One-meal Pasta

[SUHO BIRTHDAY PROJECT] The Three Broomsticks And Its Butterbeer — Len K

 

Junmyeon merasa jenuh kala belajar untuk persiapan N.E.W.T. Lalu datang satu-dua godaan.

“Oke. Jadi kau mau kemana?”

Godaan kali ini terlalu kuat untuk Junmyeon

The Three Broomsticks And Its Butterbeer

Storyline © Len K. Standard disclaimer applied. No profit taken from this fiction

 

Casts : Kim Junmyeon – Suho EXO, Choi Minrin (OC) | Genre : Fantasy, Slice of Life | Rate : T

WARNING!!

HarryPotter!AU, typo(s), rush, possibly OOC

Of course, Harry Potter belongs to J.K. Rowling. But this fanfiction is mine

 

Dedicated to Kim Junmyeon, happy bornday, dude!

 


 

Accio!”

Satu buku Aritmanchy melayang dari raknya dan mendarat dengan manisnya di hadapan Junmyeon yang langsung dilahap oleh Junmyeon.

Perpustakaan malam ini lebih ramai dari biasanya. Terutama anak-anak tahun kelima-keatas karena mereka semua sedang mempersiapkan ujian. Entah itu O.W.L atau N.E.W.T. Dan Junmyeon adalah salah satunya. Nilai-nilainya yang bagus di O.W.L membuatnya menempuh N.E.W.T.

“Jenius sepertimu masih harus belajar ya?” sebuah suara menginterupsi Junmyeon.

Junmyeon mengangkat netranya dari buku yang dibacanya. Ah, dia baru sadar jika di depannya ada Choi Minrin, anak Gryffindor yang sama-sama akan menghadapi N.E.W.T. Bisa dibilang ‘salah satu teman dekat Junmyeon’, bisa juga dibilang ‘orang yang ditaksir Junmyeon dalam diam’. Terlalu asyik membaca membuat Junmyeon lupa akan eksistensi teman-lain-asramanya itu. Junmyeon anak Ravenclaw omong-omong.

“Tidak ada salahnya berusaha, kan?” balas Junmyeon seraya membenahi kacamata bacanya.

“Tapi usahamu seakan mengejekku!”

Junmyeon hanya melempar tatapan heran yang menuntut penjelasan.

“Kau kan, pintar, jenius. Buat apa kau belajar lagi? Toh, nanti kau juga akan ditarik oleh Kementrian untuk bekerja di sana. Karirmu sudah jelas, masa depanmu jelas, tertata.” Kepala Minrin jatuh di buku alkimia.

“Nah, kalau jenius sepertiku saja belajar giat, kau harusnya belajar lebih giat lagi.”

Minrin mengangkat sedikit kepalanya. “Mau kulontarkan salah satu Kutukan Tak Termaafkan untukmu? Dengan senang hati akan kuberi.”

Junmyeon tertawa. “Tidak deh, makasih.”

“Eh-ehm!” deheman keras itu membuat Junmyeon dan Minrin kompak menoleh ke sumber suara. “Kurasa aturan di sini menegaskan setiap pengunjung untuk tidak berisik.”

“Ah, maafkan kami, Madam Pince.” Junmyeon melempar senyumnya pada Madam Pince si pustakawan.

“Sebentar lagi perpustakaan akan ditutup, jadi silahkan kembalikan atau pinjam bukunya dan kembali ke asrama kalian.”

“Baik, Ma’am.”

Dan Madam Pince pergi.

“Kurasa kita harus bergegas. Kau mau pinjam buku itu atau mengembalikannya?” Junmyeon membenahi buku-bukunya, menyusunnya sesuai urutan mana yang akan ia kembalikan dan mana yang akan ia pinjam.

“Aku tidak mau pergi dari sini. Aku tidak bisa belajar dengan tenang di kamarku, teman-temanku sangat berisik meski menghadapi fakta sebagian dari mereka akan ikut N.E.W.T. Di ruang rekreasi juga sama saja, sama-sama berisik.”

“Kalau begitu ikut saja ke asramaku. Kita bisa belajar di ruang rekreasi, atau di salah satu sudut menara Ravenclaw … kau juga tahu kan, kalau menara Ravenclaw punya pemandangan paling spektakuler disbanding asrama lain, terutama di malam yang cerah seperti ini. Ah, tapi kau yang akan menyelesaikan teka-tekinya.”

