dirinya mereka bisa melempar senyum manis―tapi palsu. Namun Intan tidak bodoh. Ia tahu orang-orang desa juga mengejek ibunya dan dia. Anak haram, wanita simpanan, dan hinaan-hinaan lainnya.

Sejujurnya, Intan merasa trauma dengan tempat ini. Dengan orang-orang di dalamnya, meski tidak semua. Intan pernah dikelilingi anak-anak desa yang mengolok-ngoloknya dengan sebutan ‘anak haram’. Intan juga pernah dilempari kerikil saat ia hendak berangkat les. Intan pernah dibuat terlambat ke sekolah karena anak-anak desa menghalangi jalannya menggunakan bambu.

Jadi bagi Intan, untuk apa ia peduli?

 

 

“Gimana ini Pak? Sudah hampir jam dua belas tapi warga nggak pada dateng.” Bu Dewi, istri Pak Salihin, berkata cemas pada suaminya.

Pak Salihin hanya diam. Tidak tahu harus berbuat apa.

“Pak RW, Pak Lurah, sama orang-orang kecamatan masih pada rapat, Bu. Terpaksanya ya kita tunda acara pemakamannya. Nggak mungkin juga Ibu sama perempuan-perempuan di sini ngangkut keranda mayatnya sampe kuburan.”

Pasangan suami-istri itu melirik iba pada Intan yang masih diam di tempat. Setia di samping jenazah ibunya. Pasangan suami-istri itu tahu, Intan sebenarnya anak yang baik. Hanya terlalu pendiam dan murung. Tidak mengherankan jika masa kecilnya dihabiskan dengan berbagai doktrin negatif dari lingkungannya.

“Dulu Ibu pernah tanya ke saya…” Intan baru angkat suara setelah diam berjam-jam.

Mau tak mau, atensi Pak Salihin, Bu Dewi, Bu Aisyah, dan dua anak gadisnya teralihkan.

“Waktu itu Ibu mengeluh soal saya yang nggak mau kumpul sama orang-orang desa. Kata Ibu, buat hidup di desa sikap cuek itu nggak bisa diterapkan. Terus Ibu tanya, ‘Kalau kamu begini terus, terus Ibu meninggal dan nggak ada yang mau melayat gimana? Siapa yang bakal menggotong jasad ibu?’. Terus saya jawab, ‘Kalau nggak ada yang mau menggotong jasad Ibu dan mengantar sampai kuburan, Intan yang bakal mengantar Ibu’.” Semua tertegun mendengarnya.

Terkejut. Iba. Tidak percaya.

“Kalau nggak ada yang datang, nggak apa-apa Pak, Bu. Biar saya sendiri yang menggotong dan mengantar Ibu. Saya terima kasih banget sama Bapak dan Ibu-ibu, juga Mbak-mbak yang sudah mau datang,” lanjut Intan.

 

 

Tapi keinginan Intan harus pupus. Tepat jam dua belas lebih lima, rombongan perangkat desa dan beberapa pegawa kecamatan tiba. Mereka mendoakan Ibu Intan dan mengantarnya sampai ke kuburan.

Intan sendiri merasa berterimakasih yang amat dalam. Walau sisi kelam di dalam dirinya berkata, “Mereka hanya datang karena mereka tokoh masyarakat yang punya jabatan.”

 

FIN

 

a/n        :

Judul ama isi nggak tahu nyambung apa nggak. Nggak bisa nemuin yang pas.

Akhirnya cerita yang kependem lama banget bisa terealisasikan.

Maaf atas typo(s) yang bercokol dan cerita yang rada-rada plotless bin gaje ini.

Advertisements

Speak up now!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s