One-meal Pasta

See You Again

 

Jongin berdiri di atas lapisan tipis bernama optimisme sementara dibawahnya adalah lautan keputusasaan

“Aku berjanji akan membawa Chanyeol kembali ke kehidupan.”

SEE YOU AGAIN

Storyline © Len K. Standard disclaimer applied. No profit taken from this fiction

 poster by ByunHyunji @ Poster Channel

Starring : Kim Jongin–Kai EXO, Park Chanyeol EXO, Park Yoora, etc | Rate : T, PG-15 | Genre : Historical, Friendship, Sci-fi, Angst

 

WARNING!!

AU (latar waktu tahun 1975 pasca Perang Vietnam), possibly OOC, typo(s)

 

 

Korea Selatan. Juni, 1975. Pasca Perang Vietnam.

 

Jongin berjalan tergesa dengan langkah lebar-lebar dan tumpukan map dalam pelukannya. Gestur dan mimik wajahnya menunjukkan kalau suasana hatinya sedang kacau. Sampai di persimpangan, Jongin mengambil arah kanan. Berjalan lurus kurang lebih seratus meter, Jongin memasuki rumahnya. Rumah kontrakan yang teramat kecil tapi sudah cukup untuk bujang seperti dirinya.

“Tidak sekarang, Monggu.” Jongin mendesah dan mengusir anjing peliharaannya yang langsung menyalak saat melihatnya kembali pulang dengan satu kaki. Tumpukan mapnya ia taruh begitu saja di atas meja yang juga sudah penuh tumpukan map.

Tapi sepertinya sang anjing tidak bisa memahami gejolak hati yang dirasa oleh majikannya. Monggu menyalak lebih kencang dari sebelumnya. Dahi Jongin berkerut dan alisnya bertaut. Rasa pusing yang makin hebat melanda kepalanya. Dengan terpaksa Jongin mengangkat Monggu dan menguncinya di luar. Membiarkan anjing kecil itu makin menyalak hebat sambil menggaruk-garuk pintu.

Jongin sudah masa bodoh. Setidaknya ia bisa lebih tenang di dalam sini. Bukan berarti ia tidak menyanyangi peliharaannya itu. Hanya saja ia benar-benar butuh ketenangan kali ini.

Tubuh jangkung Jongin dilesakkan ke sofa usang yang busanya sudah mencuat kesana-kemari dan menimbulkan bunyi derit tiap ada orang yang bergerak di atasnya. Masa bodoh dengan semua kekacauan di dalam rumahnya yang benar-benar mirip kapal pecah. Isi kepalanya jauh lebih kacau dan berantakan dibandingkan rumahnya sendiri.

Rasanya Jongin ingin istirahat saja. Istirahat yang benar-benar istirahat.

Jongin sudah memerintahkan otaknya untuk itu. Tapi entah siapa yang ingkar. Tubuhnyakah? Otaknya? Atau hatinya? Entah. Yang pasti tungkai Jongin membawanya bangkit lagi menuju ruang bawah tanahnya. Tempat dimana Jongin bisa melek berhari-hari mengerjakan proyek ilmiah atau penelitian-penelitiannya dibekali semangkuk nasi campur dan bergelas-gelas kopi. Mengabaikan kesehatannya sendiri demi yang disebut “kemajuan dalam ilmu pengetahuan”.

Keadaan ruang bawah tanah Jongin tidak jauh beda dengan rumahnya di atas; sama-sama kacau. Atau malah, lebih kacau, lebih berantakan dengan berbagai jurnal, map, dan peralatan penelitian yang berserakan. Tapi fokus Jongin bukan itu. Dia sudah kelewat malas membereskan kekacauan yang ada.

Fokus Jongin berada dalam tangki fiberglass raksasa―kriostat namanya―yang berisi nitrogen cair. Dan sesosok tubuh. Ah, hati Jongin jadi semakin sesak rasanya jika melihat isi tangki itu dan dikaitkan dengan kejadian yang baru menimpanya sebelum pulang tadi. Kejadian yang membuatnya makin sering uring-uringan, mood-nya memburuk, dan menambah beban psikis dan beban hatinya.