“Kau gila ya?!” desis Minrin, karena berteriak dilarang disini. “Itu melanggar peraturan tahu! Dan soal teka-teki, tidak, terima kasih.”

“Kalau begitu ayo lekas pergi.”

“Aku tidak mau!” tegas Minrin masih dalam mode desis.

Junmyeon memutar kedua matanya. “Oke. Jadi kau mau kemana?”

Minrin nampak berpikir.

“Ayolah, waktu kita tidak banyak.”

“The Three Broomsticks. Bagaimana?”

Sekarang giliran Junmyeon yang berpikir. Dia harus melahap beberapa materi lagi soal Herbologi, Transfigurasi, Mantra, Aritmanchy, dan Ramuan. Tapi keluar malam-malam begini ke The Three Broomsticks juga menggoda (sekali). Apalagi keluar bersama Minrin. Berdua! Junmyeon dihadapkan oleh pilihan sulit.

“Bagaimana?” Minrin bertanya tidak sabaran.

“Oke. Oke. Ke The Three Broomsticks setelah ini.”

Hampir saja Minrin berseru kegirangan jika tidak diingatkan oleh Junmyeon.

“Tapi bagaimana jika kita ketahuan keluar oleh Mr. Filch?”

“Kau anak yang tertib ya,” kata Minrin. Entah itu sebuah ejekan atau pujian. “Kita tidak akan ketahuan.” Minrin melempar senyum misterius yang membuat Junmyeon bertanya-tanya apa yang gadis itu pikirkan, dan bertanya-tanya mengenai keselamatannya sendiri.

 

Mengendap-endap di sekolah bukanlah hal yang bagus. Terutama dengan Mr. Filch dan kucing peliharaannya yang berkelliaran. Itu yang ada di pikiran Junmyeon. Tapi nyatanya sekarang, ia justru mengendap-endap di tangga dekat kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam bersama Minrin sambil membawa beberapa buku yang barusan ia pinjam.

“Di bawah patung penyihir-bermata-satu ini ada jalan keluar yang langsung menuju ke Honeydukes, lho!”

Yeah, terima kasih informasinya.”

Minrin mengetukkan tongkatnya ke punggung patung penyihir-bermata-satu sambil berucap, “Dissendium.” Kemudian ada celah yang cukup lebar untuk satu orang untuk terjun ke sana dan mendarat entah di mana di Honeydukes.

“Tunggu apa lagi? Cepat!” titah Minrin. “Sebelum Mr. Filch datang!”

“Kau yakin?” Junmyeon sangsi.

“Ayo ke sebelah sana.” Belum sempat Minrin menjawab, sudah terdengar suara Mr. Filch yang berbicara pada kucingnya. Minrin tahu jika sebentar lagi mereka bisa tertangkap jika tidak bergegas.

Minrin memutar bola matanya jengah. Ya ampun, tertib sekali sih, Junmyeon itu. “Sangat!” dan kemudian Minrin menendang Junmyeon sebelum dirinya ikut meluncur. Sebelum mereka ditangkap Mr. Filch.

 

“Kau gila! Benar-benar gila!” Junmyeon berjalan cepat dan masih mengoceh sekeluarnya dari Honeydukes. Masih tidak terima dirinya ditendang paksa begitu oleh Minrin.

“Itu tidak gila. Itu tadi termasuk tindakan pencegahan kalau-kalau Mr. Filch atau kucingnya muncul mendadak—“

“Tapi tidak dengan menendangku begitu!”

“Ya ampun, Kim Junmyeon …” Minrin memberi jeda. “Kalau saja kita tidak lebih cepat tadi, Mr. Filch bisa saja menangkap kita.”

“Untung hanya ada Mr. Filch yang menjaga kastil,” lanjut Minrin.

“Untung?!”

“Ya. Memang kau mau siapa yang menjaga kastil?” ucapan Minrin kembali menemui jeda karena mereka telah tiba di The Three Broomsticks yang cukup ramai malam itu. “Tuan Baron Berdarah? Peeves? Dementor? Mr. Filch masih jauh lebih baik daripada mereka. Apalagi dementor.” Kalimat Minrin berakhir dengan hempasan tubuhnya ke salah satu kursi kosong di sana.

Junmyeon duduk di hadapan Minrin. “Kenapa tidak ke Kamar Kebutuhan saja? Kudengar kita bisa cari jalan keluar dari sana.”

