Captain's Pasta, One-meal Pasta

Critical Eleven

ce

 

 

Junmyeon memang dokter dan bukan pekerja di bidang aviasi, tapi dia punya critical eleven-nya sendiri. Sebelas menit yang jadi penentu baginya

CRITICAL ELEVEN

Storyline © Len K. Standard disclaimer applied. No profit taken from this fiction

 

Starring : Kim Junmyeon – Suho EXO, Choi Minrin (OC), etc | Rate : T | Genre : Drama

poster by bangsvt @posterchannel

 

WARNING!!

AU, possibly OOC, typo(s), inaccurate Romanization

 


 

“Bangun, Jun, bangun.” Alfred si pirang dari Negara Paman Sam terkekeh senang kala ia menepuk-nepuk pipi Junmyeon agar rekannya yang berstatus sebagai dokter spesialis bedah anak itu bangun.

“Ugghhhh…” hanya lenguhan yang dikeluarkan Junmyeon. Dua tangannya refleks menutupi wajahnya.

Andai saja Junmyeon berada di rumahnya di Korea sana, tepatnya di atas kasur empuknya, mungkin Junmyeon akan kembali bergelung dalam tebalnya selimut. Tapi tidak di sini. Selamat tinggal kasur empuk, selamat tinggal selimut hangat. Itu yang diucapkan Junmyeon ketika melihat barak tempatnya tinggal selama ia berada di Syria. Hanya ada barak berisi delapan dokter pria dengan velbed1 sebagai tempat tidurnya.

Junmyeon tidak menyesali itu. Sama sekali tidak. Sejak awal bergabung dengan MSF―Médecins Sans Frontières2―atau yang biasa disebut dengan ‘Dokter Tanpa Batas’, Junmyeon sudah tahu konsekuensinya. Mungkin yang sering mencemaskannya adalah ibunya.

“Aku sudah bangun, Al,” balas Junmyeon dengan suara paraunya.

Alfred yang tengah bersiap-siap memasukkan beberapa peralatan ke dalam tas punggungnya berhenti lalu menghampiri Junmyeon. “Kalau begitu kau perlu duduk dan bersiap-siap. Hanya kau seorang yang belum melakukan apa-apa, Junior Pemalas. Kau tidak lupa jika hari ini kita menuju Aleppo kan?”

Junmyeon yang sudah duduk mengamati sekelilingnya. Alfred benar. Ia satu-satunya yang belum melakukan apa-apa. “Oke, oke. Aku akan bersiap mulai sekarang.”

“Bagus. Jika sudah selesai, segeralah keluar untuk berkumpul.”

“Oke.”

“Oh ya, ngomong-ngomong kau satu mobil denganku.”

 

 

Perjalanan dari Idlib menuju Aleppo cukup memakan banyak waktu. Jangan bayangkan perjalanan dengan pemandangan indah di kanan-kiri. Yang kebanyakan ada hanyalah puing-puing bekas peperangan yang tersebar di atas padang pasir. Keadaannya jauh lebih mengenaskan ketika rombongan Junmyeon memasuki Aleppo.

Dulunya Aleppo adalah kota yang cantik. Junmyeon berani bertaruh untuk itu. Tapi perang sudah menghancurkan kecantikan itu. Kini Aleppo sudah porak-poranda.

Rombongan Junmyeon berhenti tidak jauh dari barak-barak berwarna putih di beberapa titik dengan logo merah MSF. Dua orang dokter, laki-laki dan perempuan, berdiri paling depan untuk menyambut mereka.

“Kami sudah menantikan kedatangan kalian.” Si dokter perempuan tersenyum. Usianya sudah memasuki kepala lima, tapi rambut brunette dan mata zamrudnya yang teduh membuatnya terlihat lebih muda dari usia sebenarnya.

“Terima kasih, Lily. Bagaimana keadaan di sini?” Alfred yang merupakan pemimpin regu langsung bertanya.

“Kami kelimpungan. Pasien setiap hari―tidak, setiap jam malah, selalu bertambah. Sementara kami kekurangan tenaga medis. Belum lagi perang yang masih berlangsung. Gencatan senjata itu omong kosong. Bahkan kamipun tidak luput dari serangan.” Daniel, dokter kulit hitam yang berdiri di samping Lily angkat bicara.