Lagi-lagi proposal talangan dananya soal krionika ditolak saat konferensi penggalangan dana tadi sore.

Bukan untuk kali pertama. Dalam setahun ini saja sudah tiga kali proposalnya ditolak. Sedangkan jika diakumulasikan, dalam empat tahun terakhir terhitung sudah sepuluh kali penolakan yang Jongin alami.

Harusnya Jongin terbiasa kan? Tapi yang ada justru kebalikannya.

“Oh, sudah kutebak. Di sini kau rupanya.”

Jongin menoleh ke belakang. Hanya seorang Jongdae, salah satu teman Jongin dengan marga sama dan nama yang hampir sama.

Jongdae melangkah masuk mendekati Jongin dengan berjinjit. Hati-hati sekali agar ia tidak ‘mengacaukan’ kekacauan di sana. Ia sudah mengenal Jongin cukup lama. Tapi bukan berarti ia bisa hanya meminta maaf jika membuat kekacauan di ruangan pribadi Jongin. Maka dari itu Jongdae juga tidak menjerit horor mendapati satu tubuh manusia mengambang dalam posisi terbalik dalam nitrogen cair di tangki fiberglass raksasa itu.

“Aku tadi mencarimu dimana-mana. Kau langsung pergi begitu selesai mempresentasikan proposalmu. Padahal ada orang yang ingin bertemu denganmu. Dan karena itu pula akupun terpaksa mencarimu dan … sudah bisa kutebak, kau pasti kemari. Kau bahkan membiarkan Monggu terlantar di luar.”

Baru Jongin sadari jika Jongdae membawa Monggu yang kedinginan dan basah dalam gendongannya. Rupanya di luar sudah mulai hujan.

“Bilang saja padanya aku tidak berniat menemuinya kecuali itu si Tua Youngmin dan dia mau memberikan talangan dana untuk proposalku,” sergah Jongin malas.

Tentu saja Jongin langsung pergi begitu mendapat penolakan di konferensi tadi. Untuk apa dia menghabiskan sisa waktunya diam mendengarkan proposal orang lain dan lebih parahnya, melihat proposal mereka disetujui sementara miliknya tidak? Jongdae mana paham. Proposal Jongdae sudah disetujui sebulan yang lalu dan sekarang penelitiannya berjalan tanpa kendala. Sedangkan Jongin?

“Yahh … orang ini bukan Youngmin sih. Tapi dia sangat-sangat ingin bertemu denganmu―”

“Tidak, Jongdae! Tidak! Aku sedang tidak ingin bertemu siapapun untuk hari ini! Bahkan mungkin lusa juga, minggu depan, atau hari-hari berikutnya! Tidak!” sumbu emosi Jongin mulai tersulut.

Jongdae terpaku di tempatnya. Satu gagasan menyentilnya, apa mungkin Jongin iri padanya karena proposalnya langsung disetujui saat kali pertama presentasi? Tapi … itu bukan salahnya juga kan?

“Meski orang yang ingin bertemu denganmu adalah Yoora noona?”

Hanya mendengar satu nama itu, Jongin langsung berubah pikiran.

 

 

Bel kecil yang dipasang di daun pintu restoran jajangmyun itu berbunyi ketika Jongin masuk. Bunyi hujan di luar sana teredam kala Jongin sudah berada di dalam. Restoran ini tidak asing bagi Jongin karena ia―dulunya―sering menghabiskan waktu bersama karibnya, Chanyeol, disini. Restoran ini juga bukanlah restoran mewah dan berbintang dimana Chanyeol sering menghabiskan waktunya di acara-acara resmi keluarganya. Restoran ini hanyalah restoran dengan harga terjangkau yang tidak akan membuat dompet Jongin menangis. Tapi di restoran ini juga terlalu banyak kenangan yang membuat Jongin sebetulnya enggan kemari jika saja Park Yoora, kakak Chanyeol, tidak meminta.

