Captain's Review

Hacksaw Ridge — A Must-Watch Epic Battle Movie

 

Dengan banyaknya film bagus sliweran di bioskop sekarang ini, mungkin ada yang bingung mau nonton apa. Tenang, nggak usah panik gitu. Ane ada satu rekomendasi film buat kalian.

Hacksaw Ridge

Ada beberapa hal yang jadi pertimbangan ane sebelum ane memutuskan buat nonton film keren satu ini. Pertama, ini film perang. Kedua, yang jadi pemeran utama itu Andrew Garfield. Ketiga, diangkat dari kisah nyata. Keempat, sutradaranya Mel Gibson―yang kita tahu beliau namanya nggak usah diragukan lagi dalam dunia perfilman Hollywood. Kelima, film ini masuk Oscar. Menang pula! Yah, meski dulu Oscar dituduh rasis atau apalah, tapi momen-momen unik di acara penghargaan bergengsi buat dunia perfilman belakangan ini mulai melunturkan sentimen satu itu. Dan yaaahhhh … kita nggak bisa ngeremehin film-film yang masuk ke acara ini meski cuma nominasi.

Jadi kembali ke film.

Tiga hal utama, yaitu ini-film-perang, yang-main-Andrew-Garfield, dan demi-apa-ini-diangkat-dari-kisah-nyata, bener-bener menggelitik ane buat “ANE HARUS NONTON INI FILM!” Dan sungguh, ane sama sekali nggak kecewa setelah lihat Hacksaw Ridge ini! Puas banget malahan!

Ada banyak film action, terutama film perang yang bertebaran selama ini. Tapi nggak tahu kenapa, belum ada yang menurut ane greget. Sebelum lihat Hacksaw Ridge, film perang paling greget yang pernah ane tonton itu “Saving Private Ryan” yang yah, adegan tangan tentara yang copot kena bom terus diambil, dibawa kesana-kemari sama salah satu prajuritnya itu jadi hiburan tersendiri.

Dan saat ane lihat Hacksaw Ridge, semua penilaian itu berubah.

Awal film masih biasa aja sih. Menceritakan kehidupan Desmond Doss yang diperanin Andrew Garfield, yang hidup di keluarga kecil dengan ayah yang temperamental. Semakin ke sana, ane jadi mikir kalo sikap ayahnya yang temperamen itu karena ayahnya mungkin mengidap PTSD karena ayahnya dulu sempet ikut Perang Dunia I. Yang kemudian dikuatkan sama pernyataan ibunya Desmond.

Ada juga kisah romantis antara Desmond sama salah satu perawat yang dia temui waktu dia ‘mampir’ ke rumah sakit gegara nyelametin tetangganya yang kecelakaan, dan kemudian memotivasi Desmond buat jadi petugas paramedis. Gombalan receh yang ditampilan Andrew Garfield di sana, juga sikapnya yang ‘begitu keju’ ngebuat ane nyorakin Andrew Garfield ini.

Tapi bukan itu poin utamanya. Semuanya berubah waktu abangnya Desmond mutusin buat ikutan perang. Yang tentu aja, ditentang bapaknya. Tapi akhirnya abangnya Desmond tetep ikutan perang. Terus disusul deh sama Desmond. Bapaknya marah lagi tuh, tapi Desmond bodo amat. Berbekal alasan “akan masuk ke tim paramedis” akhirnya Desmond berangkat ke kamp pelatihan.

Ada alasan khusus kenapa Desmond pengen jadi paramedis perang. Ini karena Desmond nggak mau pegang senjata apalagi ngebunuh orang. Fyi, Desmond ini penganut Kristen Advent yang taat banget. Calon imam sekali ya.

Tapi ternyata setelah sampe di kamp pelatihan, Desmond salah daftar. Nggak tahu kenapa kok bisa salah daftar, Desmond bukannya masuk ke pelatihan paramedis, doi justru masuk ke kompi senapan.

Di sini konflik dimulai. Udah dijelasin kan, kalo Desmond ini nggak mau pegang senjata. Eeehhhh malah masuk kompi senapan. Ya udah deh, kegigihan Desmond yang nggak mau pegang senjata yang kemudian dinilai sebagai “pembangkangan” ngebuat Desmond jadi bulan-bulanan temen-temennya, juga para pelatih.

Di sini ane mulai ngerasa geregetan. Ya ampun Mas, kenapa sih kamu nggak mau pegang senjata? Turunin egomu dikitlah! Jangan keras kepala gitu. Ngalah dikit please daripada kamu jadi bulan-bulanan ditonjokin ampe babak-belur gitu. Toh ya kamu cuma perlu buat megang aja, nggak make kok!

Tapi Desmond tetep ga mau. Ngenyelnya Desmond ini bahkan ngebuat dia masuk ke Pengadilan Militer. Doi juga dituduh nggak waras, ampe ada usaha buat ngebuat doi seolah-olah emang beneran gila supaya bisa keluar dari kamp aja daripada ngenyel terus kayak gitu. Ampe pernikahannya terancam batal! Aaarrrgghhh!