“Tunggu, bukankah itu melanggar hukum perang3?” Junmyeon mengkritisi.

“Hukum seperti itu tidak berlaku di sini, Nak,” balas Daniel yang langsung membuat Junmyeon bungkam. “Ah, ayo. Kutunjukkan barak kalian. Kalian bisa istirahat sebentar. Nanti setelah makan malam kita berkumpul untuk mendiskusikan tugas kita.”

 

***

 

Jika ini di Korea, maka Junmyeon yang seorang spesialis bedah anak sudah bekerja di rumah sakit yang bersih dengan fasilitas lengkap, dalam balutan baju yang rapi serta jas putih kebanggaannya. Tapi di sini, di Aleppo, Junmyeon harus bekerja di barak dengan fasilitas yang terbatas, mengenakan kaos polo dan celana selutut serta rompi putih dengan logo MSF. Jangan lupakan teror perang yang menghantui setiap saat yang bisa membuat nyawanya melayang. Semua itu bukan masalah besar bagi Junmyeon.

Shukran4, Doctor.”

Melihat pasiennya tersenyum dan merasa baikan sudah membuatnya senang.

Al ‘afwan5,” balas Junmyeon seraya mengacak rambut anak laki-laki yang baru saja ia tangani. Tangan kirinya patah karena tertimpa puing. Bocah itu kembali tersenyum sebelum melenggang pergi bersama teman-temannya yang sedari tadi menungguinya.

“Wow, anak-anak itu menyukaimu,” suara bariton itu cukup membuat kaget Junmyeon. Dan Junmyeon hanya tertawa kecil saat melihat sosok Nathan berjalan memasuki baraknya dan duduk di depannya. “Kau sudah cocok untuk menjadi ayah. Kenapa tidak mencari wanita, menikah, lalu membuat beberapa anak? Kenapa pula kau harus susah-susah bertaruh nyawa kemari? Kudengar kau hidup cukup enak di Korea sana.” Ocehan Nathan tidak bisa dibendung.

“Ckckckck,” Junmyeon berdecak. “Aku kemari karena panggilan hati. Lagipula, kau pikir cari istri itu gampang?”

“Ya. Tentu saja. Setiap aku berjalan, gadis-gadis pasti melirikku. Kau harus lihat aku saat aku jalan-jalan di Paris! Aku hanya tinggal berdiri atau duduk dengan menawan, menatap dengan menawan, tersenyum dengan menawan, lalu gadis-gadis itu bisa jatuh ke pelukanku!”

“Untuk apa pula aku melihatmu flirting?” cibir Junmyeon.

“Tapi dalam kasusmu seharusnya tidak susah kan?” Nathan mengabaikan kesalnya Junmyeon yang ia abaikan. “Kau punya wajah yang bagus, kau kaya, kau pintar. Hanya saja kau kurang tinggi. Apa mungkin karena itu ya?”

“Tidak bisakah kau tidak menyinggung tinggi badan sebelum pisau bedahku tersangkut di tenggorokanmu?” balas Junmyeon jengah. Yang diancam malah terbahak-bahak. “Sudahlah. Hentikan. Daripada itu kenapa kau kemari?”

“Ah iya, karena aku hari ini cukup sibuk, aku minta tolong padamu untuk memeriksa pasienku―”

“Hei, hei, mana bisa? Kau pikir aku juga tidak punya kesibukan?” potong Junmyeon.

“Tapi aku benar-benar tidak bisa hari ini. Ayolah Jun … hanya satu pasien. Lukanya juga tidak begitu parah kok. Ya? Ya? Ya?  Min fadlak6…” Nathan memohon-mohon lengkap dengan tampang memelas.

“Baiklah, baiklah―”

YEEESSSSS!!”

“Tapi kenapa harus aku?”

“Errr … karena kau dan dia sama-sama dari Korea?”

“Tunggu, dia dari Korea juga?”

“Yap. Kau tahu dokter dari Korea yang terluka saat penyerangan beberapa hari yang lalu? Nah, dia orangnya. Kutebak sih, dia juniormu. Tapi di sini, dia seniormu. Dia dokter spesialis kedaruratan medis.”

“Oke.”