Dalam restoran yang tidak terlalu besar dan hanya berisi lima belas meja, Jongin bisa dengan mudah menemukan Yoora. Tengah duduk di sudut kiri restoran dengan tatapan yang menerawang ke jalan di luar sana. Sebentar saja Jongin membenahi penampilannya yang kusut  dan sedikit basah sebelum menuju ke meja Yoora.

“Hai, Yoora noona. Lama tidak bertemu.” Tidak lupa Jongin mempersembahkan senyum terbaiknya meski palsu.

Baru Yoora mengalihkan pandangannya. “Oh, duduklah Jongin.” Jongin mengangguk singkat sebelum mengisi kursi di depan Yoora. “Aku sudah pesankan jajjangmyun. Kurasa sebentar lagi pesanannya akan tiba.”

“Oh, benarkah? Terima kasih banyak, Noona.”

“Hm.”

“Ah ya, Jongdae bilang Noona ingin bertemu denganku. Ada apa gerangan?”

Yoora hendak menjawab. Namun justru kata ‘terima kasih’ yang meluncur dari bibirnya karena pesanan mereka sudah tiba. Si pelayan yang seorang ibu-ibu tersenyum seraya mengangguk pada keduanya sebelum membawa nampan pergi bersamanya.

“Silahkan.” Yoora mempersilahkan Jongin.

“Ahhh ya … terima kasih, Noona.” Dan begitulah Jongin mengawali makannya.

Entah kapan terakhir kali Jongin makan jajjangmyun disini. Mungkin sudah lama, amat sangat lama. Apalagi jika bersama Chanyeol.

“Kau makan dengan lahap ya?” Yoora tersenyum.

Jongin menghentikan seruputannya dan amat yakin jika sekarang wajahnya nampak sangat konyol. Oh, jangan lupakan belepotan saus di sekitar bibirnya.

Dengan cepat Jongin menelan jajjangmyun di mulutnya sebelum berujar, “Yah … sudah lama sekali aku tidak mampir kemari. Rasanya kangen.”

Yoora tersenyum. Tapi pedih. “Aku juga.”

“Jadi … ada apa, Noona?”

Ada diam untuk beberapa saat yang membuat Jongin entah kenapa merasa cemas.

“Kudengar hari ini diadakan konferensi lagi. Bagaimana proposal penelitianmu?”

Pertanyaan dari Yoora hampir membuat Jongin memuntahkan isi mulutnya. Saking kagetnya ia, ia sampai tersedak dan buru-buru Yoora menyodorkan segelas air putih padanya. Kalau bisa, Jongin ingin menghabiskan harinya dengan damai tanpa ada yang menyinggung-menyinggung soal konferensi dan proposal penelitian. Tapi Yoora datang menghancurkan semua itu. Dan Jongin tidak punya alasan untuk tidak menjawab.

“Ditolak lagi,” jawab Jongin dengan senyum getir.

“Oh.”

Dan jawaban singkat berupa gumaman itu membuat Jongin merasa lebih tidak nyaman kemudian berakhir dengan kecanggungan.

“Ngomong-ngomong…” Yoora membuka keheningan yang canggung itu. “Bulan depan aku akan menikah.”

“Apa?” bohong kalau Jongin tidak merasa terkejut. “Noona … tidak bercanda, kan?”

“Tepatnya akhir bulan depan.”

Jongin terpekur di tempatnya. Yoora noona serius. “Dengan siapa?”

“Lee Junki.”

Ah, Lee Junki. Nama yang sudah tidak asing bagi Jongin. Putra sulung dari keluarga konglomerat yang bisnisnya tersebar diseantero negeri dan mulai merambah pasar global. Nama yang sempat santer diisukan akan dijodohkan dengan Yoora sejak lama diantara nama-nama pewaris konglomerat negeri.

Mungkin kesannya pernikahan mereka hanyalah pernikahan bisnis. Tapi Jongin tahu tidak. Keluarga Lee dan keluarga Park sudah mengenal sejak lama. Jongin juga tahu jika Junki mempunyai rasa pada Yoora.