“Ya, itu bisa. Tapi beresiko. Kenapa? Karena yang keluar bisa saja sebuah ruangan yang hangat dengan perapian dan banyak camilan, dengan sofa-sofa dan bantal-bantal yang nyaman untuk belajar jika kau yang menggunakannya,” balas Minrin.

Junmyeon diam tidak membantah. Minrin tidak tahu saja, jika saat ini dirinya tidak ingin belajar. Melainkan ingin pergi berdua seperti ini dengan Minrin. Yah, mungkin nanti yang keluar bukan ruang belajar yang nyaman, tapi malah tempat romantis. Dan Junmyeon tidak ingin itu terjadi. Dia belum siap.

“Ada yang bisa kubantu?” Madam Rosmerta, si pemilik The Three Broomsticks, datang menghampiri meja Junmyeon dan Minrin.

“Aku ingin segelas butterbeer dingin ukuran jumbo. Kau?” Junmyeon bertanya pada Minrin.

“Sama.”

Alright. Dua gelas jumbo butterbeer dingin akan segera datang,” kata Madam Rosmerta sebelum pergi.

Junmyeon dan Minrin diam sejenak. Junmyeon kembali membaca bukunya sementara Minrin memakan Coklat Kodok yang tadi ia beli di Honeydukes bersama manisan-manisan lainnya. Tidak perlu menunggu lama bagi butterbeer pesanan mereka untuk datang.

“Kau makan banyak coklat. Tidak takut gemuk? Butterbeer mu tidak kau minum?” Junmyeon memberondong Minrin setelah menyesap butterbeer-nya.

“Gemuk? Kau lupa ya, aku ini jenis orang yang makan-banyak-tapi-tetap-kurus? Aku akan meminum butterbeerku juga! Tapi tidak sekarang, nanti. Dan memangnya kenapa kalau aku makan banyak coklat? Toh, kau sendiri juga asyik dengan bukumu. Berarti aku juga berhak untuk asyik dengan coklatku, dong!”

“Oke, oke.  Aku tidak akan membaca bukuku lagi.” Junmyeon menutup bukunya dan menaruhnya agak di tepi meja. Yang penting jauh-jauh dari jangkauan Minrin yang nampaknya sedang alergi dengan buku.

“Serius deh. Kenapa sih kau harus membawa buku itu bersamamu?” Minrin menatap tumpukan buku Junmyeon dengan pandangan jengah. “Kenapa kau harus berusaha begitu keras?”

“Kau kenapa?” tanya Junmyeon.

“Apa?”

“Kau kenapa?” ulang Junmyeon.

“Aku kenapa? Aku tidak apa-apa kok!” satu tegukan butterbeer Minrin harap bisa menenangkan dirinya.

“Tidak. Kau tidak tidak apa-apa.” Junmyeon agak mencondongkan tubuhnya. “Kau pikir aku sudah berapa lama mengenalmu, hm? Kau yang sekarang … tidak seperti dirimu yang biasanya. Apa kau sedang PMS?”

Cukup lama Minrin terdiam. Terus menikmati lelehan coklat di mulutnya dengan tangan dilipat di depan dada dan pandangan yang sengaja dibuang dari wajah Junmyeon. Sedangkan Junmyeon, masih tetap pada posisinya, menunggu dengan sabar.

“Kurasa aku tertekan dengan N.E.W.T yang akan kita hadapi.” Akhirnya Minrin buka suara.

“Kenapa? Nilai-nilaimu kan juga tidak buruk waktu O.W.L kemarin. Tidak ada yang dapat T, D, ataupun P kan?”

“Iya. Tapi tidak sebaik dirim—“

“Ssshhh!” telunjuk Junmyeon terangkat. “Sudah berapa kali kubilang, jangan membandingkan dirimu dengan orang lain.”

“Hei, kau lupa kalau kita ini juga rival?”

“Tidak, tentu tidak. Tapi tidak seperti ini. Kau terlalu memforsir dirimu dan itu tidak baik.”

“Tapi Jun, ini bukan hanya sekedar nilai. Ini juga soal karir. Kau sih, enak. Kau mungkin, kemungkinan besar dengan probabilitas tinggi, akan langsung mendapat tawaran dari Kementrian untuk bekerja di sana. Sedangkan aku? Untuk jadi auror saja aku tidak yakin.”

“Seingatku kau tidak ingin jadi auror,” celetuk Junmyeon.