Apa yang Desmond katakana kemudian bener-bener nyentil ane. Desmond bukannya egois, nggak. Desmond cuma pengen memegang teguh apa yang dia percayai, keyakinannya. Karena kalo dia nggak memegang teguh nilai-nilai kepercayaannya sendiri, buat apa dia hidup? Apalah arti hidupnya?

Beruntung perjuangan Desmond berbuah manis. Berkat bantuan ayahnya, Desmond diijinkan buat stay di kamp militer dan bertugas sebagai paramedis dengan catatan … Desmond nggak boleh megang satu senjatapun di medan perang.

Entah harus seneng apa cemas pas tahu, hahahaha.

Yang paling bikin film ini W-O-W adalah adegan perangnya yang SO DAMN EPIC!! Mel Gibson telah menciptakan suatu adegan perang PD II antara tentara Amerika lawan tentara Jepang yang menghanyutkan emosi, bikin deg-degan tapi kita dibuat tahan nafas dan nggak kedip selama perang. Semuanya terasa begitu nyata! Ketegangannya, efeknya, suasananya, pokoknya so freaking awesome!

Buat yang nggak begitu suka gore mungkin bakal terganggu sama efek yang dihasilkan selama adegan perang. Soalnya adegan tangan copot, kepala pecah ketembak, luka bakar, kaki copot, dan kawan-kawan bakal sering muncul selama perang. Jadi buat yang nggak betah lihat begituan mending nggak usah dilihat aja. Daripada nggak bisa makan seminggu ya, kan?

Adegan perang yang menegangkan juga berhasil diramu Mel Gibson jadi adegan yang at some point, touching. Betapa kerennya semangat juang para prajurit Amerika maupun Jepang, waktu Desmond mulai diterima sama temen-temennya, masa lalu salah satu prajurit yang dulunya nge-bully Desmond, dan yang lain. Apiknya adegan perang di film ini juga semakin membuka pikiran ane kalo nggak ada pihak yang menang maupun kalah dalam perang.

Ketegangan makin memuncak waktu pasukan Amerika berhasil dipukul mundur oleh tentara Jepang (tentara Jepang di sini sungguh cerdas taktik perangnya!). Sang komandan merintahin anak buahnya buat mundur. Tapi Desmond malah nggak mundur! Desmond justru berusaha nyelametin rekan-rekannya yang luka di neraka dunia itu. Sendirian. Ga bawa senjata pula! Kurang badass apa lagi coba, hah?! Desmond juga nolongin tentara Jepang lho!! Nggak pecah gimana tuh kerennya?!

Dengan segala keterbatasan yang ada, Desmond ngobatin mereka yang luka satu-satu. Kemudian Desmond turunin pake tali tambang yang ada. Beruntung di bawah ada petugas yang masih stand by. Apa yang ngebuat ane trenyuh dan berkaca-kaca adalah waktu Desmond sendiri keadaannya udah capek banget, tangannya udah lecet-lecet parah akibat narik-narik tali tambang terus, tapi Desmond terus bilang, “Please, let me save one more” terus-terusan. Desmond terus bilang gitu ke Tuhan meski kondisinya udah remuk.

Tuhan emang nggak pernah tidur. Aksi Desmond akhirnya di-notice juga sama jendralnya. Akhirnya jendral dan pasukannya balik lagi ke medan perang buat nyelametin Desmond. Oke, Desmond selamat. Tapi cerita belum selesai.

Rupanya besok, tentara Amerika bakal melakukan penyerbuan lagi. Tapiiiiiiiii ternyataaaaaa penyerbuan besok itu pas hari Sabtu. Dimana menurut keyakinan yang dipeluk Desmond, hari Sabtu itu hari Sabat dimana mereka nggak boleh kerja.

Desmond dilema. Ane kira Desmond nggak bakal mau. Ternyata doi mau. Dan sebelum perang bahkan prajurit lainnya rela nungguin Desmond berdoa dan ada juga yang ikut berdoa. Singkat cerita, pertarungan berlangsung sengit pake banget. Dengan susah payah, akhirnya pasukan Amerikalah yang memenangkan pertarungan. Dan Desmond yang kena granat akhirnya bisa diobati.

Dalam skala satu sampe sepuluh, nilai ane buat film ini adalah delapan.

Bukan tanpa alasan. Film ini bener-bener keren dari plot cerita, sinematografi, penokohan, sampe efeknya … semua itu beyond amazing! Nilai-nilai yang bisa diambil di film ini juga dalem dan nggak receh. Soal bagaimana seseorang yang memegang teguh keyakinannya meski mimpinya dipertaruhkan di sini, buat ane itu tuh dalem banget maknanya.

Pokoknya film ini sama sekali nggak mengecewakan dan harus ditonton!

Advertisements

Speak up now!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s