“Ahhh … Lee Junki, ya?” lagi, Jongin tersenyum getir. “Kalau Noona menikah dengannya … aku bisa tenang. Hahahahaha.” Tawa canggung mengakhiri kalimat Jongin.

“Dengan menikahi Lee Junki, maka perusahaan keluargaku akan diakusisi oleh keluarga Lee. Dan kepemimpinan perusahaan juga akan jatuh pada Lee Junki…” ada jeda dalam perkataan Yoora yang diantisipasi oleh Jongin. “Maka dari itu aku memintamu untuk menghentikan penelitianmu―”

“APA?!”

Yoora menghela nafas. “Akusisi itu akan mengubah struktur kepemimpinan kedua perusahaan. Jika Junki mengambil alih, maka aku yakin seratus persen … kucuran dana untuk penelitianmu akan dihentikan. Dan aku tidak bisa mencegah hal itu.”

Kepala Jongin berdenyut keras. Kejutan apa lagi yang ia dapat kali ini? Proposalnya ditolak dan kini, satu-satunya sumber dana untuk penelitiannya akan hilang.

“Maaf Jongin. Tidak ada yang bisa kulakukan,” lirih Yoora. Jemarinya berusaha menggapai jemari Jongin di seberang sana.

Jika biasanya Jongin dengan senang hati berbagi kontak fisik kecil semacam ini dengan Yoora, kali ini beda cerita. Dengan cepat Jongin menarik tangannya, membuat Yoora tersentak.

“Tidak adakah yang bisa Noona lakukan? Bagaimanapun juga, Noona adalah pemilik saham terbesar di perusahaan Noona bukan? Mustahil tidak ada yang bisa Noona lakukan.”

Yoora menggeleng putus asa. “Tidak ada Jongin. Tidak ada.” Jongin membatu. “Kau sendiri tahu kan, kalau penelitianmu itu kontroversial? Maka dari itu aku berusaha menyembunyikan peranku di dalamnya. Kau paham akan hal itu kan?”

Jongin diam tanpa mampu membalas.

Dia paham. Sangat paham. Jongin bukan orang bodoh. Tidak mungkin dia bodoh jika dia berhasil mendapatkan beasiswa doktoral di Eropa di usianya yang muda ini.

Jongin itu teliti, penuh kehati-hatian. Segalanya ia perhitungkan baik-buruk serta untung-ruginya. Berbanding terbalik dengan sahabatnya Chanyeol yang ceroboh, terburu-buru dalam segala hal, cenderung tidak berpikir. Jongin berbeda, Jongin adalah kebalikan dari Chanyeol.

Mungkin salah satu perbedaan yang paling mencolok hanya terletak pada nasib keduanya.

Chanyeol lahir dari keluarga konglomerat yang tidak perlu mengkhawatirkan masa depannya kelak. Sedangkan Jongin lahir dari keluarga miskin yang―sebelumnya―tidak pernah berani bermimpi soal masa depan. Bagi Jongin kecil, menggapai mimpi di masa depan itu seperti makan daging setiap dua minggu sekali―mustahil.

Tapi berawal dari pertemuan di sekolah menengah, Jongin mulai mengenal Chanyeol dan apa yang disebut dengan optimisme. Juga apa yang disebut sebagai sahabat. Jongin berhutang budi yang besar dan banyak pada Chanyeol. Tidak mungkin Jongin bisa kuliah tanpa Chanyeol. Sahabatnya itu yang mengenalkannya pada ayahnya, membuat karir Jongin ke depannya semakin mulus karena sudah pasti terjamin dengan koneksi yang tidak bisa Jongin bayangkan sebelumnya.

Dan saat perang Vietnam meletus, Jongin yang masih berada di luar negeri terkejut mendapat kabar bahwa Chanyeol yang sedang mengikuti wajib militer malah dengan sukarela mendaftarkan diri dalam pasukan yang akan dikirim ke Vietnam untuk membantu sekutu. Jongin berang, mengatai Chanyeol itu bodoh karena mau bertaruh nyawa tapi Chanyeol hanya tertawa, berkata bahwa ia sudah lelah mengurusi bisnis dalam balutan pakaian formal dan lebih memilih untuk mengabdi pada negara. Akhirnya, tidak ada yang Jongin bisa lakukan.