Yeah, ayah dan ibuku yang menyarankan. Bahasa halus dari memaksa.”

“Tidak jauh beda dari dunia Muggle ya? Di dunia Muggle, banyak orang tua yang menuntut anak mereka untuk pergi ke sekolah ini-sekolah itu, masuk jurusan ini-itu, menjadi ini-itu sesuai harapan mereka tanpa mereka sadari jika anak mereka, bukanlah mereka. Anak mereka punya jalannya masing-masing. Tugas orang tua adalah mengarahkan, bukan memaksa. Sebagian anak itu akan menuruti keinginan orang tua mereka, tapi ada yang menolak, memilih mengejar mimpi mereka sendiri. Ada yang terlibat konflik dengan orang tua karenanya, tapi ada juga orang tua yang akhirnya melunak dan mendukung. Kalau dalam kasusmu, kusarankan kau untuk mengikuti passion-mu, menjadi magizoologist,” nasihat Junmyeon.

Minrin tertawa kecil. “Woooww. Seorang Kim Junmyeon yang tertib mengajariku cara untuk memberontak.”

Junmyeon ikut tertawa mendengarnya. “Hei, aku membantumu, oke? Dan itu hanya saran. Rasanya kasihan juga melihatmu tertekan seperti ini. Bagaimana jika kau menjadi gila lalu dikirim ke Azkaban?”

“Oh, terima kasih atas simpatinya.”

“Ya, sama-sama,” balas Junmyeon diselipi tawa. “Tapi kita masih beruntung, kau tahu? Karena untuk lulus dari akademi kita hanya perlu melewati O.W.L atau N.E.W.T. Di dunia Muggle, untuk lulus biasanya para siswa diharuskan membuat satu tugas akhir.”

“Tugas akhir?” kening Minrin berkerut heran.

Raut wajah Junmyeon menggambarkan oh-sial-aku-lupa. Junmyeon lupa jika Minrin ini adalah penyihir berdarah campuran yang sedari kecil tinggal di dunia sihir. Beda dengan dirinya yang seorang penyihir kelahiran muggle yang sudah jelas, sedari kecil ya tinggal di dunia Muggle.

“Ya, tugas akhir. Bentuknya bisa berbeda-beda. Ada yang berupa tulisan ilmiah, penelitian, atau berbentuk proyek sebagai portofolio. Pembuatannya bisa memakan waktu lama. Belum tentu ketika kau menyelesaikan satu tahap akan disetujui oleh pembimbingmu untuk maju ke tahap selanjutnya. Jika tidak disetujui, maka kau harus merevisinya, memulai dari awal lagi, begitu seterusnya sampai disetujui oleh pembimbingmu. Dan untuk menemui pembimbing juga tidak bisa dikatakan mudah. Ada saat ketika pembimbingmu sibuk, kau sudah membuat janji dengan beliau tapi beliau membatalkannya secara sepihak, dan lain sebagainya,” jelas Junmyeon.

Minrin terperangah mendengarnya. “Itu benar-benar mengerikan.”

“Makanya … apa kubilang. N.E.W.T masih lebih baik.”

Well, terima kasih atas petuahnya … juga waktunya, Tuan Kim Junmyeon. Sangat membantu.”

Anytime.” Junmyeon melempar senyum terbaiknya.

Hening sebentar.

“Err … mau tambah butterbeer lagi atau yang lain?” tawar Minrin. Tanpa terasa obrolan mereka sudah menghabiskan satu gelas butterbeer.

“Boleh saja.”

Bukan Junmyeon namanya kalau tidak bisa menahan godaan untuk pergi bersama berdua dengan Minrin seperti sekarang ini.

 

FIN

 

A/N        :

Akhirnya kelaarrrr!! Akhirnya kesampean juga buat bikin fanfiksi EXO pake HarPot!AU ToT I’m so damn happy meski fanfiksi lainnya terbengkalai di folder laptop/dor!/ ditembak/ Dibuat ngebut selama kurang lebih dua jam-an di tengah-tengah hectic-nya jadwal HAHAHAHAHAHA

Buat beberapa istilah HarPot dimari yang nggak paham, bisa googling. Semua ada di mbah gugel 😄 😄 😄

Last but not least, happy bornday Kim Junmyeon! Ya, ya, gitu aja. Adios!

Dan maaf kalo HarPot!AU-nya kurang nendang! :””D

Advertisements

Speak up now!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s