“Terima kasih, Jun. Kau yang terbaik!” Nathan menyerahkan berkas pasien pada Junmyeon yang langsung dibaca oleh Junmyeon dan membuat dirinya terkekeh. “Kenapa kau tertawa?”

“Ah, tidak.” Junmyeon hanya mengalihkan fokusnya sedetik dari berkas di tangannya. “Hanya saja entah kenapa aku merasa familiar.”

“Familiar dengan…?”

“Nama si pasien.”

“Oh ya? Mantan kekasihmu?”

“Bukan. Adik tingkatku.”

 

 

Berikutnya, Junmyeon sudah menuju barak tempat pasien Nathan dirawat. Beruntung tempatnya tidak begitu jauh dari barak tempatnya bekerja.

Assalamu’alaikum7, Nona Choi Minrin. Aku Kim Junmyeon, dokter yang akan menanganimu sementara ini karena Nathan  Alonso sedang sibuk bersama dokter Feutchwanger…”

Junmyeon terlalu fokus pada berkas di tangannya tanpa menyadari tatapan dari si pasien.

“…ngomong-ngomong, namamu mirip dengan seseorang yang kukenal.”

“Dan kau juga mirip dengan Kim Junmyeon yang kukenal.”

Berkas di tangan Junmyeon hampir jatuh. Matanya hampir keluar, rahangnya juga hampir jatuh, dan dirinya terkaget-kaget saat sudah melihat sang pasien.

Serius. Ini bukan namanya saja yang mirip. Tapi Choi Minrin di hadapannya sekarang ini memang benar-benar Choi Minrin yang dia kenal. Junmyeon tidak mungkin salah.

“Lama tidak bertemu ya, Junmyeon oppa.” Senyum manis itu hampir membuat Junmyeon pingsan berdiri.

“Ya, ya, lama tidak bertemu.” Gugup. Junmyeon gugup setengah mati. “Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini.”

“Aku juga.”

“Jadi … bagaimana kabarmu?” Kau payah sekali dalam berbasa-basi, Junmyeon!

“Lebih baik. Tapi kadang masih terasa nyeri di sini.” Minrin menunjuk perutnya.

“Ah ya … aku harus memeriksamu.” Saking gugupnya, Junmyeon tergesa berjalan menuju tempat tidur Minrin dan terantuk kursi di sana. Junmyeon buru-buru minta maaf sambil tertawa gugup sementara Minrin hanya tertawa lepas. Berikutnya Junmyeon memeriksa Minrin―dalam kecanggungan tingkat tinggi.

Bukan tanpa alasan. Ini karena Junmyeon memang menyukai Minrin sejak dulu. Keduanya sempat dekat tapi hanya sebatas teman saja. Kemudian saat Junmyeon menempuh pendidikan spesialis keduanya lost contact. Dan sekarang, Junmyeon kembali bertemu dengan Minrin. Dengan perasaan yang … tidak berubah.

“Kurasa tidak ada masalah pada tubuhmu. Kau hanya harus sering-sering istirahat dan menuruti apa kata dokter,” kata Junmyeon setelah selesai memeriksa.

“Oh, aku juga adalah dokter. Jadi aku bisa menuruti diriku sendiri.” Minrin berkelakar.

Junmyeon menghela nafas seraya tersenyum. “Kau tetap keras kepala ya? Dokter di sini adalah dokter yang merawatmu.”

“Wah, terima kasih sudah mengingatkan.”

“Ya.”

“Dan … aku tidak menyangka bisa menemukanmu di sini.”

“Sama denganku kalau begitu.” Junmyeon melempar senyum.

“Di sini rupanya kau, Jun…” suara Hasna, dokter muslim keturunan Turki yang tinggal di Spanyol, masuk bebarengan dengan sosoknya. Di raut wajahnya tergambar kepanikan. Junmyeon yang mengetahui itu segera bertanya, “Ada apa?”

“Pasien darurat di barak lima.”

“Baiklah. Aku akan segera ke sana.” Junmyeon berpaling pada Minrin seolah meminta persetujuan untuk pergi. Sebenarnya separuh hati Junmyeon berharap Minrin memintanya untuk tinggal sebentar lagi.