Mendapati kabar bahwa Chanyeol telah pulang dari Vietnam meski perang belum berakhir, Jongin berpulang ke Korea. Berharap bisa kembali makan di warung jajjangmyun dengan Chanyeol yang siapa tahu sudah naik pangkat. Namun harapan tinggallah harapan. Jongin memang bertemu dengan Chanyeol … dalam keadaan sekarat. Jongin murka. Tidak ada yang memberitahu dirinya soal kondisi Chanyeol. Bahkan Jongin juga murka pada Yoora. Tapi mendengar dari Yoora noona yang terus berusaha menenangkannya dan membuatnya tenang bahwa Chanyeol sendirilah yang menginginkan hal ini agar dirinya bisa bekerja dengan tenang, rasa-rasanya Jongin ingin menghajar Chanyeol.

Kondisi Chanyeol semakin kritis. Para dokter dari luar negeri yang didatangkan oleh orang tua Chanyeol sudah menyerah. Tidak ada lagi harapan bagi Chanyeol. Orang tua Chanyeol menangis, Yoora noona meraung, dan Jongin diam, seraya berusaha memberi ketenangan pada Yoora. Hingga kemudian sebuah ide terlintas di kepala Jongin. Jongin ingat salah satu rekannya di luar negeri yang terlibat dalam suatu proyek. Mungkin Jongin bisa mencobanya di sini, untuk Chanyeol.

Proyek Krionika. Suatu proyek dimana mereka yang mati dibekukan agar nantinya bisa dihidupkan kembali.

Tanpa buang waktu Jongin segera mengusulkan gagasannya pada Yoora. Awalnya Yoora menolak, tapi Yoora tidak bisa menampik jika sepenuh dirinya tidak bisa menerima kematian Chanyeol. Hari itu, Yoora setuju untuk mendanai proyek krionika Jongin.

“Ya. Aku paham,” kata Jongin setelah sekian waktu melamun. “Tapi pasti ada cara lain, bukan, Noona?” Jongin bersikukuh.

“Tidak ada cara lain atau apapun itu, Jongin. Proyekmu harus dihentikan atau masalahnya akan semakin besar saat proyekmu diketahui oleh publik.”

Kepala Jongin kembali berdenyut. Ya, selama ini tidak ada yang tahu bahwa proyeknya sudah berjalan. Orang-orang di konferensi hanya mengetahui jika proyek krionika yang digagasnya ini masih sebatas wacana. Mungkin itu jadi salah satu penyebab kenapa proposalnya ditolak, karena tidak ada bukti empiris. Orang yang tahu jika Jongin menyimpan mayat Chanyeol di ruang bawah tanah rumahnya bisa dihitung dengan jari.

Bukannya kucuran dana dari Yoora tidak cukup. Tapi proyeknya memang memakan biaya besar. Tidak mungkin Jongin menodong minta dana lebih. Tidak tahu diri namanya.

“Kalau begitu biarkan publik mengetahui hal ini. Siapa tahu kita mendapatkan investor lain. Orang-orang berdompet tebal yang takut akan mortalitas dan berharap bisa mencicipi dunia baru setelahnya,” ujar Jongin cepat.

Mata Yoora membulat. “Apa kau sudah gila?! Akan ada banyak kontra untuk hal itu. Karirmu di Korea bisa saja mati―”

“Aku bisa lari ke Eropa,” kata Jongin. Singkat, dan mantap.

“Ya Tuhan, kumohon hentikan obsesimu Jongin. Chanyeol sudah mati.”

