Captain's Talk

Ngomongin Soal Cowok

 

 

Udah jadi hal yang lumrah buat cewek kalo ngobrolin cowok. Kayaknya makhluk perempuan itu nggak akan kehabisan bahan obrolan soal cowok. Semuanya kayak bisa dibahas. Tiap hari ada ajaaaa bahasan baru. Tapi obrolan soal cowok ini kayaknya bisa dimasukin ke pengecualian buat ane dan sohib-sohib ane jaman SMA.

Karena …

Ya ampun, masak obrolan soal cowok anime sama cowok-cowok idol yang ada di luar jangkauan itu bisa dikategorikan ke dalam ‘obrolan cowok’? -____- Obrolan cowok yang ane maksud itu yaaa ngomongin soal cowok yang nyata dan ada di dalam jangkauan.

Dan hal itu sedikit nggak berlaku buat ane dan sohib-sohib ane yang … terlalu larut ke dalam dunianya sendiri. Ha. Ha. Ha.

Tapi tetep, sebagai makhluk perempuan normal yang sering dikata aneh (inget, definisi ‘normal’ buat ane dan sohib-sohib itu berbeda dari definisi ‘normal’ manusia kebanyakan) dan nggak kayak perempuan lainnya, kita tetaplah perempuan tulen yang demen sama laki. Tapi (lagi) buat ngomongin hal-hal yang berhubungan sama ‘realtionship’ dan romens-romens termasuk cowok yang ditaksir itu bisa bikin kita geli sendiri XD

Terlebih sehabis kita lulus SMA dan berpencar menjalani kehidupan masing-masing. Selamat datang di dunia nyata yang sesungguhnya, Bung! Kita makin sibuk ama kesibukan sendiri-sendiri tapi tetep in touch.

Well yeah, seperti yang ane bilang tadi, kita ini masih perempuan tulen yang demen laki. Jadi pasti ada masa dimana kita naksir sama seseorang yang nyata beneran dan sialnya kok masih kerasa di luar jangkauan. Perasaan hei-kayaknya-aku-tertarik-sama-kamu itu dateng.

Masih inget ane, waktu Ulin-nee cerita soal temen satu kelas di jurusannya yang berhasil mencuri perhatiannya tapi kemudian Ulin-nee juga naksir ama senior. Terus Rima nuna yang naksir sama salah satu senior di kampusnya. Asri nuna yang juga naksir ama seniornya. Jiwa rumpi ama sisi feminin ane keluar waktu mereka cerita itu semua.

I’m happy for them of course. Bahkan ane juga ngompor-ngomporin mereka supaya berani PDKT ama taksirannya itu. Nggak ngaca kalo dirinya sendiri berubah jadi orang dungu dan kagok tiap kali ada gebetan. Juga ngomporin soal “Selama janur kuning belum melengkung, semua bisa terjadi!”. Nggak ngaca kalo yang ditaksir sendiri udah ada gandengannya, semangat langsung pupus. Juga soal, “Nggak jadi gandengan nggak apa-apa, seenggaknya jadi temen.” XD XD XD

Tapi yaahhh … prioritas kita nggak jauh beda; mau fokus ke studi ama karir dulu. Jadi soal yang beginian itu jadi nomor kesekian buat kita-kita. So, kita nggak terlalu pusing soal status kita yang masih single. Kita seneng kok jadi single begini. Meski kadang suka baper kalo ada adegan romantis di film/drama/anime/webtoon. Tapi kita nggak sampe ke titik ngenes dimana mengharap hujan tiap malem Minggu.

Selain itu, kita ini kayaknya penganut paham “Daku mah apa atuh, cuma remah-remah rengginang”. Dan kita ini juga ahlinya dalam jadi penggemar rahasia, ahlinya nyimpen perasaan sampe membusuk kemudian disesali. Jadi yahhh … tahu sendiri lah gimana akhir dari tiap love-story kita. Ngenes. Bahkan meski yang kita taksir itu nyata dan ada di dekat kita, rasa-rasanya tuhhh tetep out of reach. Ha. :””””D

Dan tenggelam dalam kesedihan juga bukan gaya kita banget. Oh, perasaan ane ke yang itu bertpeuk sebelah tangan ya? Nggak kesampean ya? Ya udah. Nggak perlu lah drama atau yang gimana. (Tapi sisi pujangga ane kadang suka maso sih, sok-sokan ngegalau sambil berusaha jadi puitis yang akhirannya ….)