“Pergilah. Ada yang lebih membutuhkanmu.” Bodoh, bodoh sekali Junmyeon sudah berharap seperti tadi. Harusnya jangan, harusnya Junmyeon tahu kalau Minrin akan berkata seperti itu―menyuruhnya pergi dan bukannya tinggal.

“Ya, oke. Sampai nanti.” Satu tepukan canggung di bahu Junmyeon berikan sebelum melesat pergi.

 

 

Hari berganti dengan cepat. Birunya langit kini telah berubah menjadi hitam pekat. Kesibukan yang hadir sepanjang hari membuat waktu melayang tanpa terasa. Tapi meski sudah larut, tidak ada yang benar-benar beristirahat. Semua memang nampak lebih santai, ada yang tertidur di sembarang tempat dengan stetoskop terkalung, tapi semuanya tetap waspada.

Junmyeon juga sama. Badannya pegal-pegal semua minta istirahat, tapi kedua tungkainya justru mengajaknya berjalan-jalan. Dan otaknya tanpa sadar memerintahnya untuk menuju ke barak tempat Minrin dirawat.

“Belum tidur?” tanya Junmyeon ketika mendapati Minrin sibuk dengan tabletnya.

“Seperti yang kau lihat, aku masih terjaga,” balas Minrin nyinyir dengan senyum yang justru bagi Junmyeon terasa begitu manis.

Junmyeon menarik kursi agar bisa duduk di samping ranjang Minrin. “Well, aku doktermu untuk hari ini dan kau harus mematuhi kata dokter yang merawatmu. Jadi kusuruh kau untuk tidur sekarang.”

“Aku menolaknya.”

Wae8?”

Minrin memutar kedua bola matanya. “Bagaimana aku bisa tidur dengan nyaman dengan luka ini? Terlebih lagi, bagaimana aku bisa tidur ketika akulah satu-satunya dokter yang masih terbaring di ranjang yang harusnya untuk pasien?”

Junmyeon terkekeh. Khas Minrin, tidak berubah. “Mau bagaimana lagi? Kau sedang terluka sekarang. Jadi … kau adalah pasien sekarang, dan aku dokternya.”

“Oke, terserah kau saja. Jadi aku sekarang penasaran bagaimana seorang Kim Junmyeon bisa terdampar di negara konflik ini?” Minrin membenahi posisinya.

“Aku tidak akan menjawab jika kau tidak bercerita terlebih dahulu.”

“Cerita? Cerita soal apa?”

“Soal bagaimana kau bisa berada di sini, tergabung dalam MSF.”

“Oh, tidak ada yang istimewa dari ceritaku!” erang Minrin. Namun Junmyeon tetap diam dan menatap Minrin tajam seolah memaksa gadis itu untuk bercerita. “Oke, oke, jadi ceritanya setelah bekerja untuk beberapa waktu setelah pendidikan spesialisku selesai, aku langsung melamar ke MSF. Dan yahhh … perjalananku terhitung lancar. Orang tuaku tidak setuju soal ini, tapi aku tidak pernah bilang sepatah katapun pada mereka soal ini. Jadi ketika aku sudah tiba di Syria, aku baru memberi mereka kabar. Kejutan yang hebat untuk orang tuaku hingga mereka hampir terkena serangan jantung dan darah tinggi ayahku kumat. Mereka memintaku untuk pulang tapi aku dan kekeraskepalaanku berhasil memenangkan pertarungan itu. Jadi … di sinilah aku sekarang.”

Junmyeon tertawa. Sudah lama ia tidak mendengar sosok Minrin yang bercerita dengan penuh antusias; dengan cepat dari awal sampai akhir. Ditambah kekeraskepalaannya.

“Tidak berubah, eh?” gumam Junmyeon. “Dasar anak bandel. Kau hampir membunuh kedua orang tuamu, kau tahu itu?”

“Ya tapi kan mereka masih hidup sampai sekarang,” elak Minrin.

Ya! Mana bisa kau berkata seperti itu dengan santainya?” tegur Junmyeon. Yang ditegur meringis lebar. “Haish, dasar bocah satu ini…”

Minrin tergelak. “Ya, ya, ya. Dan sekarang giliranmu. Aku yakin kau pasti punya cerita yang lebih menarik soal bagaimana kau bisa terdampar di sini. Jadi, kenapa kau bisa berada di sini?”

“Tentu saja bisa. Aku merasa terpanggil.”