“Chanyeol belum mati!” seru Jongin dengan begitu keras. Sangat keras hingga atensi satu restoran tertuju pada mereka. Tapi baik Jongin maupun Yoora sama-sama tidak peduli. Dan perlahan mereka yang menaruh perhatian juga mulai tidak peduli, kembali sibuk dengan urusan masing-masing. “Chanyeol belum mati, Noona,” lanjut Jongin. “Mungkin memang benar, Chanyeol memang sudah mati. Tapi itu hanya hitam di atas putih. Chanyeol hanya mati secara hukum. Tapi sebenarnya tidak―belum Noona, belum.”

“Jongin…”

Noona juga tahu sendiri kan? Sebelum Chanyeol masuk ke dalam tabung fiberglass berisi nitrogen cair itu, Chanyeol masih hidup. Ah, tidak. Maksudku otaknya masih hidup, mati klinis. Jantung Chanyeol saat itu boleh saja berhenti berdetak, dokter akan menginformasikan gagal sistem, koroner akan menginformasikan kematian, dan pengacara di sana telah menuliskan waktu dan sebab kematiannya. Tapi setelah jantungnya berhenti, otaknya belum mati. Otaknya.belum.mati. Maka dari itu aku cepat-cepat memindahkan Chanyeol ke dalam tabung besar berisi nitrogen cair itu untuk mencegah kematian biologis dan agar proses pembekuan bisa segera dimulai dan suatu saat ia bisa membuka matanya, menyapa kita, lalu kembali di antara kita.” Jongin menjelaskan dengan mata berkaca-kaca. “Chanyeol belum mati, Noona. Dia masih hidup, dia masih hidup.” Runtuhlah pertahanan Jongin. Airmatanya tidak bisa lagi dibendung.

Yoora yang melihat mau tak mau ikut menangis.

Noona … hiks, hiks … Noona … bu-bukankah aku sudah berjanji? Hiks, hiks…”

Segera Yoora berpindah tempat duduk ke samping Jongin. Dipeluknya tubuh yang kini makin kurus itu, diusapnya kepala bocah pintar yang bermahkotakan rambut acak-acakan itu, dibenamkannya wajah manis itu dalam ceruk lehernya. Mereka sama-sama kehilangan, mereka sama-sama berduka. Dan setelah sekian waktu berlalu, luka mereka mengeringpun belum.

“Satu hal yang perlu kau ingat, Jongin. Satu hal…” ujar Yoora terbata-bata. “Bahwa Noona tidak bisa melupakan hari itu. Hari di mana dokter berkata tidak ada harapan lagi untuk Chanyeol … saat itu Noona merasa dunia Noona runtuh. Tapi kau, dengan suara bergetar menahan sedih tapi matamu berkilat penuh semangat berkata bahwa kau bisa menghidupkan kembali Chanyeol … kau harus ingat bahwa saat itu kau telah menghidupkan kembali harapan Noona. Kau bagaikan nyala lilin yang hangat di tengah gelap. Kau tahu kan, Noona percaya padamu. Maka dari itu Noona langsung setuju untuk menjadi donator tunggal untukmu, mengesampingkan fakta bahwa apa yang kita lakukan dianggap salah dan gila karena berusaha melampaui kuasa Tuhan oleh mayoritas orang-orang. Noona percaya bahwa kau bisa melakukannya. Noona percaya bahwa kau bisa menghidupkan kembali Chanyeol.”

“Ma-maka dari itu beri aku sedikit waktu lagi, Noona…”

Tangan Yoora menangkup wajah Jongin. Membuat kedua mata mereka yang merah dan mulai sembab saling bertemu pandang. “Maafkan Noona, Jongin. Tapi Noona tidak bisa.”

“Kenapa? Apa karena Noona akan menikah sebentar lagi?”

Yoora menggeleng.

“Lalu kenapa?”

“…”

Noona, kenapa tidak menjawab?”

“…”

Noona…” tangan Jongin meremas lembut tangan Yoora di pipinya. “Kumohon katakan sesuatu, jawab aku.”

Diam sejenak.

“Mungkin … Noona merasa lelah, Jongin.”

“Apa?” desis Jongin.