Kemudian suatu hari, Ulin-nee kirim pesan ke ane via LINE. Dia bilang kalo rasanya aneh juga belakangan ini kita ngobrolin soal cowok yang kita taksir dan bukannya anime terbaru atau topik-topik yang bikin kita mikir keras. Well, dia ada benernya juga. Soalnya ane juga ngerasa gegara ngomongin soal cowok taksiran ini, rasa-rasanya ane berubah jadi lembek which is that’s so not me. Ane geli juga. Setuju ama Ulin-nee.

Terus Ulin-nee bilang lagi kalo hal semacam ini; mikirin soal cowok dan tralalal sejenisnya, itu adalah hal yang wajar apalagi kalo udah memasuki usia kepala dua. Padahal ane belom ada kepala dua. Mungkinkah secara mental ane lebih tua dari umur ane? Entah juga ya. “Alah, lu bentar lagi juga udah kepala dua jadi udah ane anggep kepala dua,” timpal Ulin-nee.

Iyain aja.

Kemudian Ulin-nee melanjutkan, kali ini ke topik yang rada berat. Ga yakin juga sih. Ulin-nee bilang, gimana hidup kita besok ke depannya? Soal pasangan hidup.

Ane ikutan mikir.

Soalnya kita ini orangnya sama-sama cuek. Sama-sama tanpa sadar membangun tembok yang membatasi diri sendiri sama sekitar. Sama-sama social-selective. Sama-sama geli kalo bahas soal romens-romens. Sama-sama nggak peka. Sama-sama ahli dalam mencintai dalam diam.

Mungkinkah besok kita tetep sendiri? Mungkinkah … ada … seorang cowok yang mau nerima baik-busuknya kita dengan segala keanehan kita? Mungkinkah? Mungkinkah? Mungkinkah?

Buat sejenak, ada rasa khawatir yang menyusup ke dalam pikiran kita. Tapi kemudian kita mikir, bukankah Tuhan sudah menjanjikan kalau manusia itu ditakdirkan berpasang-pasangan? Yah, kita berdoa aja semoga jodoh kita nggak ketabrak bis duluan atau gimana-gimana.

Emang, masalah jodoh itu udah yang ngatur. Tapi bukan berarti kita bisa nyantai dan nggak berusaha. Tapi (lagi) buat sekarang, kayaknya nggak dulu deh. Kita mau fokus ke studi ama karir dulu. Untung buat ane, karena emak ane nggak nargetin ane harus nikah umur berapa. Jadi pertanyaan, “Kapan nikah?” atau “Kapan calonnya dikenalin?” nggak akan ditanyakan emak kalo nggak gawat banget.

Nggak. Ini bukan kayak kita-kita anti sama yang namanya komitmen. Nggak kok. Kita cuma mau hati-hati aja dalam membuat komitmen. Karena bisa dibilang pengalaman kita dalam hal itu tuh, you can say … nothing. Kecuali buat Dini nuna ama Chikin nuna.

Dan juga ada beberapa hal atau pengalaman yang jadi pelajaran buat kita kalo berkomitmen itu bukan perkara mudah. Kita nggak mau main-main sama itu dan nemuin yang nggak main-main di jaman sekarang kayaknya nggak gampang. Selain itu, kita juga masih mau menikmati masa-masa sendiri kita sebebas-bebasnya.

At the end, obrolan soal cowok itu nggak bisa terhindarkan bahkan buat perempuan yang aneh dan nggak kayak perempuan umumnya kayak kita-kita. Ngerasa geli tiap kali ngomongin cowok itu masih ada, tapi kita buat enjoy aja. Dan kita juga sering nertawain diri sendiri soal betapa dungunya kita soal beginian. Rasa galau-galau emang kadang mampir kalo obrolan ini dimulai, tapi kita hadapi pake tawa. Bahkan obrolan yang kayak gini bisa bikin kita mikir lebih dalam.

Advertisements

3 thoughts on “Ngomongin Soal Cowok”

Speak up now!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s