“Oh, jadi karena itu? Kupikir kau kemari untuk mengejarku. Waaahhh, aku jadi kecewa setelah mendengar jawabanmu.”

Balasan yang dilontarkan Minrin dengan entengnya membuat wajah Junmyeon memerah sampai ke telinga. Sebenarnya Minrin itu termasuk orang yang cuek. Tapi jika melontarkan godaan bisa membuat orang menjadi semerah tomat. Dalam hati Junmyeon mengumpat. Mengumpati Park Chanyeol, teman seangkatan Minrin yang akrab dengan dirinya karena sudah seenak hati membeberkan perasaannya pada Minrin di kantin kampus dulu. Tapi di luar, Junmyeon tertawa.

“Aku tidak tahu darimana kau mendapatkan kepercayaan diri yang seperti itu.”

“Aku mendapatkannya dari Nathan,” jawab Minrin.

Ah, pantas saja. Junmyeon tidak heran lagi.

“Wow, aku sama sekali tidak terkejut mendengarnya,” balas Junmyeon. “Tapi aku serius. Soal diriku yang merasa terpanggil untuk bergabung dengan MSF.”

Minrin tertawa kecil. “Iya, aku percaya. Tapi aku masih tidak percaya kau benar-benar berada di sini karena … ya ampun, kau ini Kim Junmyeon yang kaya dan pintar. Semasa kuliah kau begitu terkenal di kalangan mahasiswa dan dosen, lulus dengan predikat summa cum laude, mengambil spesialis di Jerman, lalu ketika kembali ke Korea kau sudah diterima untuk bekerja di salah satu rumah sakit terbaik, kemudian kau meninggalkan segala kenyamanan dan kemewahan yang kau dapat di Korea untuk kemari? Apa kau sudah bosan hidup? Kau mau bunuh diri?”

“Yah, memang … memang tidak mudah, terlebih kedua orangtua―”

“Nah! Itu! Orang tuamu! Bagaimana dengan reaksi orang tuamu ketika kau berkata ingin bergabung dengan MSF? Kudengar sejak kau masuk kedokteran, orang tuamu sudah tidak setuju―”

“Ya, itu karena mereka ingin aku meneruskan bisnis ayah―”

“Tapi kau nekat masuk kedokteran dan membuat mereka bangga dengan pencapaianmu, dengan karir cemerlangmu―”

“Aku tidak akan menampik itu―”

“Kemudian! Tiba-tiba! Kau berkata bahwa kau ingin bergabung dengan MSF? Bukankah itu bisa membuat penyesalan orang tuamu kembali? Seperti … “Pada akhirnya aku merelakanmu kuliah kedokteran agar kau bisa memperjuangkan idealismemu untuk menyelamatkan banyak orang, bukannya membunuh dirimu sendiri” seperti itu.”

Junmyeon tertawa miris. “Begitulah. Mereka bilang jika aku bergabung dengan MSF sama saja dengan bunuh diri. Memang sulit pada awalnya untuk meyakinkan mereka. Tapi aku tidak menyerah. Bergabung dengan MSF memang sudah menjadi impianku sejak dulu. Aku berusaha memberi pengertian pada kedua orang tuaku serta menjelaskan bahwa aku akan baik-baik saja hingga kemudian … seperti yang kau lihat, aku bisa berada di sini.”

“Aku yakin itu tidaklah mudah.”

“Memang. Awalnya aku berpikir bisa berada di sini, bergabung dengan MSF, adalah suatu hal yang mustahil. Tapi keajaiban berpihak padaku rupanya.”

“Aku ingin berterimakasih pada keajaiban,” kata Minrin sungguh-sungguh.

Junmyeon tertawa. “Berterimakasihlah kalau begitu. Aku yakin keajaiban akan mendengarmu.” Hening sesaat. “Tapi kenapa?”

“Apanya?”

“Kenapa kau ingin berterimakasih pada keajaiban?”

Dahi Minrin berkerut-kerut, berpikir. “Karena … dia telah membawamu kemari. Kurasa…”

Dan Junmyeon yakin seyakin-yakinnya jika hatinya mau meledak sekarang juga.

“Kami membutuhkan orang-orang sepertimu. Maka dari itu ketika seorang dokter cerdas sepertimu bergabung dengan kami aku merasa … senang.”