“Mungkin Noona merasa lelah untuk menunggu sampai saat Chanyeol membuka matanya lagi. Mungkin juga Noona mulai merasa harapan yang kau sulut dulu mulai meredup.”

“Tapi Noona―”

Bohong kalau Jongin juga tidak merasakan hal yang sama. Setiap hari dihadapkan pada rutinitas yang sama tanpa kemajuan apapun, lama-lama rasa lelah dan bosan pasti datang.

“Jongin, kau masih muda. Kau pintar, punya bakat, kau juga tampan. Jalanmu masih panjang sekali. Kau pasti punya mimpi-mimpi lain untuk diwujudkan ‘kan? Noona ingin kau mengejar mimpi-mimpi itu, bukannya mengurung diri dalam ruang bawah tanahmu.”

“Tapi mimpiku―”

Noona tahu. Salah satu mimpimu adalah menghidupkan kembali Chanyeol. Tapi Jongin, kau harus tahu saat dimana kau harus terus melangkah maju atau menyerah.”

“Terlalu cepat untuk menyerah, Noona.”

“Tapi Noona sudah lelah, Jongin. Sangat lelah, kau tahu?” air mata Yoora perlahan menetes. “Noona juga yakin, jika saat ini Chanyeol ada di antara kita … dia tidak ingin melihatmu seperti ini. Bukan ini yang diinginkan Chanyeol. Chanyeol pasti ingin melihat Jongin, sahabat karibnya, keluarganya, memiliki karir cemerlang dan menjadi ilmuwan paling tampan di antara ilmuwan-ilmuwan botak, jelek, berkacamata tebal lainnya.” Mau tidak mau Jongin tertawa kecil. “Nah, kau sudah menyadarinya ‘kan?”

“…”

“Kalau begitu Jongin, mari kita biarkan Chanyeol beristirahat. Oke?”

 

***

 

Langkah Jongin terhenti setelah ia berjalan sendirian cukup lama di lorong-lorong rumah abu. Di dalam kotak kaca di depannya ada abu Chanyeol yang ditaruh di dalam sebuah wadah keramik berwarna putih berhiaskan hanja warna emas, karangan bunga, dan beberapa foto. Tapi yang paling menarik perhatian Jongin ialah foto dirinya dan Chanyeol saat kelulusan SMA. Sahabatnya yang gila itu entah kenapa terlihat konyol dan keren di saat yang bersamaan karena memakai kacamata bacanya.

“Hei, kawan. Ahhh, rasanya lama sekali tidak berbincang denganmu. Kau tahu, aku semakin sibuk saja. Lee Junki tidak main-main dalam memberikan proyek maupun tugas. Oh ya, kau tidak lupa Lee Junki kan? Dia sudah menikahi kakakmu. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan seperti yang kukira, hahahaha,” buka Jongin disertai senyum getir. “Dulu aku terobsesi dengan proyek krionika. Yah, jangan marah karena kau jadi obyek proyekku. Aku melakukannya karena tidak tahan melihat kakakmu, Yoora noona, begitu sedih dan terpukul saat menyadari kau tidak bisa diselamatkan. Selain itu karena aku juga tidak bisa menerima fakta itu. Tapi … apa yang kujalankan tidaklah mudah. Hingga akhirnya aku memilih untuk menyerah. Ah, tidak. Awalnya aku tidak mau menyerah, tapi karena kakakmu yang meminta … jadi … yah, aku bisa apa? Kau tahu kan, aku tidak bisa menolak permintaannya. Jadi maaf Bung, aku tidak bisa membawamu kembali di sini. Mungkin kita bisa berjumpa lagi di lain waktu. Benar kan?

“Ah ya … setelah ini aku akan pergi ke Prancis. Kita akan tidak berjumpa lama sekali. Jangan merindukanku, oke? Yaaah, maaf aku tidak bisa mampir lama-lama. Aku harus segera pergi atau aku akan terjebak di sini untuk waktu yang tidak bisa kupastikan. Selain itu … aku takut jika aku terlalu lama di sini aku tidak akan bisa pergi. Jadi, yah, sampai jumpa lagi kawan.”