Sekarang, Junmyeon tersenyum miris. Memang apa yang dia harapkan?

“Hei, tapi…” Minrin kembali bersuara, “aku tidak tahu kalau kau punya hasrat untuk bergabung dengan MSF. Itu … tidak kelihatan selama kau berkuliah. Apa keinginanmu muncul saat kau mengambil spesialis di Jerman?”

Junmyeon membenahi duduknya. “Mengenalku selama di Korea, bahkan pernah serumah denganku saat mengontrak beramai-ramai saat kuliah dulu rupanya tidak membuat kita benar-benar mengetahui satu sama lain ya? Terlebih lagi kita sempat lost contact dalam hitungan tahun. Kurasa ada banyak hal yang belum kita ketahui dari satu sama lain.”

“Oh, benarkah?”

“Ya,” jawab Junmyeon. “Manusia itu makhluk yang dinamis, Minrin. Mereka berubah setiap saat. Tidak terkecuali kau dan aku.”

“Kalau begitu … bolehkah aku mengetahui hal-hal yang belum kuketahui tentangmu?”

Junmyeon terpaku beberapa saat dalam ketidakpercayaan. Tatapan keduanya bertemu dan itu hampir menghipnotis Junmyeon.

“Tentu. Tapi tidak sekarang,” jawab Junmyeon cepat sebelum Minrin buka mulut lagi.

“Tapi kenapa?”

Junmyeon melihat arlojinya. “Sudah lewat tengah malam. Kau harus istirahat.”

“Aku bisa beristirahat sambil mendengarkan kau mengoceh.”

“Hei, Jun!” baru saja Junmyeon ingin membantah ketika Nathan masuk tanpa tedeng aling-aling. “Oh, hai Minrin. Maaf menganggu konversasi kalian malam-malam begini tapi aku membutuhkan Jun.” Sahutan “silahkan” dari Minrin dan “apa” dari Junmyeon terucap bebarengan. “Kenapa kau malah merespon dengan “apa” Jun? Kita mendapat pasien gawat darurat! Demi Tuhan!” Nathan mengerang frustasi.

Minrin tertawa melihat tingkah Nathan.

“Oke, oke, maaf. Aku mengerti.”

“Baik. Aku harus bergegas. Kalau dalam lima detik kau tidak menyusulku, maka jangan salahkan aku kalau besok salah satu organmu berada di pasar gelap.” Ancaman Nathan sama sekali tidak terasa menyeramkan pun mengancam bagi Junmyeon dan Minrin.

“Baik, baik,” balas Junmyeon ketika Nathan sudah berbalik. Kini Junmyeon kembali pada Minrin. “Nah, kurasa tadi cukup untuk jadi alasan untuk kau beristirahat dan mendengarkan ocehanku di lain waktu. Mungkin besok, atau lusa.”

“Oh, oke.”

“Ya, oke.”

“Kalau begitu selamat bertugas.”

“Selamat istirahat untukmu,” balas Junmyeon dengan senyum sebelum keluar dan berlari kecil menyusul Nathan.

 

 

“Hei, Nathan…”

“Apa?”

“Kurasa aku bisa menggantikanmu untuk merawat Minrin.”

“APA?! Ya ampun, kau serius? Tapi HEI! Kenapa mendadak sekali? Kau suka padanya? Cinta pada pandangan pertama? Apa saja yang sudah kalian bicarakan tadi?”

“Sekarang bukan saatnya untuk mengoceh, Nathan. Kita punya pasien.” Junmyeon tersenyum misterius kemudian berlalu meninggalkan Nathan yang tercengang di tempat.

“Demi Tuhan! SIALAN KAU, JUN!”

 

FIN

 

 

Note :

1velbed                 : tempat tidur lipat kapasitas satu orang dengan rangka dari besi atau yang lain. Biasanya digunakan oleh para tentara.

2MSF―Médecins Sans Frontières : dikenal juga sebagai “Dokter Tanpa Batas” atau “Dokter Lintas Batas”. Merupakan organisasi yang awalnya berdiri di Prancis yang beranggotakan tenaga medis dan sering bertugas di daerah konflik atau daerah yang mengalami musibah.