 

FIN

 

Note      :

Krionika               : sebuah proyek yang diyakini bisa menghidupkan orang mati. Caranya adalah orang yang mati akan dibekukan, dimasukkan ke dalam tangki fiberglass raksasa yang disebut kriostat dan berisi nitrogen cair dengan posisi kepala di bawah untuk antisipasi. Sebelumnya, tubuh yang sudah dinyatakan meninggal akan ditutupi es dan darah dibuat terus mengalir agar tidak membeku. Berikutnya, cairan-cairan tubuhya akan diganti dengan cyroprotectant―zat antibeku biologis―sehingga tidak terbentuk es di dalam pembuluh-pembuluh darahnya. Proses ini disebut dengan “vitrifikasi”. Sementara temperaturnya diturunkan terus-menerus, tubuh akan ditempatkan di kantong tidur, kemudian di dalam kotak pendingin yang dikendalikan computer, barulah diisi nitrogen cair. Jika pembekuan dimulai sebelum jantung dan otak berhenti berfungsi, kemungkinan berhasilnya pengawetan tersebut akan jauh lebih besar.

Mati klinis          : kematian dimana ketika pasien diperiksa sistem pernafasan dan sirkulasi darah sudah berhenti. Seringkali ketika hal ini terjadi, dokter akan memberikan kesempatan kedua bagi tubuh untuk berfungsi kembali. Pasien memiliki 4-6 menit sebelum kerusakan otak terjadi. Jika tidak segera diatasi, maka kematian biologis akan terjadi.

Mati biologis     : dengan kata lain berarti kematian sel. Terjadi karena terganggunya pasokan oksigen dan zat makanan ke sel-sel yang menyusun jaringan tersebut. Jika seseorang sudah dinyatakan mati biologis, artinya sudah tidak bisa dipulihkan lagi. Pada manusia, kematian biologis paling cepat terjadi pada sel otak, berkisar 8-10 menit setelah jantung berhenti.

 

 

A/N        :

Fanfiksi yang sejatinya buat birthday project Kai akhirnya kelar juga!! XD XD XD XD Iya, kalian ga salah baca. Ini fanfiksi aslinya buat besdeynya Jongin. Tapi karena waktu itu si laptop tersayang rusak jadi mau gimana lagi. Pas laptop udah bener, gantian semangatnya yang rusak -____- Beruntung akhirnya bisa kelar juga XD XD

Eheemmm, sebelumnya … CHANKAI SHIPPER MANA JEMPOLNYAAAAAAA??? ASSSOOOYYYYY DIGOYAAANNGGGG!!! /ditimpuk

Jangan salah sangka, ane ini KrisHo shipper, bukan ChanKai. Tapi di epep yang sejatinya buat besdey Jongin ini ane pake ChanKai. Kalo biasanya ChanKai itu Chanyeolnya yang keliatan adore banget ke Kai, kali ini ane bikin Kai yang justru adore ke Chanyeol muehehehehehe. Udah ngena belom sih meski dimari si Chanyeol ga kebagian dialog? XD XD

Ane juga ragu buat masukin di epep ke genre sci-fi. Soalnya krionika ini udah ada beneran! Ada institutnya pulaaa! Tapi kemudian ane mikir, “Tapi kan sejauh ini belum ada obyek penelitian krionika yang berhasil hidup, jadi bisa lah ya dimasukin ke sci-fi?” XD XD XD Awalnya juga ane kepikiran buat make latar waktu pasca perang Korea. Tapi setelah ane riset, yang pas itu yaaa pasca perang Vietnam. Karena krionika sendiri baru muncul sekitar tahun 70-an, sementara perang Korea kejadian di tahun 60-an. Ya udah deh. Hahahahaha.

Aduh, semoga ga gaje ya fanfiksinya. Ane terlalu seneng ini epep bisa kelar jadi silahkan berkomentar gaessss. Ane Len cabut dulu, see you in the next fanfiction, adios!

Advertisements

Speak up now!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s