3Hukum perang                : hukum yang mengatur ‘tata cara’ perang. Dalam hukum perang terdapat beberapa tempat yang tidak boleh untuk diserang. Antara lain rumah sakit, sekolah, dan lainnya.

4Shukran             : terima kasih (bahasa Arab)

5Al ‘afwan           : sama-sama (bahasa Arab)

6Min fadlak        : kumohon. Sama dengan ‘please’ dalam bahasa Inggris

7Assalamu’alaikum       : sapaan ketika berjumpa dengan seseorang (bahasa Arab). Sapaan ini identik dengan kaum Muslim, tapi di negara-negara berbahasa Arab sapaan ini diucapkan oleh semua orang tanpa memandang agama yang dipeluknya.

8Wae                     : kenapa (bahasa Korea)

 

 

 

A/N       :

Hahahahaha, kelar juga fanfiksi ane yang satu ini. Setelah konsepnya (pertemuan kembali dua orang yang saling kenal di medan konflik) mengendap sampai jadi kerak di otak, setelah file-nya menjamur di laptop, setelah ane rombak habis-habisan, akhirnya ane bisa bernafas lega. Hahahahaha. Nggak tahu kenapa akhir-akhir ini mood nulis suka ambles di tengah jalan. Mungkin karena kesibukan yang semakin melilit T_T

Awalnya ane sempet nyelipin cuilan puisi-puisi dari kesusastraan Arab di cerita ini. Tapi setelah ane analisa terus-menerus rasanya kurang pas aja sama situasi kedua tokoh utama di fanfiksi ini dan nggak masuk ke karakter mereka. Secara mereka berdua udah lama nggak ketemuan masak tetiba udah mau lempar-lemparan puisi romantis yang mak jleb buat flirting? XD XD Kesannya rush, terburu-buru. Padahal cinta itu bukanlah sesuatu yang bisa diajak buru-buru #tsah. Jadi ane rombak habis-habisan sampe jadi kek sekarang.

Yak, gitu aja sih ya. Len masih menunggu. Bukan menunggu si dia, tapi menunggu komentar dari kalian semua XD

Ane Len pamit dulu, adios!

Advertisements

15 thoughts on “Critical Eleven”

  1. KAK LEN IZINKAN ANE NGAKAK PAS BAGIAN “KURANG TINGGI” UNTUK JUNMEN AHAHAH /NGAKAK GAK KETULUNGAN/

    Ini temanya bikin ane gatel buat baca ya seriusan KYAAA. Ane jg lagi buat ff kedua orang saling merajut kasih di negara konflik /iki to ngomong opo?/

    Ini lucu wahah tapi kenapa end di situ, kenapa?! DAN INGIN BERCIEEE RIAA JUNMEN KETEMU GEBETAN ECIEEEE, LANJUTANNYA KUMAHA NIHHH. GAK MAU NEMBAK MINRIN? MINRIN JG CUEK BEBEK AH SUDAH KUGEMAS. SUASANANYA PAS SEKALI. KALO BISA SEQUEL YA AHAHAH

    KEEP WRITING KAK LEN

    Liked by 1 person

      1. Yg ada ane ngutuk junmen kak /ga/
        Bukan kak wkwk yg This Love, beauty and the beast beda lagi ceritanya. Dan btw itu Luhan gak pake seragamnya Joongki, dia lagi syuting RM aja dan kebetulan mirip Joongki wkwkwkwk

        JAN KABUR KAK LEN JAN KABURR

        Liked by 1 person

      2. Kutuk dia biar tinggi bisa? /LEN PLIS
        Owwhhh … abis covernya berbau konflik(?) gitu /apadah
        RM Cina bukan? Kan yg RM koriyah itu udah lama sekali jaman-jaman masih percaya we are one :”””
        /KABUR/

        Like

  2. Anjirr ya anjiirrrrr
    ini menghibur banget ditengah mumet deadline bejibun. DL kantor, DL tulisan persyaratan oprec, dan DL lainnya :v

    JUNMEN MINRIN ARE JUST TOOO~~~~
    GOSSHHH! ANE GEMESSSS :v

    DEAR, AUTHORNIM, BOLEH MINTA SEQUEL GAK? BOLEH DONG YA, BOLEH 😀 WKWK

    Liked by 1 person

Speak up now!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s